Arus Mudik Lebaran dan Kebun Sawit

“Berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sawit di Sumatera dan Kalimantan telah ikut “meramekan” arus mudik dari Sumatera, Kalimantan ke Pulau Jawa, bukan hanya sebagai tradisi sosial-relegius saja tetapi juga ekonomi”

arus-mudik-lebaran

Pada masa menjelang dan sesudah hari raya Idul Fitri setiap tahun, pelabuhan laut dan bandara  khususnya di Pulau Jawa mengalami kesibukan luar biasa dengan menyambut dan memfasilitasi arus mudik dari luar Pulau Jawa menjelang lebaran dan arus balik mudik ke luar Pulau Jawa setelah lebaran usai.

Perkembangan kebun-kebun sawit yang menggembirakan sejak era reformasi khususnya di Pulau  Sumatera dan Kalimantan telah menarik penduduk (antara lain) dari Pulau Jawa  ke sentra-sentra sawit tersebut. Ada yang  menjadi  petani kebun sawit, karyawan kebun sawit, suplier kebun sawit dan juga pedagang barang-barang/jasa yang diperlukan di sentra-sentra sawit.

Berkembangnya kebun-kebun sawit yang awalnya diinisiasi investor swasta dan BUMN telah menarik masyarakat lokal dan dari daerah lain termasuk dari Pulau Jawa menjadi  petani sawit dan karyawan. Juga menarik bisnis suplier kebutuhan kebun sawit seperti pupuk, pestisida, alat-alat pertanian, bahan-bahan bangunan, alat-alat, furniture kantor dan lain-lain yang sebagian besar dari Pulau Jawa. Tidak hanya itu, pedagang bahan pangan dan warung-warung makan  muncul dan berkembang. Saat ini, tidak sulit menemukan warung-warung makan khas Pulau Jawa seperti warung tegal, pecel lele, soto lamongan, soto betawi, nasi rawon, dan lainnya di kota-kota kecamatan, kabupaten sentra-sentra sawit  di Sumatera dan Kalimantan. Produk tekstil dan perabot rumah tangga yang dihasilkan di Pulau Jawa ikut meramaikan sentra-sentra sawit. Kebun-kebun sawit  telah mengintegrasikan ekonomi Sumatera, Kalimantan dengan Pulau Jawa-Bali.

Perkembangan yang demikian selanjutnya telah  melahirkan  pusat-pusat pertumbuhan baru di daerah-daerah pelosok Sumatera dan Kalimantan yang sebelumnya daerah tertinggal. Ratusan kota-kota kecamatan menggeliat menjadi pusat atau sub-pusat pertumbuhan baru. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi bahkan telah men-declare puluhan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis sawit di Sumatera dan Kalimantan.

Model perkembangan sentra-sentra sawit yang demikian ternyata efektif dan efisien mendistribusikan penduduk dari daerah padat penduduk seperti Pulau Jawa ke daerah jarang penduduk.  Model transmigrasi spontan yang dihela kebun sawit demikian terjadi secara spontan, mandiri, tanpa merepotkan dan memberatkan anggaran pemerintah. Hal ini bertolak belakang dengan model transmigrasi masa Orde Baru, sudah merepotkan dan membebani anggaran pemerintah, namun masih banyak juga yang gagal.

Kini, masyarakat eks Pulau Jawa banyak yang  berhasil menjadi petani sawit, pengusaha kelas menengah suplier kebun maupun pedagang  berbagai barang/jasa di sentra-sentra sawit. Memiliki rumah yang jauh lebih baik dari rumah mereka ketika masih di Pulau Jawa.

Pada musim Lebaran tahun ini sebagian besar mereka akan mudik ke kampung halamannya di Pulau Jawa. Selain mudik sebagai tujuan utama, mereka juga umumnya menyempatkan diri wisata dan shopping untuk dibawa ke daerah sentra-sentra sawit.  Kehadiran mereka tentu akan menambah aliran  darah ekonomi di Pulau Jawa, sehingga roda ekonomi di Pulau Jawa juga makin berputar kencang selama musim lebaran.

Sumber : sawit.or.id