Delegasi RI COP-22 Moroko Perlu Usung Biofuel Sawit

Sebaiknya delegasi RI COP-22 Moroko mempromosikan penggunaan biofuel sawit secara terstruktur, sistematis, dan massif sebagai salah satu solusi penurunan emisi global. Mengemis dana lingkungan dari negara-negara maju untuk penurunan emisi tidak banyak berguna untuk pembangunan

indonesiakita-biodiesel

Direncanakan pada pertemuan para pihak (COP-22) konvensi kerangka kerja PBB untuk perubahan iklim (UNFCCC) akan diselenggarakan 7 November 2016 di Marekesh – Moroko. Dalam pertemuan tersebut masing-masing negara mengajukan komitmen penurunan emisi gas rumah kaca sebagai bagian dari upaya mengatasi pemanasan global dan penurunan iklim.

Salah satu komitmen Internasional yang telah dibangun dalam kerangka UNFCCC selama ini adalah perlunya gerakan global pengurangan emisi gas rumah kaca karbondioksida global untuk mencegah pemanasan global (global warming) yang lebih parah. Pemanasan global harus dihentikan agar perubahan lingkungan global (global climate change) seperti banjir, kekeringan, badai, yang hampir terjadi setiap saat di berbagai negara dapat dihindari atau berkurang. Tentu saja kita sepakat dengan perlunya upaya bersama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca tersebut.

Menurut International Energy Agency (2014), sumber emisi karbondioksida terbesar dunia adalah dari konsumsi energi bahan bakar minyak fosil (fossil fuel) seperti solar/diesel, premium, pertamax, avtur, minyak tanah, gas elpiji dan batubara. Sekitar 70 persen emisi karbondioksida global berasal dari konsumsi energi fosil tersebut. Oleh karena itu, pengurangan konsumsi energi fosil tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh masyarakat dunia, agar emisi karbondioksida tidak meningkat dan bumi tidak makin panas.

Pengurangan konsumsi energi fosil tersebut berarti masyarakat dunia harus mengurangi berbagai kegiatan yang rakus menggunakan energi fosil. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor (transportasi) baik transportasi darat, laut maupun udara harus dikurangi serta pabrik-pabrik harus dilakukan. Demikian juga penggunaan kulkas, AC, pemanas air, pemanas udara dan lain-lain harus dikurangi. Bahkan konsumsi pangan seperti hasil-hasil ternak, dan beras yang ternyata penghasil emisi terbesar pertanian, juga harus dikurangi. Pendek kata kenyamanan, kemewahan atau kesejahteraan hidup harus diturunkan. Sayangnya, tidak seorangpun manusia di planet bumi ini bersedia menurunkan kesejahteraannya.

Jika tidak bersedia menurunkan kesejahteraannya, masih ada solusi lain yakni menggantikan sebagian energi fosil dengan energi biofuel. Solar/diesel diganti dengan biodiesel, premium diganti oleh bioethanol/biopremium, gas alam diganti dengan biogas, bioavtur maupun biolistrik menggantikan avtur dan listrik diesel. Biofuel tersebut lebih ramah lingkungan (emisi karbondioksida rendah) dan dapat diperbaharui (renewable energy).

Sumber biofuel yang tersedia adalah kebun sawit yakni minyak sawit dan biomas sawit. Dari minyak sawit sudah dihasilkan biodiesel (FAME) pengganti solar. Indonesia tahun ini menargetkan penggunaan 20 persen biodiesel (B-20). Kita perlu mempercepat agar penggunaan biodiesel sebagai campuran solar dapat mencapai rata-rata 50 persen (B-50) sehingga mengurangi penggunaan solar.

Sedangkan dari biomas sawit khususnya tandan kosong dapat dihasilkan bioethanol untuk mengganti sebagian premium. Potensi biomas sawit Indonesia saat ini dapat menghasilkan sekitar 16 juta ton bioetanol atau sekitar 40 persen dari kebutuhan premium Indonesia. Selain itu dari limbah PKS sudah dapat dihasilkan biogas untuk pembangkit listrik (biolistrik). Jika penggantian atau pencampuran energi fosil dengan biofuel sawit dapat kita percepat, maka emisi karbondioksida dari konsumsi energi fosil dapat kita turunkan. Sebagiamana hasil study European Commission penggantian solar dengan biodiesel sawit dapat menurunkan sekitar 62 persen emisi karbondioksida solar/diesel. Sehingga target Indonesia menurunkan emisi sebesar 20 persen, mudah dicapai dengan menggunakan biofuel sawit semaksimal mungkin.

Untuk itu, kita perlu mendukung penuh agar penggunaan biofuel sawit sebagai pengganti fossil fuel makin besar baik di Indonesia, di kawasan MEA maupun secara internasional. Oleh karena itu, delegasi Indonesia yang dibiayai oleh uang rakyat perlu mengusung dan mempromosikan biofuel sawit secara terstruktur, sistematis dan massif dalam forum-forum pencegahan perubahan iklim termasuk di Moroko tersebut. Ini seharusnya menjadi target penting bagi delegasi RI. Jika masyarakat dunia tidak bersedia melaksanakan mandatori biofuel dalam konsumsi energi global, sama artinya mendukung terjadinya pemanasan global yang makin parah akibat konsumsi energi fosil yang terus naik.

Source : Indonesiakita.or.id