Ekspansi Kebun Kedelai Dunia dan Moratorium Sawit

Tekanan Asing dan LSM anti sawit untuk menekan Pemerintah RI melakukan moratorium sawit dimaksudkan mengamankan pasar minyak kedelai hasil ekspansi kebun kedelai yang sedang berlangsung secara besar-besaran di Amerika

gapki-tanamanBulan Februari 2016 yang lalu Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mempublikasikan data proyeksi luas kebun kedelai dunia sampai tahun 2025.

Luas kebun kedelai dunia diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 130 juta hektar tahun 2025 dari sekitar 118 juta hektar tahun 2015, atau bertambah sekitar 12 juta hektar dalam 10 tahun kedepan.

Dalam proyeksi USDA tersebut, dua negara Amerika yakni Brazil dan Argentina menjadi negara yang terus melakukan ekspansi kebun kedelai. Kebun kedelai Brazil di proyeksikan meningkat dari sekitar 32 juta hektar tahun 2015 menjadi sekitar 40 juta hektar tahun 2025 atau meningkat sebesar 8 juta hektar dalam 10 tahun kedepan. Sementara kebun kedelai Argentina meningkat dari 19 juta hektar menjadi sekitar 23 juta hektar dalam periode yang sama.

Melalui ekspansi kebun kedelai Brazil tersebut, akan menggeser Amerika Serikat sebagai negara terluas kebun kedelainya. Menuju tahun 2025, urutan negara terluas kebun kedelai adalah Brazil 40 juta hektar, Amerika Serikat 33 juta hektar dan Argentina 23 juta hektar. Sementara kebun sawit Indonesia hanya 11 juta hektar atau sepertiga dari luas kebun kedelai Brazil.

Dengan rencana ekspansi kedelai tersebut, Amerika Selatan tidak menunjukan kedaulatannya dalam membangun negaranya dan tidak mau ditekan oleh kepentingan asing termasuk isu deforestasi. Brazil dan Argentina melanjutkan bahkan makin meningkatkan konversi hutan (deforestasi) yang lebih luas lagi menjadi kebun kedelai. Selama tahun 1990-2008 saja (European Commision, 2011) Amerika Selatan  telah mengkonversi hutan alam sekitar 13,4 juta hektar menjadi kebun kedelai (selain 58 juta hektar untuk ranch sapi). Maka dalam 10 tahun kedepan deforestasi hutan menjadi kebun kedelai masih bertambah 12 juta hektar lagi di Amerika Selatan.

Ekspansi kebun kedelai yang demikian, tentu sangat menguntungkan industri benih kedelai transgenik.  Hampir 90 persen kedelai di Amerika Serikat, Brazil dan Argentina menggunakan benih kedelai transgenik dan Amerika Serikat adalah produsen terbesar benih kedelai transgenik. Sehingga tidak mengherankan bila Amerika Serikat dan jejaring LSM anti sawitnya tidak keberatan jika di benua Amerika Selatan itu terjadi deforestasi besar-besaran untuk perluasan kebun kedelai. Padahal hutan Amerika Selatan merupakan kawasan hutan tropis terluas dan terbesar biodiversity-nya di dunia.

Jika di kawasan Amerika Selatan terjadi ekspansi kebun kedelai dengan konversi hutan alam besar-besaran, di Indonesia justru ekspansi kebun sawit diancam di moratorium.  Moratorium sawit merupakan agenda Barat dengan membayar LSM anti sawit agar menekan pemerintah Indonesia.

Tujuanya agar  minyak sawit berhenti ekspansi sehingga pasar minyak nabati dunia dapat menampung hasil ekspansi kebun kedelai Amerika dengan harga mahal. Jika moratorium kebun sawit benar-benar dilakukan di Indonesia, berarti pemerintah benar-benar tunduk pada agenda asing khususnya agenda produsen minyak kedelai tersebut.

Dari sudut penghematan deforestasi  global, untuk menambah produksi minyak nabati dunia, jauh lebih hemat melalui ekspansi sawit dibandingkan dengan kedelai. Produktivitas minyak sawit  10 kali lebih tinggi dari kedelai, sehingga untuk setiap tambahan satu ton minyak nabati memerlukan tambahan 2 hektar kebun kedelai. Sedangkan kebun sawit cukup seluas 0,2 hektar.

Oleh karena itu kiranya makin jelas bahwa ekspansi kebun kedelai besar-besaran tersebut dengan cara konversi hutan alam, makin membuktikan bahwa Amerika dan jejaring LSM Lingkungan yang selama ini gencar mengkampanyekan pelestarian lingkungan termasuk hutan hanyalah isapan jempol semata. Semuanya adalah mengelabui masyarakat dunia atas kepentingan bisnis yang cukup besar.

Jika Indonesia akhirnya memoratorium sawit atas tekanan barat dan LSM, maka selain tidak memiliki harga diri, naif dan tidak berdaulat, juga menjadi bahan tertawaan negara-negara Barat dan jejaring LSM-nya karena mudah dibodoh-bodohi.

Source : Indonesiakita.or.id