Energi Terbarukan Berbasis Sawit Paling Siap

Energi terbarukan berbasis sawit adalah paling siap, realistis dan memiliki banyak keunggulan/kemanfaatan sosial, ekonomi, ekologi secara berkelanjutan. Saatnya kerja, kerja, dan kerja 

gapki-siap-energiPemerintah telah menetapkan kebijakan energi nasional kedepan yakni mengalihkan dari energi fosil (solar, premium, batubara, gas bumi) yang tidak terbarui (non renewable energy) kepada energi terbarukan (renewable energy).  Energi fosil merupakan energi yang tidak dapat diperbarui, sehingga suatu saat akan habis dan semakin mahal. Cadangan energi fosil kita diperkirakan akan habis menjelang tahun 2050. Selain itu, energi fosil juga menghasilkan emisi karbon dan kontributor utama emisi karbon global. Kerena itu perlu segera beralih ke energi terbarukan yang berkelanjutan dan rendah emisi.

Sawit merupakan sumber energi terbarukan yang paling siap dan memiliki sejumlah keunggulan sebagai pengganti (sebagian) energi fosil kedepan. Indonesia yang saat ini memiliki sekitar 11 juta hektar kebun sawit pada 190 kabupaten, selain sebagai sumber bahan pangan dan biomaterial juga merupakan basis penting mengembangkan industri energi terbarukan di Indonesia.  Berikut sejumlah unggulan sawit sebagai basis energi terbarukan.

Pertama, kebun sawit menyerap karbondioksida dari atmosfir bumi dan memanen energi matahari yang kemudian menyimpannya dalam bentuk energi kimia berupa minyak sawit dan biomas sawit. Sepanjang matahari masih bersinar, energi kimia tersebut akan tetap dihasilkan kebun sawit secara berkesinambungan (energi terbarukan). Dengan kata lain, kebun sawit bukan hanya menghasilkan energi terbarukan tetapi juga sekaligus menyerap karbon dari udara bumi yang selama ini dikotori oleh penggunaan energi fosil.

Kedua, produksi energi (minyak sawit dan biomas) berlangsung secara berkesinambungan. Siklus produksi kebun sawit berlangsung sampai 25 tahun baru kemudian di replanting. Dengan pengaturan komposisi tanaman sebagaimana dilakukan selama ini, produksi energi tersebut akan stabil dan terus menerus. Keunggulan kesinambungan produksi sawit tersebut tidak ditemukan pada bahan bioenergi lainya seperti jagung, ubi kayu, dan lain-lain.

Kedua, dari minyak sawit dihasilkan biodiesel (pengganti solar) dan butanol (pengganti avtur). Produksi minyak sawit kita saat ini sekitar 32 juta ton. Jika 50 persen minyak sawit dijadikan biodiesel maka sekitar 16 juta kilo liter biodiesel dapat dihasilkan setiap tahun. Dengan produksi biodiesel sebesar itu mampu mengganti 50 persen solar yang kita impor.

Ketiga, selain menghasilkan minyak sawit, kebun sawit juga menghasilkan biomas sawit (tandan kosong, cangkang, lumpur sawit, pelepah, batang). Dari 11 juta hektar kebun sawit dapat menghasilkan sekitar 182 juta ton bahan kering biomas. Dengan teknologi fermentasi dari volume biomas sawit tersebut dapat dihasilkan sekitar 27 juta ton bioetanol atau biopremium (menggantikan premium).  Selain itu, melalui teknologi biogas pada kolam lumpur limbah sawit juga dapat menghasilkan biogas (pengganti gas alam) sekitar 4.1 milliar kubik atau dapat mengahasilkan biolistrik.

Keempat, produksi minyak sawit, biodiesel, dan biomas sawit tersebut terjadi pada 190 kabupaten sentra kebun sawit sehingga telah terdistribusi secara alamiah mengikuti sebaran kebun sawit. Dari tanki-tanki biodiesel dan biopremium di sentra sawit, dialirkan ke depo-depo Pertamina yang ada di daerah-daerah tersebut untuk diblending. Untuk Pulau Jawa yang tidak memiliki kebun sawit, selama ini di kota-kota pelabuhan Pulau Jawa telah berdiri tanki-tanki CPO, sehingga tinggal diolah menjadi biodiesel. Kemudian dari depo-depo tersebut dialirkan ke SPBU yang ada didaerah-daerah tersebut. Hal ini jauh menguntungkan karena akan menghemat biaya distribusi energi yang cukup besar selama ini.

Kelima, energi terbarukan berbasis sawit tersebut tidak mengganggu penyediaan bahan pangan (food-fuel trade-off). Produksi minyak sawit yang kita miliki akan cukup untuk bahan pangan, biomaterial maupun untuk biodiesel. Apalagi biopremium dari biomas sawit yang merupakan produk sampingan dari minyak sawit, sehingga selain murah juga sama sekali tidak bersaing dengan kebutuhan pangan.

Keenam, energi terbarukan berbasis sawit tersebut sangat ramah lingkungan. Penggantian solar dengan biodisel saja menghemat emisi sekitar 60 persen. Sementara penggantian premium dengan biopremium dapat menghemat emisi sampai 90 persen. Belum lagi penghematan emisi dari distribusi biodiesel dan biopremium yang telah terdistribusi secara alamiah. Maka emisi dari energi fosil yang merupakan sumber emisi terbesar selama ini dapat dihemat setidaknya 50 persen.

Ketujuh, Energi terbarukan berbasis sawit tersebut selain menyediakan energi terbarukan, proses produksinya juga melibatkan banyak rakyat dan telah terbukti meningkatkan pendapatan rakyat, menciptakan kesempatan kerja luas, membangun daerah tertinggal/pinggiran, dan menurunkan kemiskinan. Hal ini tidak dinikmati baik dalam proses produksi energi fosil selama ini maupun energi terbarukan yang lain.

Dengan keunggulan dan kesiapan industri sawit sebagai energi terbarukan yang demikian, seharusnya pemerintah tidak perlu lagi cari-cari energi tebarukan yang lain. Yang diperlukan komitmen tinggi, konsistensi untuk kerja, kerja, dan kerja.

Pemerintah memang sudah memulainya. Biodiesel sebagai pengganti solar, sudah digunakan di Indonesia saat ini melalui kebijakan mandatori biodiesel B-20 yakni untuk setiap liter solar yang dibeli di SPBU, telah mengandung biodiesel sebesar 20 persen. Karena itu di SPBU namanya bukan lagi solar tetapi biosolar. Mulai tahun 2020 campuran biodiesel akan dinaikkan menjadi 30 persen (B-30) dan seterusnya.

Untuk menghasilkan biopremium berbasis sawit seharusnya sudah harus dimulai. Kebijakanya sudah ada. Dananya bisa digunakan sebagian Dana Sawit. Mengapa tidak mulai kerja, kerja , dan kerja? Tunggu apa lagi?

Source : Sawit.or.id