Harga CPO Global Terpuruk, Ekspor Indonesia Stagnan

web logo

SIARAN PERS
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Harga CPO Global Terpuruk, Ekspor Indonesia Stagnan

Agustus ini, untuk pertama kalinya harga CPO global jatuh pada level terendah sejak enam tahun terakhir. Harga CPO jatuh di bawah US$ 600 per metrik ton. Rendahnya harga CPO global tidak serta merta mendongkrak volume ekspor minyak sawit Indonesia. Ekspor minyak sawit Indonesia justru stagnan. Hal yang sama juga terjadi pada ekspor minyak sawit Negeri Jiran Malaysia. Ekspor minyak sawit Indonesia hanya naik 0,6% di Agustus ini dibandingkan bulan lalu, sedangkan ekspor minyak sawit Malaysia hanya naik 0,5% pada periode yang sama.

Volume ekspor minyak sawit Indonesia pada Agustus lalu tercatat sebesar 2,10 juta ton atau terkerek 0,6% atau dari 2,09 juta ton pada Juli. Ekspor minyak sawit Indonesia stagnan pada saat harga CPO berada pada posisi harga terendah karena lemahnya daya beli dari pasar ekspor utama Indonesia yaitu China, India dan Uni Eropa.

Pada Agustus ini, negara-negara di Uni Eropa mengurangi permintaannya akan minyak sawit cukup signifikan. Ekspor minyak sawit ke Benua Biru ini tercatat turun 30% persen dibandingkan bulan sebelumnya, atau dari 380,13 ribu ton pada Juli turun menjadi 264,55 ribu ton pada Agustus. Rendahnya permintaan Uni Eropa dipicu oleh jatuhnya harga minyak biji-bijian khususnya kedelai yang merupakan minyak nabati yang lebih populer dan minyak nabati yang utama digunakan di negara-negara Uni Eropa sehingga pangsa pasar diambil alih oleh minyak kedelai.

Penurunan permintaan minyak sawit diikuti oleh China, yang mencatatkan penurunan sebesar 26% atau dari 407,33 ribu ton pada Juli menjadi 301,47 ribu ton pada Agustus. Hal yang sama juga diikuti India yang membukukan penurunan 19% atau dari 427,34 ribu ton pada Juli turun menjadi 355,49 ribu ton pada Agustus.

Negeri Tirai Bambu menurunkan impor minyak sawitnya karena lesunya ekonomi di negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi yang melambat menjadi pemicu utama dan diikuti juga devaluasi mata uang Negeri Panda ini. Hal yang sama juga terjadi di negeri Bollywood, pertumbuhan yang melambat menjadi penyebab lesunya daya beli.

Pasar minyak sawit Indonesia yang terus menunjukkan peningkatan permintaan datang dari Amerika Serikat (AS). Ekspor minyak sawit Indonesia ke AS pada Agustus meningkat 60% dibanding Juli, atau dari 58,7 ribu ton di Juli meningkat menjadi 93,65 ribu ton pada Agustus. Pemberlakuan efektif pelarangan penggunanan trans fat atau lemak trans dalam produk makanan oleh Badan Administrasi Obat dan Makanan (Food and Drug Administration–FDA) telah mendongkrak permintaan minyak sawit dari Negeri Paman Sam karena minyak sawit adalah salah satu minyak yang tidak mengandung lemak trans sehingga menjadi alternatif pengganti minyak nabati lain yang mengandung lemak trans. Harga yang murah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya juga menjadi faktor pendorong kenaikan permintaan.

Pada Agustus ini Bangladesh membukukan permintaan yang sangat signifikan untuk minyak sawit dari Indonesia. Agustus ini Bangladesh mengerek impor minyak sawit dari Indonesia sebesar 257% atau dari 47 ribu ton pada Juli naik menjadi 167,55 ribu ton pada Agustus. Meningkatnya permintaan yang signifikan dari Bangladesh karena stok minyak nabati di dalam negeri yang sudah menipis dan pada saat yang sama harga minyak sawit sedang pada level terendah sehingga traders Bangladesh mengambil kesempatan untuk membeli minyak sawit lebih banyak daripada biasanya.

Sepanjang Agustus harga CPO global bergerak di kisaran US$ 590 – US$ 480 per metrik ton. Tren penurunan harga terus berlangsung mulai dari pekan pertama hingga pertengahan pekan keempat dimana harga telah jatuh di titik terendah yaitu US$ 480 per metrik ton. Sedangkan harga rata-rata CPO global pada Agustus terjerembab di US$ 539,3 per metrik ton atau turun 15% dibandingkan dengan harga rata-rata Juli lalu yaitu US$ 630,6 per metrik ton. Jatuhnya harga selain disebabkan lemahnya permintaan pasar global juga disebabkan perkiraan meningkatnya stok minyak sawit di negeri penghasil utama minyak sawit Indonesia dan Malaysia.

Efek El Nino yang melanda Indonesia dan Malaysia sejak Juli hingga September ini diperkirakan memiliki dampak terhadap produksi sebagian wilayah Indonesia dan berangsur mulai mendongkrak harga diawal dua pekan pertama September 2015. Harga minyak sawit global yang terpuruk mulai merangkak naik dan bergerak dikisaran US$ 500 – US$ 520 per metrik ton pada 2 pekan pertama September. GAPKI terus menyarankan dan mendorong pemerintah agar penyerapan biodiesel segera dipercepat sesuai target yang telah ditetapkan. GAPKI juga mendorong penyerapan biodiesel tidak hanya untuk transportasi (PSO), tetapi juga untuk industri (Non-PSO) yang selama ini masih berjalan tersendat-sendat apalagi di sektor tenaga listrik (PLN) yang penyerapannya sangat rendah padahal mandatori pencampuran di sektor kelistrikan ini sebesar 25%. Hal ini dipercaya akan mengangkat harga CPO lebih tinggi lagi karena pasokan ke pasar global dipastikan berkurang jika penyerapan di dalam negeri tinggi.

GAPKI memperkirakan harga harian CPO sampai akhir September akan bergerakan di kisaran US$ 510 – US$ 550 per metrik ton dengan harapan Pertamina tetap pada komitmen untuk terus menyerap biodiesel.

Sementara itu Bea Keluar September 2015 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar 0% dengan referensi harga rata-rata tertimbang (CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar US$ 610,65 per metrik ton. Dengan melihat tren harga CPO global yang bergerak di bawah US$ 750 per metrik ton, GAPKI memperkirakan tidak ada pengenaan Bea Keluar untuk ekspor CPO dan turunannya sepanjang bulan September dan Oktober 2015. Para eksportir hanya dikenakan pungutan CPO Fund saja

Jakarta, 15 September 2015
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Informasi lebih lanjut,hubungi:

Fadhil Hasan
Direktur Eksekutif GAPKI
Tel. 021-57943871, Fax. 021-57943872