Indonesia memiliki tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan pada tingkat perusahaan/petani

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikelola dengan mengacu pada prinsip-prinsip manajemen/kultur teknis yang disesuaikan dengan kondisi lokal (tailor made) dan kebijakan tata kelola pembangunan perkebunan secara keseluruhan. Seluruh mata rantai proses produksi memiliki standar proses dan output.

Pada mata rantai proses produksi TBS (mulai dari penanaman, pemeliharaan, pemanenan) mengacu pada manajemen perkebunan terbaik (Good Agriculture Practices) dan ISO. Pada proses produksi CPO di PKS (CPO mill) maupun industri hilir minyak sawit juga mengacu pada manajeman pabrik pengolahan terbaik (Good Manufacturing Practices) dan ISO. Sedangkan standar kualitas produk mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI).

level-perusahaan
Implementasi Tata Kelola Perkebunan Kelapa Sawit pada Level Perusahaan

Tata kelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia mulai dari level kebijakan, industri dan level perkebunan diintegrasikan dan diimplementasikan dalam satu sistem yang bernama Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). ISPO memiliki tujuh prinsip yang diterjemahkan menjadi ratusan indikator (kriteria).

foto-gapki-tata-kelola-sawit
Sistem Tata kelola Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO)

Pengujian tingkat pelaksanaan tata kelola perkebunan ditingkat perusahaan dilakukan secara periodik melalui penilaian/sertifikasi seperti SMK 3, Klasifikasi Perkebunan, SNI, Sertifikasi ISO, Good Corporate Governance dan Sertifikasi ISPO/RSPO. Dengan demikian, tuduhan bahwa perkebunan kelapa sawit Indonesia tidak memiliki tata kelola pada level perusahaan adalah tidak benar. Sebaliknya tata kelola pada level perusahaan telah on the right tract dengan standar-standar internasional. Tentu saja belum ideal dan masih banyak yang harus diperbaiki ke depan.

Source : Mitos & Fakta / PASPI