Jika Sawit Dimoratorium: Minyak Kedelai Kalahkan Minyak Sawit Sebelum 2025

Kampanye negatif dan moratorium sawit oleh LSM anti sawit dimaksudkan untuk mempersiapkan pasar bagi ekspansi kebun kedelai Amerika secara besar-besaran menuju 2025

gapki-sawit-vs-kedelai

Bagaimana menekan ekspansi minyak sawit dunia merupakan target negara-negara produsen minyak kedelai utama dunia sejak tahun 1980. Berbagai kampanye negatif dan hitam terhadap minyak sawit gencar dilakukan negara produsen minyak kedelai melalui jejaring LSM baik secara internasional maupun langsung menekan negara-negara produsen minyak sawit seperti Indonesia dan Malaysia.

Dengan mengusung berbagai isu seperti kesehatan, isu sosial, isu biodiversity, isu emisi, isu deforestasi, kebakaran hutan/lahan, sustainability dan lain-lain dituduhkan ke perkebunan sawit khususnya Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar dunia. Muara dari isu-isu tersebut adalah tiga hal utama yakni membuat citra buruk minyak sawit, meningkatkan biaya produksi minyak sawit dan menghentikan ekspansi kebun sawit (moratorium sawit).

Melalui pengguliran isu-isu tersebut, mengalihkan perhatian dunia (termasuk LSM dunia) kepada minyak sawit, sehingga negara-negara produsen minyak kedelai leluasa melakukan ekspansi kebun kedelai di Amerika Selatan khususnya Brazil dan Argentina dengan deforestasi hutan besar-besaran yang didukung industri benih kedelai transgenik Amerika Serikat.

Mengacu pada proyeksi minyak kedelai yang dikeluarkan United State Departemen of Agriculture (USDA) Februari 2016 lalu, luas kebun kedelai dunia akan meningkat dari 118 juta hektar tahun 2015 menjadi sekitar 130 juta hektar tahun 2025, dimana sekitar 10 juta hektar ekspansi kebun kedelai terjadi di Brazil dan Argentina dengan menggunakan benih kedelai transgenik.  Sehingga produksi setara minyak kedelai dunia akan meningkat dari 58 juta ton (2015) menjadi sekitar 70 juta ton (2025).

Pada periode yang sama, jika Indonesia tunduk pada tekanan asing tersebut dan memoratorium sawit, maka pada tahun 2025 luas kebun sawit dunia hanya sekitar 19 juta hektar dimana sekitar 16 juta hektar tanaman menghasilkan, sehingga  produksi CPO dunia pada tahun 2025 hanya sekitar 64 juta ton.

Dengan demikian sebelum  tahun 2025, produksi minyak kedelai akan mengalahkan minyak sawit dunia. Hal inilah target negara-negara produsen minyak kedelai dunia khususnya Amerika Selatan dan Amerika Serikat (70 persen kedelai dunia) yang membiayai besar-besaran LSM anti sawit  untuk melakukan  kampanye negatif/hitam terhadap minyak sawit selama ini.

LSM anti sawit dibiayai agar menutup mata rencana deforestasi besar-besaran (sekitar 12 juta hektar) untuk ekspansi kebun kedelai di Amerika Selatan. Dibiayai untuk menggunakan “kaca mata kuda” negatif melihat kebun sawit di Indonesia, mencegah  kebun sawit ekspansi sehingga pasar minyak kedelai hasil ekspansi besar-besaran tersebut tidak terganggu kedepan.

Pemerintah Indonesia perlu sadar akan hal tersebut. Data USDA tersebut menunjukkan bahwa tekanan moratorium sawit dari LSM anti sawit adalah untuk memuluskan ekspansi kebun kedelai besar-besaran di Amerika Selatan agar pasar  benih kedelai transgenik dari Amerika Serikat terjamin.

Source : Sawit.or.id