Kebun Sawit Meningkatkan Bahan Organik Lahan

Kampanye negatif bahwa penanaman sawit akan membuat lahan menjadi gurun sangat tidak berdasar baik dari nalar sehat maupun bukti emperis

Salah satu propaganda jejaring LSM di daerah-daerah perkebunan kelapa sawit selama ini adalah membangun opini bahwa jika lahan ditanami kelapa sawit maka suatu saat lahan tersebut akan menjadi tandus seperti gurun. Banyak masyarakat yang kemudian mempertanyakan propaganda LSM tersebut.

gapki-sawit-penghijauanIronisnya, sebagian akademisi kampus yang memiliki nalar rasional, pendidikan tinggi dan memiliki rasa ingin tahu tinggi, termakan juga oleh propaganda tersebut. Bahkan pernah ada kasus di salah satu perguruan tinggi negeri, mahasiswa pasca sarjana harus mengulang ujian karena mahasiswa tersebut memiliki sikap kritis, dan tidak sependapat dengan dosen pembimbingnya yang termakan propaganda LSM tersebut.

Nalar umum (common sense) saja sangat mudah memahami bahwa tanaman apa pun di planet bumi ini berfungsi sebagai pelestarian lingkungan hidup. Tidak ada satu teori pun maupun kitab suci yang mengatakan tanaman itu merusak lingkungan. Tumbuhan/tanaman diciptakan oleh Tuhan. Masa Tuhan menciptakan yang membuat planet bumi tandus? Bahkan sebaliknya, kita diminta menanam tanaman apa saja untuk perbaikan lingkungan. Gerakan tanam sejuta tanaman/pohon sejak dahulu sering digerakkan oleh para pejabat temasuk aktivis lingkungan. Di negara-negara arab yang banyak gurun, justru sedang berupaya dihijaukan dengan menanam tanaman termasuk tanaman palma yakni Kurma.

Bagi yang tidak puas dengan common sense, dapat melihat langsung bagaimana kebenarannya secara emperis. Indonesia sejak tahun 1911 (104 tahun lalu) sudah mengembangkan perkebunan kelapa sawit yakni di Pulu Raja (Asahan, Sumut), Tanah Itam Ulu (Kab.Batubara, Sumut) dan Sei Liput (Aceh) yang sampai sekarang masih kebun sawit dan tidak berubah menjadi gurun. Bahkan sebaliknya kebun sawit yang ada justru produktivitasnya semakin meningkat.

Banyak penelitian juga membuktikan bahwa biomas (salah satu komponen penting kesuburan lahan ) pada kebun sawit meningkat dengan semakin tua umur kelapa sawit. Chan (2002) dalam penelitiannya yang berjudul: Oil Palm Carbon Sequestration and Carbon Accounting, mengungkapkan bahwa dengan semakin tua umur kelapa sawit volume biomas yang terbentuk makin meningkat. Tanaman kelapa sawit umur 4 tahun, menghasilkan biomas sekitar 40 ton per hektar/tahun, kemudian meningkat menjadi sekitar 93 ton pada umur 15 tahun. Pada saat umur 24 tahun (umur peremajaan kembali) volume biomas mencapai puncak yakni sekitar 113 ton/ha/tahun. Dan ketika diremajakan kembali, biomas tersebut dibiarkan di lahan untuk kesuburan lahan.

Kemudian, dari biomas yang dipanen berupa buah sawit (Tandan Buah Segar) sebagian besar kembali ke lahan. Jika produksi buah sawit 24 ton/ha/tahun, maka minyak sawit yang diambil (dijual) hanya sekitar 5 ton dan 19 ton sisanya merupakan biomas yakni berupa tandan kosong, cangkang dan lumpur (sludge) yang semuanya dikembalikan ke lahan agar tetap subur. Selain dari penambahan biomas tersebut, untuk mempertahankan kesuburan lahan juga dilakukan penambahan kesuburan lahan melaui pemupukan sesuai dengan umur dan produktivitas tanaman.

Bagi LSM anti sawit juga dapat mempelajarinya dari pengalaman Amerika Serikat dengan kebun kedelainya. Kebun kedelai Amerika Serikat saat ini yang luasnya 34 juta hektar, sudah berumur lebih dari 100 tahun. Kebun kedelai hanya menghasilkan biomas yang jauh lebih kecil (sekitar 20 persen) dari biomas yang dihasilkan kebun sawit. Apakah kebun kedelai Amerika Serikat sekarang berubah menjadi gurun-tandus? Tentu tidak bukan. Jika kebun kedelai yang biomasnya hanya sedikit saja kembali ke lahan (dibanding kebun sawit) tidak menjadi gurun, kenapa LSM mempropaganda bahwa kebun sawit akan jadi gurun?

Source : Indonesiakita.or.id