Kebun Sawit: Wariskan “Kue Kehidupan” Lintas Generasi

Pembudidayaan kelapa sawit dalam bentuk kebun sawit telah terbukti dapat mengembangkan multifungsi dan multibenefit sawit serta melestarikannya dari generasi ke generasi

Kehidupan manusia di planet bumi bukanlah warisan nenek moyang kita melainkan pinjaman dari anak cucu kita. Kehidupan manusia di planet bumi bukan hanya berlangsung hari ini saja melainkan berlangsung terus secara lintas generasi. Oleh karena itu, tugas manusia yang hidup saat ini tidak cukup hanya mewariskan sumber kehidupan untuk generasi berikutnya tetapi hendaklah mewariskan sumber kehidupan yang lebih besar bagi generasi anak cucu kita.

gapki-anak-lariTanaman kelapa sawit di Indonesia berawal dari hanya empat pohon di kebun raya Bogor tahun 1848. Jika hanya keempat pohon itu yang dilestarikan sampai sekarang maka kita hanya dapat menikmati tanaman kelapa sebagai koleksi kebun raya bogor saja yang sudah punah dimakan waktu itu. Dan dipastikan masyarakat dunia tidak dapat menikmati minyak goreng, shampo, sabun, dan biodiesel dan seterusnya.

Untunglah para pendahulu kita mengembangkan keempat pohon kelapa sawit dari Kebun Raya Bogor tersebut dalam bentuk pembudidayaan kelapa sawit yang kini kita sebut perkebunan kelapa sawit atau disingkat kebun sawit. Melalui pengembangan kebun sawit sejak 100 tahun yang lalu, dari empat pohon sawit dikembangkan menjadi 10 juta hektar atau sekitar 1.5 miliar pohon sawit dan puluhan varietas saat ini. Tanaman kelapa sawit tidak hanya dapat dilestarikan tetapi juga memberi manfaat yang lebih besar dan meluas dinikmati masyarakat dunia saat ini.

Melalui pengembangan kebun sawit, multifungsi kebun sawit dapat dihadirkan dalam kehidupan yakni fungsi ekonomi (white function), fungsi “paru-paru “atmosfir (green function), fungsi tata air (blue function) dan fungsi sosial (yellow function). Berkembangnya multifungsi kebun sawit itu, membuat kita dapat memanen multibenefit yang lebih besar dan lebih luas. Berupa minyak sawit sebagai bahan pangan maupun non pangan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, peningkatan pendapatan, pengurangan kemiskinan dan seterusnya. Jutaan orang yang terbebas dari kemiskinan akibat sawit.

Tidak hanya itu, melalui peran ekologis kebun sawit sebagai “paru-paru” atmosfir, sampah masyarakat dunia setiap detik berupa polusi karbondioksida sebagian dibersihkan dan digantikan dengan oksigen yang diperlukan kehidupan masyarakat dunia. Dengan 10 juta hektar kebun sawit Indonesia membersihkan polusi karbondioksida sekitar 4.4 juta ton dan menghasilkan sekitar 500 ribu ton oksigen setiap hari.

Pengembangan kebun sawit masih terus berlanjut baik perbaikan kultur teknis, varietas maupun hilirisasi memperbesar kapasitas “mesin” multifungsi kebun sawit untuk menghasilkan multibenefit bagi generasi anak-cucu kita kedepan. Peningkatan produktivitas kebun sawit sama artinya dengan meningkatkan kapasitas “mesin” kebun sawit untuk menghasilkan minyak, menciptakan kesempatan kerja, menciptakan pendapatan, mengurangi kemiskinan dan memperbesar kapasitas “paru-paru” atmosfir bumi. Melalui hilirisasi minyak sawit juga berarti memperluas dayaguna dan manfaat minyak sawit.

Generasi masyarakat yang menaikmati multimanfaat kebun sawit saat ini, patut berterimakasih kepada para pendahulu baik ilmuan, pengusaha, petani sawit dan pemerintah yang telah mengembagkan kebun sawit selama 100 tahun lebih ke belakang. Maka generasi saat ini wajib memperbesar dan memperluas multibenefit kebun sawit untuk diwariskan sebagai sumber kehidupan kegenerasi berikutnya.

Source: Sawit.or.id