Kelapa Sawit Tanaman Konservasi Tanah dan Air

Tanah di bawah kelapa sawit tersusun oleh sistem pori-pori tanah oleh aktifitas perakaran pohon sawit, yang efektif untuk konservasi tanah dan air serta mencegah erosi tanah

gapki-tanah-dan-air

Dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Konservasi Tanah dan Air Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara tahun 2007, Prof. Dr. Ir. Erwin M. Harahap, mengungkapkan bahwa tanaman kelapa sawit memenuhi syarat sebagai tanaman konservasi tanah dan air.

Dalam orasi ilmiah yang berjudul “Peranan Kelapa Sawit dalam Konservasi Tanah dan Air” yang juga bagian dari Disertasi Doktor beliau di Institut Pertanian Bogor tahun 1999, mengungkapkan antara lain bahwa kelapa sawit memiliki sistem perakaran yang massif dan membentuk pori-pori di dalam tanah yang berfungsi sebagai penyimpan bahan organik dan cadangan air. Semakin meningkat umur tanaman sawit, semakin luas dan dalam perakarannya sehingga pori-pori tanah yang terbentuk juga makin besar sehingga bahan organik dan air tanah yang tersimpan juga semakin besar. Pada tanaman sawit yang sudah dewasa, perakaran kelapa sawit mencapai lebih dari 5 meter dan dengan kedalaman lebih dari 5 meter dari pangkal batang pohon sawit.

Dengan demikian tanah di bawah setiap pohon kelapa sawit dipenuhi oleh pori-pori tanah baik secara vertikal maupun horizontal. Hal ini juga berarti bahwa dibawah suatu hamparan kebun kelapa sawit, tersusun atas pori-pori tanah yang berfungsi menyimpan bahan organik dan cadangan air tanah. Adanya sistem pori-pori tanah dibawah kebun sawit yang demikian meningkatkan kemampuan lahan dalam menyimpan air (water holding capacity) sehingga efektif mengurangi aliran air permukaan (water runoff). Ketika hujan datang, air tidak langsung mengalir (menekan erosi tanah) melainkan terserap (infiltrasi) ke dalam tanah dan mengisi pori-pori tanah. Ketika musim kering, cadangan air dalam pori-pori tanah tersebut dilepas perlahan lahan sehingga air masih tersedia pada musim kering.

Hal lain yang menarik lagi adalah hasil penelitian Prof. Harahap pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Barumun sebelum dan sesudah dikembangkan kebun sawit. Sebelum kebun sawit dikembangkan masyarakat di DAS Barumun, daerah tersebut sering mengalami kekeringan ketika musim kemarau dan banjir di musim hujan. Namun setelah berkembang kebun sawit, DAS tersebut makin baik hidrogafnya yakni pada musim hujan tidak terjadi kebanjiran dan pada musim kemarau air masih cukup banyak mengalir. Kenapa bisa begitu ? Karena adanya sistem pori-pori tanah yang dibangun aktifitas perakaran kebun sawit sebagaimana diuraikan diatas.

Hasil studi empiris Prof. Harahap tersebut menambah bukti-bukti empiris yang menolak tuduhan bahwa kebun sawit menyebabkan kekeringan dan banjir. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang memenuhi syarat sebagai tanaman konservasi tanah dan air. Dengan kata lain, perkebunan kelapa sawit merupakan bagian penting dari program konservasi tanah dan air.

Source : Sawit.or.id