Manfaat Kebun Sawit Bagi Masyarakat Di Pulau Jawa-Bali

Daerah kebun-kebun sawit di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi merupakan pemutar roda ekonomi Jawa-Bali

gapki1406-contentKebun sawit berkembang di luar Pulau Jawa-Bali khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Sepintas, perkembangan kebun sawit tersebut tidak ada kaitanya dengan masyarakat di Pulau Jawa-Bali. Dalam kenyataannya tidaklah demikian. Sebab, industri hilir sawit seperti minyak goreng, mentega, sabun/detergen, shampo dan lain-lain sebagian besar pasarnya berada di Pulau Jawa-Bali. Jika kebun sawit di luar Jawa-Bali berkembang, akan memutar cepat industri hilir dan perdagangan produk sawit di Jawa-Bali. Tidak hanya roda ekonomi Jawa-Bali yang berkembang, ketersediaan minyak goreng, sabun, shampo juga terjamin hingga ke pelosok-pelosok di Jawa-Bali.

Jangan lupa juga bahwa karyawan kebun sawit bahkan sebagian pemilik kebun sawit yang ada di Sumatera dan Kalimantan adalah dari Jawa-Bali. Sehingga pendapatan dan keuntungan yang diperoleh dari kebun sawit sebagian mengalir dan diinvestasikan di Pulau Jawa-Bali. Selain menjadi petani sawit dan karyawan, masyarakat dari Jawa juga banyak yang mengembangkan warung-warung makan di daerah sentra sawit di Sumatera dan Kalimantan. Warteg, warung Pecel Lele dan warung-warung makan yang biasa kita jumpai di Jawa, saat ini bertaburan di daerah-daerah kebun sawit di Sumatera dan Kalimantan.

gapki1406-content-2Hal-hal yang disebutkan diatas masih sebagian dari manfaat ekonomi kebun sawit Sumatera, Kalimantan bagi masyarakat di Jawa-Bali. Manfaat yang tidak kalah pentingnya bahkan jauh lebih besar adalah keterkaitan ekonomi Jawa-Bali dengan kebun-kebun sawit di Sumatera dan Kalimantan. Jika kebun-kebun sawit di luar Jawa berkembang, dampak ekonomi putaran pertama (indirect effect) akan meningkatnya kebutuhan barang modal bagi kebun-kebun sawit seperti pupuk, pestisida, alat-alat pertanian, jasa angkutan dan lain-lain. Sebagian besar barang modal untuk kebun-kebun sawit dihasilkan dari  Jawa. Ini juga menambah putaran ekonomi Jawa. Putaran kedua, dengan berkembangnya kebun-kebun sawit tersebut telah meningkatkan pendapatan, baik yang bekerja secara langsung di kebun-kebun sawit maupun pendapatan mereka yang bekerja pada usaha supplier barang-barang/jasa yang dibutuhkan kebun-kebun sawit. Peningkatan pendapatan tersebut akan meningkatkan konsumsi  bahan pangan (segar dan olahan), pakaian, alat-alat elektronik/IT, perabot rumah tangga, jasa-jasa  dan seterusnya yang sebagian besar dihasilkan dari Jawa-Bali. Ini namanya dampak induksi konsumsi (consumption induced).

Keterkaitan antara ekonomi Jawa-Bali dengan kebun-kebun sawit di Sumatera dan Kalimantan tercermin dari banyaknya (bahkan sampai antrian) truk-truk pengangkut barang yang dihasilkan masyarakat di Pulau Jawa-Bali  menuju Pulau Sumatera dan Kalimantan setiap hari. Kegiatan Pelabuhan Merak, pelabuhan Semarang, dan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang setiap hari sibuk dan makin sibuk untuk mengangkut barang menuju Sumatera dan Kalimantan. Selain itu, dapat disaksikan banyaknya jumlah orang yang mudik (menjelang Idul Fitri) dari Sumatera dan Kalimantan menuju Jawa-Bali. Dan sebaliknya juga terjadi arus balik mudik dari Jawa ke Sumatera dan Kalimantan setelah Idul Fitri.

Dengan kata lain, daerah-daerah sawit di Sumatera dan Kalimantan merupakan pasar bagi produk-produk  yang dihasilkan dari Jawa-Bali. Semakin berkembang kebun-kebun sawit di Sumatera dan Kalimantan, semakin cepat juga berputarnya roda ekonomi Jawa-Bali. Sebaliknya, jika kebun-kebun sawit terganggu atau terhambat perkembangannya, maka dengan cepat juga memperlambat putaran roda ekonomi Jawa-Bali. Bank Indonesia sudah sering menyampaikan hal ini bahwa ekonomi Jawa-Bali ditarik oleh ekonomi Sumatera dan Kalimantan.

Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah menyebut industri sawit merupakan salah satu industri strategis di Indonesia. Industri bukan hanya penting bagi pelaku langsung dan bagi daerah dimana kebun sawit berkembang, melainkan juga menjadi lokomotif bagi perekonomian sektor-sektor dan daerah-daerah lain dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, Industri startegis tersebut perlu dirawat dan dijaga oleh seluruh rakyat Indonesia.

Sumber : Sawit.or.id