Minyak Sawit Cegah Harga Tempe/Tahu Mahal

Keberhasilan Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia, secara tak langsung meredam kenaikan berlebihan harga kedelai dunia, sehingga kita bisa menikmati tempe dan tahu

Tempe dan tahu merupakan salah satu bahan makanan sumber protein nabati yang populer di Indonesia. Bahkan untuk masyarakat berpendapatan menengah kebawah, tempe dan tahu menjadi sumber protein nabati utama. Selain itu, proses produksi tempe dan tahu juga melibatkan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK). Begitu pentingnya tempe dan tahu bagi masyarakat Indonesia sehingga jika produksi tempe dan tahu terganggu, menimbulkan kegaduhan yang luar biasa di masyarakat kita.

gapki-minyak-sawit

Bahan baku tempe dan tahu adalah kacang kedelai. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia, hanya sekitar 20-30 persen dihasilkan dari produksi domestik. Sekitar 70-80 persen kedelai masih kita impor khususnya dari Amerika Serikat dan Amerika Selatan. Sebagai negara importir kedelai, maka harga kedelai dunia akan mempengaruhi harga tempe dan tahu di Indonesia. Jika harga kedelai dunia naik, dengan cepat harga tempe dan tahu juga naik di Indonesia. Dan untuk mencegah kenaikan harga kedelai dunia, Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa.

Tahun 1980 minyak kedelai menguasai pasar minyak nabati dunia dengan pangsa hampir 60 persen, sehingga jika terjadi peningkatan konsumsi minyak nabati dunia (baik untuk pangan maupun untuk biodiesel) maka harga kedelai naik cepat. Kenaikan harga kedelai merugikan konsumen kedelai dunia termasuk Indonesia.

Saat ini ceritanya sudah berubah. Keberhasilan  Indonesia dalam meningkatkan produksi dan ekspor minyak sawit ke pasar dunia telah merubah dominasi  kedelai dalam minyak nabati dunia.  Saat ini minyak sawit berhasil merebut sekitar 40 persen pangsa pasar minyak nabati dunia, sementara minyak kedelai peranannya melorot hanya sekitar 30 persen. Artinya jika produksi kedelai dunia terganggu atau konsumsi minyak nabati dunia naik, tidak lagi serta merta mendorong  harga kedelai dunia naik. Meskipun Amerika Serikat dan Amerika Selatan menggunakan minyak kedelai untuk biodiesel, harga kedelai dunia tidak meroket. Minyak sawit yang lebih murah dari minyak kedelai, menyebabkan konsumen beralih dari minyak kedelai ke minyak sawit sehingga mencegah kenaikan yang berlebihan harga kedelai dunia.

Peran minyak sawit yang mampu meredam kenaikan harga kedelai dunia tersebut, jelas menguntungkan bagi masyarakat dunia khususnya konsumen kedelai dan minyak kedelai dunia termasuk Indonesia.  Bagi Indonesia, terkendalinya harga kedelai dunia tersebut membuat harga tempe dan tahu juga terkendali.

Inilah juga manfaat yang dinikmati Indonesia yang berhasil menjadi produsen dan eksportir minyak sawit Indonesia, bukan hanya menghasilkan devisa terbesar bagi Indonesia namun secara langsung juga menjaga kenaikan  harga kedelai dunia yang berlebihan. Selain itu, minyak goreng sawit untuk mengolah tempe dan tahu juga tersedia relatif murah. Sehingga masyarakat tetap dapat menikmati makanan tempe dan tahu yang merupakan salah satu makanan tradisi di Indonesia.

Source : Sawit.or.id