Minyak Sawit Menolong Rakyat Miskin Dunia

Jika minyak sawit tidak dihasilkan Indonesia dan Malaysia sebesar saat ini, maka negara-negara berpendapatan rendah akan kesulitan membeli minyak nabati dan produk turunannya

Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa Indonesia sejauh ini secara tak langsung telah menghadirkan solusi penting bagi masyarakat dunia khususnya bagi penduduk miskin global. Keberhasilan pembangunan di Indonesia memberi manfaat bagi penduduk miskin dunia.

Ketika Indonesia berhasil menaikkan produksi beras dan bahkan pernah mencapai swasembada beras pada tahun 1984, secara tidak langsung telah membantu negara-negara berpenduduk miskin dunia yang mengkonsumsi beras seperti kawasan Afrika dan Asia Selatan. Indonesia yang semula importir beras terbesar dunia (sebelum tahun 1984) dan berhasil menjadi swasembada beras, impor beras berhenti, membuat harga beras dunia turun drastis waktu itu. Turunnya harga beras dunia tersebut, dengan pendapatan negara-negara miskin dunia waktu itu dapat membeli beras lebih banyak, sehingga makin banyak penduduk miskin yang terhindar dari kelaparan.

Hal itulah yang menjadi salah satu alasan penting bagi Badan Pangan Dan Pertanian PBB (FAO) memberikan medali penghargaan kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1984. Medali kehormatan yang diberikan dalam sidang FAO tersebut, bukan hanya karena prestasi pertanian Indonesia saat itu, lebih dari itu dampak keberhasilan Indonesia meningkatkan produksi beras membuat rakyat miskin di negara lain terhindar dari bahaya kelaparan.

Peristiwa yang kurang lebih sama juga terjadi dalam minyak nabati global, meskipun tanpa pemberian medali dari FAO. Keberhasilan Indonesia meningkatkan produksi minyak sawit bahkan menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia, telah menyediakan minyak nabati yang lebih ekonomis bagi masyarakat dunia. Selain itu, peningkatan produksi minyak sawit juga mencegah harga minyak nabati lainya (kedelai, rape, bunga matahari) tidak terlalu mahal. Sehingga rakyat berpendapatan rendah seperti di kawasan Afrika, Asia Selatan, Asia Tengah dapat menikmati minyak nabati dengan harga yang terjangkau.

Sebagaimana diketahui, saat ini sekitar 50 persen produksi minyak nabati global adalah minyak sawit. Dapat dibayangkan jika minyak sawit tidak hadir dalam ekonomi dunia, maka harga minyak kedelai, minyak rape dan lain-lain akan sangat mahal dan di luar jangkauan pendapatan rakyat miskin global yang jumlahnya saat ini masih sekitar 1.4 milyar orang.

Dunia tanpa minyak sawit, akan membuat harga kedelai dan minyak kedelai selangit yakni sekitar USD 1500-2000 per ton. Dengan harga setinggi itu, penduduk miskin dunia mustahil dapat menjangkaunya. Tidak hanya itu, produk-produk pangan yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku pakan untuk produksi seperti daging, susu, telur juga harganya dipastikan naik berkali-kali lipat. Bahkan harga tempe dan tahu yang merupakan salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia akan makin mahal.

Untung saja hadir minyak sawit dalam perekonomian global. Kehadiran minyak sawit yang lebih ekonomis dan pasokan yang relatif stabil, telah mengerem kenaikan harga minyak nabati lainya di pasar internasional. Sampai saat ini minyak nabati termurah di dunia adalah minyak sawit. Harganya konsisiten di bawah harga minyak kedelai maupun minyak bunga matahari atau minyak rape.

Data-data konsumsi minyak nabati dunia menunjukkan bahwa kawasan dimana banyak penduduk miskin atau berpendapatan rendah seperti Afrika, Asia Selatan, Asia Tengah, dan Cina ,pangsa konsumsi minyak sawit dalam total konsumsi minyak nabati sangat dominan. Bahkan secara global, sekitar 50 persen konsumsi minyak nabati dunia (sekitar 17 jenis) adalah minyak sawit.

Minyak sawit bukan hanya membawa berkah kepada Indonesia tetapi juga kepada masyarakat dunia khususnya negara yang penduduknya masih berpendapatan rendah atau miskin.

Source : Sawit.or.id