Revolusi Petani Sawit yang Berhasil

Masyarakat petani hampir di semua negara harus disubsidi agar usahanya dapat berkembang dan mampu menghidupi keluarganya. Di negara-negara Uni Eropa dan Amerika Utara misalnya, setiap tahun pemerintahnya harus mengeluarkan dana besar (hampir separuhnya APBN kita) untuk mensubsidi petani baik secara langsung maupun subsidi tidak langsung. Di Indonesia para petani tanaman pangan juga diberikan subsidi secara tidak langsung baik melalui subsidi pupuk, benih, maupun yang lainnya.

Berbeda dengan para petani tersebut, petani sawit di Indonesia menunjukkan kelas tersendiri bahwa tanpa subsidi atau membebani pemerintah, para petani sawit berhasil mengembangkan kebun sawit dengan biaya sendiri. Bahkan para petani sawit tidak hanya sekadar berhasil melainkan membuat sejarah revolusi petani.

Pangsa perkebunan sawit rakyat meningkat cepat dari nol persen sebelum tahun 1980 menjadi sekitar 45 persen pada tahun 2014. Dari sekitar 10 juta hektar perkebunan sawit Indonesia tahun 2014, sekitar 4.5 juta hektar merupakan kebun sawit petani.

Perkebunan sawit rakyat tidak hanya berkembang pada beberapa daerah saja, saat ini telah berkembang pada 190 kabupaten di pelosok tanah air.  Jika pada masa Orde Baru pemerintah harus mengeluarkan dana besar untuk transmigrasi penduduk ke luar Jawa, melalui gerakan petani sawit terbukti mampu bertransmigrasi swadaya dan membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di pelosok-pelosok.

Berbagai studi mengungkapkan bahwa keberhasilan revolusi petani sawit juga sangat nyata mengurangi kemiskinan di pedesaan, bahkan telah menciptakan kelas ekonomi menengah (middle economy class) di kawasan pedesaan. Jika sebelumnya, the best ten perguruan tinggi di Indonesia hanya bisa dimasuki anak-anak orang berduit perkotaan, kini anak-anak petani sawit mudah ditemukan pada perguruan tinggi the best ten.

Revolusi sawit rakyat juga telah ikut menghantarkan Indonesia menjadi produsen dan eskportir minyak sawit terbesar dunia mengalahkan Malaysia sejak tahun 2006. Jika dari ekspor minyak sawit Indonesia meraup devisa sekitar USD 20 milyar pertahun, sekitar USD 8 milyar disumbang dari sawit rakyat.

Jika pemerintahan Jokowi saat ini masih mencari-cari cara bagaimana implementasi revolusi mentalitet pembangunan, para petani sudah membuktikannya. Bahkan para petani sawit kita juga telah mendahului program membangun dari pinggiran yang sedang dilaksanakan pemerintahan Jokowi saat ini.

Revolusi ala petani sawit juga mengoreksi para ilmuawan. Ahli-ahli pertanian dan ekonomi barat pada masa kolonial maupun pasca kolonial tidak pernah membayangkan jika petani kecil (smallholder) akan bisa memasuki usaha perkebunan kelapa sawit. Modal yang relatif besar, kebutuhan teknologi dan manajemen  yang diperlukan untuk perkebunan sawit (termasuk untuk pabrik kelapa sawit) adalah sesuatu yang diluar jangkauan petani, sehingga tidak mungkin petani memasuki perkebunan kelapa sawit. Karena itu baik pada masa kolonial Belanda maupun pasca kolonial bahkan pada awal Orde Baru, para petani tidak pernah diikutsertakan dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Namun, sejarah perkebunan kelapa sawit  di Indonesia mencatat cerita lain yang memaksa  para ahli barat harus mengoreksi pandangannya. Revolusi perkebunan sawit rakyat di Indonesia yang antara lain ditandai dengan cepatnya peningkatan luas kebun sawit miliki petani kecil dimana sebagian besar dilakukan secara swadaya, mematahkan pandangan ahli-ahli barat tersebut.

Para petani sawit kita yang berada di 190 pelosok kabupaten merupakan aset suatu bangsa. Selain harus dilindungi mereka juga perlu difasilitasi agar semakin naik kelas. Kita menunggu terjadinya revolusi gelombang kedua dari petani sawit, yakni ikut menjadi pemain pada setiap mata rantai minyak sawit dari hulu ke hilir.

Source : Sawit.or.id