Sawit Berkembang, Petani Sayuran Senang

Masyarakat yang bekerja baik langsung maupun tak langsung di perkebunan sawit merupakan pasar yang besar bagi petani pangan sehingga mendorong berkembangnya usaha tani pangan seperti beras, sayuran, hasil ternak dan ikan di sekitar kebun sawit

Petani memiliki kebebasan untuk memilih komoditas yang akan dikembangkannya. Komoditas apa yang menurut petani menguntungkan dan dapat meningkatkan pendapatannya, semuanya terserah petani dan dilindungi Undang-Undang. Jika berkebun sawit diyakini petani menguntungkan, petani akan memilih berkebun sawit. Jika lebih untung tanam sayuran, atau padi atau pelihara ternak/ikan, petani pasti pilih itu.

gapki-sawit-sayuran

Justru yang diharapkan, petani sebagian menghasilkan padi, sebagian hasilkan sayuran, sebagian hasilkan ternak/ikan, sebagian hasilkan sawit, dan seterusnya. Spesialisasi petani yang demikian asalkan bukan dipaksakan justru mendorong berkembangnya dan memperkuat ekonomi lokal.

Pada daerah sentra kebun sawit seperti Riau, banyaknya masyarakat yang memilih berkebun sawit, justru menciptakan pasar bagi petani sayuran, petani padi, peternak/nelayan di sekitarnya. Masyarakat sawit (petani sawit dan keluarganya, karyawan kebun, suplier kebun, dll) yang relatif besar dan memiliki daya beli yang tinggi memerlukan sayuran, beras, hasil ternak, hasil perikanan disekitarnya. Sebab masyarakat sawit tidak menghasilkan komoditas tersebut sehingga harus membeli dari pasar lokal. Dengan kata lain masyarakat kebun sawit menciptakan dan menjadi pasar bagi hasil pertanian pangan, peternakan, maupun perikanan.

Sebagaimana diberitakan dalam beritasatu.com bahwa sejumlah petani sawit di Riau beralih ke petani sayuran. Besarnya permintaan sayuran dan dengan harga yang menggiurkan dari masyarakat  perkebunan sawit, mendorong petani memilih untuk mengembangkan sayuran dan memasarkannya langsung ke masyarakat kebun sawit. Ini adalah bagian dari dampak multiplier dari berkembangnya kebun sawit.

Bentuk simbiosis mutualisme ekonomi antara sektor kebun sawit dengan sektor pangan lokal yang demikian terjadi pada semua sentra-sentra kebun sawit di Indonesia. Masyarakat yang bekerja di perkebunan sawit merupakan captive market bagi komoditas pangan dari sentra produksi pangan disekitarnya. Transaksi perdagangan antara kebun sawit dengan pertanian pangan sekitarnya justru menjadi penggerak berkembangnya ekonomi lokal di setiap daerah.

Secara nasional, berdasarkan pengeluaran penduduk, besarnya transaksi antara masyarakat kebun sawit dengan sektor pangan pedesaan mencapai sekitar Rp. 72 triliun per tahun. Transaksi tersebut terdiri atas petani tanaman pangan dan hortikultura yang mencapai Rp. 45 triliun, dengan peternak Rp. 16 triliun dan dengan nelayan sebesar Rp. 11 triliun.

Dengan demikian perkebunan sawit merupakan suatu kegiatan ekonomi yang inklusif. Manfaat ekonomi yang tercipta akibat perkembangan kebun sawit bukan hanya dinikmati pelaku langsung perkebunan sawit tetapi juga secara tidak langsung dinikmati oleh petani pangan, peternak dan nelayan disekitarnya.

Source : Sawit.or.id