Sawit Rakyat Berkembang Cepat Tanpa Bebani Pemerintah

“Sawit rakyat berkembang cepat di pedesaan, pelosok-pelosok dan pinggiran pada 190 kabupaten dengan inisiatif dan kreatifitas sendiri. Tidak membebani pemerintah, malah  ikut andil dalam membantu tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam pembangunan.”

gapki-sawitrakyat

Dalam 25 tahun terakhir, kebun sawit rakyat mengalami  pertumbuhan yang sangat cepat. Tahun 1990 luas kebun sawit rakyat masih sekitar 0.3 juta hektar, meningkat menjadi sekitar 4.7 juta hektar tahun 2015. Dengan pertumbuhan yang demikian, dari  sekitar 11 juta hektar luas sawit nasional, porsi sawit rakyat meningkat dari sekitar 25 persen menjadi 45 persen dan diperkirakan akan mencapai sekitar 50 persen tahun 2020. Porsi sawit rakyat yang meningkat tersebut menunjukkan bahwa sawit rakyat bertumbuh lebih cepat dibandingkan dengan sawit swasta maupun BUMN.

Para petani sawit ini berbeda dengan petani Eropa dan Amerika Utara yang diberikan subsidi besar-besaran oleh pemerintahnya. Juga berbeda dengan petani pangan di Pulau Jawa yang memperoleh bantuan dan dukungan penuh dari pemerintah mulai dari penyediaan infrastruktur, subsidi pupuk dan benih serta layanan pemerintah. Itupun tidak  mampu
berkembang secara berkelanjutan sehingga tetap tergantung pada bantuan pemerintah.

Pertumbuhan sawit rakyat yang revolusioner dan terjadi di kawasan pedesaan, daerah-daerah tertinggal, pelosok-pelosok dan pinggiran pada 190 kabupaten dengan inisiatif dan dibiayai sendiri.  Bukan dengan membebani anggaran pemerintah, tanpa subsidi atau bantuan dana murah dari pemerintah. Petani sawit selama ini tidak pernah merengek-rengek minta “jatah” dari pemerintah untuk membangun kebunnya.

Kunci keberhasilan petani sawit selain kreatifitas dan kerja keras, dimungkinkan oleh adanya simbiosis mutualistis antara petani dengan perusahaan perkebunan sawit swasta maupun BUMN. Ketersediaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang dibangun perkebunan swasta dan BUMN, menciptakan jaminan pasar TBS hasil petani sawit. Dimana PKS tersedia, tanpa dikomando  petani lokal dengan inisiatif sendiri secara kreatif membangun kebun sawit secara bertahap.

Investasi dari petani sawit tersebut memang belum tercatat dalam statistik pemerintah. Padahal secara keseluruhan lumayan besar yakni mencapai sekitar Rp 235 triliun atau sekitar 20 miliar dollar Amerika Serikat. Nilai investasi sawit rakyat tersebut kira-kira setara dengan nilai akumulasi APBN Kementerian dalam 15 tahun terakhir. Atau setara dengan tambahan utang luar negeri  pemerintah dalam empat  tahun terakhir. Investasi sawit rakyat itu juga mempekerjakan sekitar 6 juta tenaga kerja di pedesaan. Hal ini  juga mengurangi beban dan tanggung jawab pemerintah dalam menciptakan kesempatan kerja. Belum lagi dampak ikutannya di kawasan pedesaan. Banyak studi yang mengungkap bahwa sawit rakyat ikut mengurangi kemiskinan di kawasan pedesaan.

Kontribusi sawit rakyat dalam perekonomian makro juga tidak sedikit.
Dengan rata-rata nilai ekspor minyak sawit Indonesia setiap tahun sekitar 20 miliar dollar Amerika Serikat, sekitar 35 persen atau 7 miliar dollar setiap tahun berasal dari  sawit rakyat. Jadi dompet devisa yang dikelola Bank Indonesia sebagian merupakan hasil sawit rakyat.

Dengan kontribusi sawit rakyat yang demikian,  pemerintah perlu mengapresiasi dengan melindungi sawit rakyat. Melindungi sawit rakyat akan berhasil jika industri minyak sawit secara keseluruhan dilindungi karena disanalah “habitat” ekonomi sawit rakyat berada.

Sumber : sawit.or.id