Minyak Sawit, Risiko Diabetes?

Pada tahun 2012 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa penyakit kardiovaskular sebagai penyebab utama kematian di dunia. Hal ini diduga kuat berkaitan erat dengan tingginya konsentrasi kolesterol dalam darah dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular (Oluba & Oyeneke, 2009). Peningkatan konsentrasi kolesterol dalam darah sangat dipengaruhi oleh tingginya konsumsi asam lemak jenuh, yang dapat diperhitungkan dengan menggunakan persamaan Keys-Anderson (Keys et al., 1965). Continue reading “Minyak Sawit, Risiko Diabetes?”

Kebun Sawit Bangun Harmoni Ekonomi Kota-Desa

Perkebunan sawit di pedesaan mengintegrasikan dan menarik perkembangan ekonomi kota dan desa. Kebun sawit menggeliat, ekonomi kota dan desa ikut bergairah.

Masyarakat kita sebagian hidup di pedesaan dan sebagian hidup di perkotaan. Masyarakat yang hidup di desa ekonominya umumnya dari pertanian, menghasilkan berbagai bahan pangan, hasil ternak maupun ikan. Sementara masyarakat yang hidup di kota, ekonominya bersumber dari produksi barang-barang industri dan perdaganganya.

gapki-desa

Dengan penyebaran penduduk dan kegiatan ekonominya yang demikian, untuk menjaga keharmonisan perkembangan perkotaan dan pedesaan, desa dan kota harus dibangun secara seimbang. Jika pembangunan hanya dilakukan di kawasan perkotaan, maka kawasan pedesaan makin tertinggal dan daerah miskin. Sebaliknya jika pedesaan saja yang dibangun, maka pasar untuk hasil-hasil pertanian dari pedesaan juga tidak akan cukup, sehingga berujung pada kegagalan pembangunan pedesaan itu sendiri.

Model pembangunan yang dilaksanakan selama ini selalu terkutub bahkan tak jarang menciptakan kondisi win-loss antara pedesaan dan perkotaan. Bahkan pembangunan yang terjadi selama ini cenderung hanya menguntungkan perkotaan dan meninggalkan pedesaan. Urbanisasi yang sangat massif saat ini dan segala dampaknya seperti kemacetan, polusi, dan lain-lain merupakan akibat pembangunan yang berpihak perkotaan.

Untuk menyeimbangkan kemajuan perkotaan dan pedesaan, kita memerlukan model-model pembangunan yang mampu menarik perkembangan ekonomi kota dan ekonomi desa sekaligus. Sayangnya model-model yang mengharmonikan kota-desa tersebut tidak banyak dikembangkan selama ini.

Salah satu model yang berharap dapat mengharmonikan ekonomi desa dan kota adalah perkebunan kebun sawit. Kebun sawit dikembangkan di pedesaan bahkan daerah-daerah tertinggal/pinggiran dengan skala yang relatif luas, mengkombinasi sawit rakyat dan sawit korporasi secara kemitraan di kawasan pedesaan.

Berkembangnya kebun sawit di kawasan pedesaan ternyata menggerakkan ekonomi desa dan kota secara simulatan. Perkebunan sawit di pedesaan menarik perkembangan sektor-sektor ekonomi perkotaan seperti industri keuangan/perbankan, industri transportasi dan komunikasi, industri kimia dan mesin, industri pangan, restoran dan lainnya. Demikian juga sektor-sektor pedesaan, perkebunan sawit menarik perkembangan sektor pertanian, peternakan, perikanan dan lain-lain.

Transaksi ekonomi masyarakat yang bekerja di kebun-kebun sawit dengan masyarakat kota mencapai Rp. 225 triliun setiap tahun sedangkan transaksi antara masyarakat yang bekerja di kebun-kebun sawit dengan masyarakat desa (diluar kebun sawit) mencapai Rp. 72 triliun setiap tahun.

Dengan kata lain, perkebunan sawit mengintegrasikan perkembangan ekonomi perkotaan dan pedesaan. Bila kebun sawit berkembang, akan menarik ekonomi kota dan desa secara simultan. Sebaliknya jika kebun sawit mengalami penurunan, akan berdampak pada penurunan geliat ekonomi kota dan desa.

Source : Indonesiakita.or.id

Indonesia memiliki tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan pada tingkat perusahaan/petani

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikelola dengan mengacu pada prinsip-prinsip manajemen/kultur teknis yang disesuaikan dengan kondisi lokal (tailor made) dan kebijakan tata kelola pembangunan perkebunan secara keseluruhan. Seluruh mata rantai proses produksi memiliki standar proses dan output.

Pada mata rantai proses produksi TBS (mulai dari penanaman, pemeliharaan, pemanenan) mengacu pada manajemen perkebunan terbaik (Good Agriculture Practices) dan ISO. Pada proses produksi CPO di PKS (CPO mill) maupun industri hilir minyak sawit juga mengacu pada manajeman pabrik pengolahan terbaik (Good Manufacturing Practices) dan ISO. Sedangkan standar kualitas produk mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Continue reading “Indonesia memiliki tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan pada tingkat perusahaan/petani”

Harmoni Manfaat Three-In-One dari Kebun Sawit

Kebun sawit menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, serta ekologis secara bersamaan. Sebagai masyarakat konsumen minyak sawit sangat diutungkan karena satu dibayar tiga manfaat dinikmati

Kesejahteraan masyarakat bukan hanya soal ekonomi, bukan hanya soal sosial serta bukan juga soal kelestarian lingkungan. Kesejahteraan yang berkelanjutan menyangkut tiga aspek sekaligus yakni ekonomi, sosial dan lingkungan. Oleh karena itu pembangunan yang mensejahterakan adalah bila pembangunan menghasilkan benefit ekonomi, benefit sosial dan benefit lingkungan secara simultan. Inilah salah satu yang ingin diwujudkan  melalui Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah diberlakukan PBB mulai tahun 2016-2030. Continue reading “Harmoni Manfaat Three-In-One dari Kebun Sawit”

Fakta Perkebunan kelapa sawit tak mengurangi lahan pertanian padi di Indonesia

Konversi lahan pertanian baik antar komoditas maupun antar sektor merupakan fenomena normal yang terjadi seiring dengan kemajuan pembangunan. Meskipun Undang-Undang No. 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman memberikan kebebasan bagi petani untuk memilih komoditas yang ditanam, konversi lahan pangan utama yakni lahan padi yang luas dapat mengancam penyediaan beras nasional. Continue reading “Fakta Perkebunan kelapa sawit tak mengurangi lahan pertanian padi di Indonesia”

Harmoni Sawit, Satwa Liar dan Mall

Kawasan pemukiman/perkotaan, pertanian/perkebunan dan hutan masing masing memiliki fungsi dalam ekosistem yang tidak saling tergantikan sehingga harus hidup harmoni secara berdampingan pada ruang yang ditetapkan

Negara-negara dunia patut belajar dari Indonesia tentang pengelolaan ruang bagi kehidupan. Melalui  UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan UU No. 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang, Indonesia sudah menetapkan minimum 30 persen dari luas daratan telah ditetapkan sebagai hutan. Hutan tersebut dialokasikan untuk rumahnya biodiversity (satwa, flora dan mikroba asli), benteng alam dan konservasi alam. Sedangkan 70 persen sisa daratan diperuntukkan untuk semua sektor pembangunan seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perkotaan, perumahan dan lainnya. Continue reading “Harmoni Sawit, Satwa Liar dan Mall”

Sawit Berkembang, Petani Sayuran Senang

Masyarakat yang bekerja baik langsung maupun tak langsung di perkebunan sawit merupakan pasar yang besar bagi petani pangan sehingga mendorong berkembangnya usaha tani pangan seperti beras, sayuran, hasil ternak dan ikan di sekitar kebun sawit

Petani memiliki kebebasan untuk memilih komoditas yang akan dikembangkannya. Komoditas apa yang menurut petani menguntungkan dan dapat meningkatkan pendapatannya, semuanya terserah petani dan dilindungi Undang-Undang. Jika berkebun sawit diyakini petani menguntungkan, petani akan memilih berkebun sawit. Jika lebih untung tanam sayuran, atau padi atau pelihara ternak/ikan, petani pasti pilih itu. Continue reading “Sawit Berkembang, Petani Sayuran Senang”

Sawit : Satu-satunya komoditas yang dituntut Sustainability-nya, mengapa ..?

Perkebunan kelapa sawit adalah satu-satunya komoditas pertanian dunia yang dipertanyakan dan dituntut sertifikasi sustainability-nya, sepanjang sejarah peradaban manusia. Sektor energi, tambang, transportasi diseluruh dunia yang menyumbang sekitar 60 persen emisi GHG dunia tidak pernah dituntut bahkan dipertanyakan sertifikasi keberlanjutannya. Demikian juga, komoditas peternakan dan padi diseluruh dunia yang merupakan kontributor terbesar emisi GHG pertanian global juga tidak pernah dituntut dan dipertanyakan sustainability-nya. Continue reading “Sawit : Satu-satunya komoditas yang dituntut Sustainability-nya, mengapa ..?”

Stok Minyak Sawit Indonesia Naik Seiring Kenaikan Produksi dan Menurunnya Ekspor

web logo

SIARAN PERS
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Stok Minyak Sawit Indonesia Naik Seiring Kenaikan Produksi dan Menurunnya Ekspor

Stok minyak sawit Indonesia meningkat signifikan untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu semester menunjukkan tren penurunan. Pada September 2016, stok minyak sawit Indonesia tercatat naik 28% dibandingkan Agustus lalu, atau dari 1,695 juta ton naik menjadi 2,17 juta ton. Stok minyak sawit Indonesia naik didukung oleh produksi yang meningkat dan pada saat bersamaan ekspor minyak sawit Indonesia melemah. Continue reading “Stok Minyak Sawit Indonesia Naik Seiring Kenaikan Produksi dan Menurunnya Ekspor”

Selamatkan Hutan : Moratoriumlah Logging Bukan Kebun Sawit

Untuk menyelamatkan hutan, pemerintah perlu melakukan moratorium logging bukan menutupinya dengan mengusung moratorium sawit

Dari pembahasan rencana moratorium sawit di Kementerian Perekonomian akhir bulan Oktober 2016 lalu, terungkap bahwa tujuan pemerintah khususnya dari Kementerian LHK  adalah untuk menyelamatkan hutan termasuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi hutan.  Tentu, semua sepakat bahwa hutan harus diselamatkan, dipertahankan dan diperbaiki. Continue reading “Selamatkan Hutan : Moratoriumlah Logging Bukan Kebun Sawit”