70 Persen Emisi Karbon Global dari Energi Fosil Bukan dari Deforestasi

EU-28 merupakan top five penyumbang emisi karbon dunia. Jangan menutup-nutupi fakta tersebut dengan mengalihkanya pada isu deforestasi

Negara-negara Barat khususnya Uni Eropa, jangan menyembunyikan fakta bahwa sekitar 70 persen emisi karbon berasal dari konsumsi minyak fosil. Mempersoalkan deforestasi maupun perubahan penggunaan lahan (LUCF) hanya cara Uni Eropa mengalihkan persoalan. Sebagaimana diberitakan Bulan April 2017 lalu, Parlemen Eropa mengancam memboikot sawit (Indonesia, Malaysia) dan kedelai (Brazil, Argentina) karena dinilai menyumbang emisi karbon terbesar melalui deforestasi dalam ekspansi sawit dan kedelai.

70 Persen Emisi Karbon Global dari Energi Fosil Bukan dari Deforestasi

Padahal menurut laporan International Energy Agency (IEA) setiap tahun, kontributor terbesar emisi karbon dunia yang menyebabkan pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (global climate change) adalah dari konsumsi energi fosil. Sekitar 70 persen dari emisi karbon dunia adalah dari konsumsi energi fosil seperti diesel/solar, premium, batubara dan gas bumi. Lima negara terbesar (top five) kontributor emisi karbon dunia adalah negara-negara yang paling rakus mengkonsumsi energi fosil) yakni China, Amerika Serikat, Uni Eropa (EU-28), India dan Rusia. Kontribusi EU-28 sendiri mencapai 10 persen dari emisi karbon dari konsumsi energi fosil dunia. Sedangkan kontribusi Indonesia hanya sekitar 1 (satu) persen.

Selain deforestasi, Parlemen Eropa juga menuduh pembakaran lahan/hutan dalam pembukaan lahan sawit di Indonesia yang juga menyumbang emisi karbon ke atmosfir bumi. Tuduhan tersebut didasarkan pada data kebakaran hutan/lahan di Indonesia dalam periode 2011-2015 yakni rata-rata 64.548 hektar per tahun. Namun apakah di Eropa tidak terjadi kebakaran hutan/lahan?

Menurut studi Uni Eropa sendiri (European Commission, 2014) mengungkapkan luas kebakaran hutan/lahan di Eropa juga relatif luas dan bahkan lebih luas dari yang terjadi di Indonesia. Dalam periode 2011-2015 luas kebakaran hutan/lahan di Portugal dan Spanyol saja sudah mencapai 191.672 hektar per tahun. Sangat jelas lebih luas yakni 3 kali lebih luas dari kebakaran hutan/lahan di Indonesia. Sebagai catatan luas kebakaran hutan di Amerika Serikat (rata-rata 2,2 juta hektar/tahun) atau di Rusia (rata-rata 2,3 juta hektar/tahun).

Fakta tersebut jangan disembunyikan dan dialihkan ke negara-negara berkembang seakan-akan deforestasi dan perubahan penggunaan lahan (land use change and forestry) sebagai kontributor terbesar.Tentu saja, kontribusi LUCF dan deforestasi pada emisi karbon global, jelas ada. Namun tidak seberapa dibandingkan dengan emisi dari konsumsi energi fosil tersebut.Cara Uni Eropa yang menutup-nutupi fakta dan mencari “kambing hitam” yakni LUCF tidak membantu mengatasi persoalan melainkan menciptakan masalah baru.

Seluruh dunia berkontribusi pada meningkatnya emisi karbon. Dan seluruh dunia harus ikut menurunkan emisi tersebut. Karena kontributor terbesar emisi global adalah dari konsumsi energi fosil, maka semua negara khususnya the top five emitter (salah satunya EU-28) perlu menurunkan konsumsi energi fosil dan beralih ke energi terbarukan seperti biofuel.

Source : Indonesiakita.or.id