Boikot Sawit, Eropa Ancam Ekonomi Petani

Rencana boikot sawit Eropa akan mengancam ekonomi petani, pekerja, usaha kecil-menengah, memicu pengangguran dan kemiskinan di kawasan pedesaan

Resolusi sawit Eropa yang merencanakan boikot minyak sawit masuk ke pasar Eropa, akan mengancam ekonomi jutaan petani sawit (small holder oil palm) diberbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Papua Nugini, dan petani sawit Afrika. Dan jika boikot sawit tersebut benar-benar nekat dilakukan Eropa, akan menciptakan pengangguran dan kemiskinan di kalangan petani. Bahkan dapat memicu gerakan massal anti Eropa dan membuka dosa kolonial masa lalu Eropa di berbagai negara produsen sawit.

Boikot Sawit, Eropa Ancam Ekonomi Petani

Minyak sawit dunia bukan hanya dihasilkan korporasi besar tetapi juga dihasilkan para petani. Perkebunan sawit di Indonesia, sekitar 43 persen merupakan kebun sawit rakyat yang dimiliki sekitar tiga juta petani. Malaysia sekitar 25 persen dari luas kebun sawitnya merupakan milik petani sawit. Gambaran yang sama juga di Thailand, Papua Nugini dan Afrika. Jutaan petani sawit dunia akan terancam akibat boikot minyak sawit yang dilakukan Eropa.

Tidak hanya petani sawit yang terancam, usaha kecil menengah yang selama ini bergerak melayani kebutuhan kebun sawit dan petani sawit juga akan ikut terancam. Mulai dari kios pupuk, usaha pengangkut TBS, warung-warung makan, pedagang sembako, dll yang telah berkembang di kawasan pedesaan juga akan terkena dampaknya. Belum lagi para pekerja yang ada di perkebunan sawit yang jumlahnya juga jutaan orang, akan terancam. Peningkatan pengangguran dan kemiskinan akan menjadi taruhan jika Eropa benar-benar melakukan boikot minyak sawit ke Eropa.

Memang Eropa bukan satu-satunya tujuan pasar ekspor minyak sawit dunia. Bagi korporasi jika boikot sawit Eropa benar-benar terjadi, mereka masih bisa mengalihkan pasarnya ke belahan dunia yang lain. Dalam proses pengalihan pasar tersebut jelas memerlukan waktu dan yang pertama dilakukan korporasi pastilah menyelamatkan produksinya. Sehingga dalam masa pengalihan pasar ini, dapat dipastikan jutaan petani sawit yang notabenenya hanya sebagai pekebun, akan kesulitan memasarkan TBS nya.

Jutaan petani sawit akan menjadi korban pertama kebijakan Eropa. Penurunan harga TBS menyebabkan pendapatan petani sawit makin terpuruk. Sehingga akses petani dan keluarganya pada kesehatan, pendidikan dan pangan akan semakin menurun.

Lantas, jika rencana kebijakan Eropa yang memboikot minyak sawit justru berdampak pada peningkatan pengangguran, kemiskinan, dan penurunan akses petani dan tenaga kerja pada pendidikan, kesehatan, pangan. Bukankah Eropa justru melanggar HAM petani sawit yakni hak memperoleh penghidupan yang lebih layak, hak memperoleh pangan yang bermutu atau hak memperoleh pendidikan bagi anak-anak petani? Bukankah hal tersebut merupakan bentuk dari imperialisme baru, yang membuka luka lama akibat kolonialisme Eropa di masa lalu khususnya di Indonesia ?

Source : Indonesiakita.or.id