Coco-Palma Menjadikan Indonesia Raja Coklat Dunia

“Sinergitas hilir minyak sawit dengan kakao, berpotensi menjadikan Indonesia menjadi raja coklat dunia”

Pada berbagai kesempatan, Presiden Jokowi berkeinginan agar Indonesia dapat segera merebut posisi menjadi produsen coklat terbesar dunia. Saat ini dengan produksi biji kakao sekitar 800 ribu ton per tahun, Indonesia baru menempati posisi nomer tiga dunia, setelah Ghana (840 ribu ton) urutan ke dua dan Pantai Gading (1.5 juta ton) urutan pertama.

Ambisi Presiden tersebut tentu bukan tanpa alasan. Kita berpotensi untuk raja pasar coklat dunia. Pasar produk coklat dunia memang menggiurkan dengan omset sekitar $100 milyar per tahun. Konsumsi coklat tertinggi di negara-negara Eropa dan Amerika Utara yakni 10-16 Kg/kapita. Konsumsi coklat di Indonesia baru sekitar 0.5 Kg/kapita, separuh dari konsumsi per kapita coklat Malaysia dan Singapura. Saat ini Indonesia sedang memasuki masa bonus demografi, dimana porsi penduduk usia produktif mendekati 70 persen. Hal ini akan menaikkan konsumsi produk coklat yang cukup cepat dari sebelumnya. Jika konsumsi coklat kita naik jadi 2 kg saja, maka kebutuhan coklat domestik saja sudah sekitar 500 ribu ton per tahun.

Untuk menjadi raja pasar produk coklat dunia, dua cara dapat ditempuh Indonesia. Cara pertama menjadi raja kakao dengan meningkatkan produktivitas tanaman kakao kita yang luasnya 1.7 juta hektar sehingga suatu saat dapat menjadi raja kakao dunia. Hanya saja cara ini tidak mudah terutama masalah PBK (Penggerek Buah Kakao) yang belum berhasil di atasi saat ini.

Selain cara itu, cara kedua yang paling mudah menjadi raja pasar produk coklat dunia adalah dengan mengembangkan sinergitas hilir minyak sawit dengan kakao. Yakni mencampur/mengganti lemak kakao dengan minyak sawit (cocopalma) yang lazim dikenal dengan Cocoa Butter Substitute (CBS), Cocoa Butter Replacer (CBR) atau Cocoa Butter Alternatives (CBA). Produk CBS, CBR, CBA tersebut sesungguhnya sudah lazim dikonsumsi masyarakat dunia baik bentuk pasta coklat, es krim, maupun selai coklat.

Hitung-hitungan kasar, dengan produksi biji kakao kita saat ini sekitar 800 ribu ton jika dicampur 50 persen saja dengan minyak sawit berarti produksi pasta coklat Indonesia mencapai 1.2 juta ton (menjadi urutan ke 2 dunia). Dan jika 70 persen dicampur dengan miyak sawit, maka produksi pasta coklat kita menjadi 1.4 juta ton dan seterusnya. Artinya, Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, meskipun sebagai nomor tiga podusen kakao dunia, dengan mengembangkan industri cocopalma di hilir, Indonesia potensial menajadi raja produk coklat dunia.

Berkembangnya industri cocopalma complex, tentu akan memperbesar penyerapan minyak sawit di dalam negeri. Hal ini tentu makin memperkuat basis pasar minyak sawit Indonesia di dalam negeri.

Source : Sawit.or.id