Eropa Bakar Gambut, Indonesia Tanam Sawit di Gambut

Eropa setiap detik mendegradasi ekologis yakni menambang dan membakar gambut untuk energi, mengotori lingkungan dan merusak gambut. Sementara di Indonesia gambut ditanam kebun sawit yang merestorasi ekologis, mengurangi emisi karbon, menghasilkan oksigen dan merestorasi ekonomi.

Eropa Bakar Gambut, Indonesia Tanam Sawit di Gambut

Pemanfaatan lahan gambut untuk kebun sawit di Indonesia dan Malaysia, merupakan salah satu sorotan Parlemen Eropa yang melahirkan rencana boikot sawit. Eropa menuduh bahwa pemanfaatan gambut untuk kebun sawit merupakan salah satu penyumbang emisi karbon yang cukup besar. Karena itu lahan gambut seharusnya dilindungi atau dijadikan hutan lindung.

Menurut data Wetland International (2009) dari 380 juta hektar lahan gambut dunia,  sekitar 44 persen (167 juta hektar)  berada di kawasan Eropa dan Rusia. Sementara di Indonesia hanya 7 persen Dari luas gambut dunia. Kira-kira, gambut di Eropa digunakan untuk apa? Apakah lahan gambut di Eropa tidak dimanfaatkan dan dijadikan hutan lindung gambut?

Berdasarkan Research Report VTT 5 (26) mengungkapkan bahwa lahan gambut di kawasan Eropa  seperti di Finlandia, Irlandia, Swedia, Estonia, Latvia, Lithuania digunakan sebagai bahan bakar. Gambut yang disebut juga sebagai batubara muda, dikawasan Eropa ditambang dan dibakar untuk menghasilkan energi. Setidaknya ada 650 perusahaan yang memanfaatkan gambut sebagai energi dan 117 pembangkit listrik yang menggunakan gambut sebagai bahan bakar untuk menyediakan energi bagi setidaknya 2 juta penduduk di negara-negara tersebut.

Batubara apalagi gambut merupakan bahan bakar yang paling kotor di dunia dan lebih kotor dari minyak bumi. Selain menghasilkan polusi udara yang pekat, juga menghasilkan emisi karbon ke udara yang menyebabkan pemanasan global. Pemanfaatan gambut di Eropa tersebut selain meningkatkan emisi karbon dan polusi udara, gambut yang ditambang dan kemudian dibakar pastilah merusak gambut itu sendiri. Setiap tahun jutaan kubik gambut ditambang dan dibakar Eropa.

Berbeda dengan di Eropa tersebut, lahan gambut di Indonesia ditanami tanaman termasuk untuk kebun sawit. Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa kebun sawit di lahan gambut justru mengurangi emisi karbon gambut. Selain itu, sebagaimana umumnya tanaman,kebun sawit membersihkan udara karena menyerap karbon dan menghasilkan oksigen untuk kehidupan. Karena itu, pemanfaatan lahan gambut untuk kebun sawit justru memperbaiki lingkungan.

Sangat kontradiktif, Eropa selama ini dengan lantang melarang pemanfaatan gambut untuk kebun sawit, sementara di Eropa sendiri malah di bakar, mengotori lingkungan dan merusak gambut itu sendiri. Disini terlihat jelas Eropa sangat inkonsisten dan tak satu kata dengan perbuatan. Kita dilarang tanam tanaman di lahan gambut, sementara Eropa dengan leluasa membakar gambut. Kebakaran gambut akibat musim kering (El Nino) tahun 2015 di Indonesia dikritik Eropa, sementara Eropa membakar gambut setiap detik dan telah berlangsung bertahun-tahun.

Mari kita jangan mau lagi dibodoh-bodohi Eropa. LSM di Indonesia yang selama ini menyambung lidah Eropa yang menentang  pemanfaatan gambut, jangan lagi mau di bodohi Eropa. Menanam kebun sawit di lahan gambut, jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan membakar gambut yang dilakukan Eropa.

Source : Sawit.or.id