< Semua topik
Cetak

Biodiesel Sawit dan FAME: Apa Bedanya?

Biodiesel sawit merupakan bahan bakar nabati yang dihasilkan dari minyak kelapa sawit dan digunakan sebagai pengganti atau campuran bahan bakar diesel (solar) berbasis fosil. Sebagai bagian dari kelompok biofuel, biodiesel sawit berperan penting dalam mendukung transisi energi, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan pemanfaatan sumber daya terbarukan dalam negeri.

Di Indonesia, biodiesel sawit telah menjadi tulang punggung program mandatori biodiesel nasional yang berkembang dari B20, B30, B35, B40 hingga B50.¹ Namun, masih banyak yang menganggap bahwa biodiesel sawit dan FAME adalah dua produk yang berbeda. Padahal, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat.

Apa Itu Biodiesel Sawit?

Secara umum, biodiesel sawit adalah bahan bakar yang berasal dari minyak kelapa sawit dan dapat digunakan pada mesin diesel. Biodiesel termasuk dalam kategori biofuel, yaitu bahan bakar yang diproduksi dari biomassa atau sumber hayati yang dapat diperbarui.²

Biodiesel sawit diproduksi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit nasional. Selain digunakan di sektor transportasi, biodiesel juga dimanfaatkan pada sektor industri dan pembangkit listrik.

Apa Itu FAME?

FAME merupakan singkatan dari Fatty Acid Methyl Ester, yaitu senyawa ester asam lemak yang dihasilkan melalui proses transesterifikasi minyak nabati menggunakan metanol dan katalis tertentu.³

Dalam praktiknya, biodiesel sawit yang digunakan dalam program mandatori biodiesel Indonesia saat ini pada dasarnya adalah FAME berbasis minyak sawit. Karena itu, istilah “biodiesel sawit” dan “FAME” sering digunakan secara bergantian dalam industri.⁴

Biodiesel Sawit dan FAME: Hubungan yang Perlu Dipahami

Meski sering dianggap sama, sebenarnya biodiesel merupakan istilah yang lebih luas dibandingkan FAME.²

Hubungannya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Biodiesel sawit adalah istilah umum untuk bahan bakar diesel yang berasal dari minyak sawit.
  • FAME adalah jenis biodiesel sawit yang diproduksi melalui proses transesterifikasi dan menjadi bentuk biodiesel yang paling banyak digunakan saat ini.⁴
  • HVO (Hydrotreated Vegetable Oil) atau Renewable Diesel merupakan jenis biodiesel lain yang diproduksi melalui proses hidrogenasi dan memiliki karakteristik berbeda dari FAME.²

Dengan kata lain, seluruh FAME adalah biodiesel, tetapi tidak semua biodiesel merupakan FAME.

Perbedaan FAME dan HVO

Perbedaan utama antara FAME dan HVO terletak pada struktur kimia serta proses produksinya.

FAME masih mengandung oksigen dalam struktur molekulnya karena berbentuk ester asam lemak. Sementara itu, HVO diproses melalui hidrogenasi sehingga oksigen dihilangkan dan menghasilkan hidrokarbon yang karakteristiknya lebih mirip dengan solar fosil.⁵

Perbedaan tersebut memengaruhi sejumlah aspek teknis, seperti kestabilan penyimpanan, sifat alir pada suhu rendah, kualitas pembakaran, hingga kompatibilitas dengan mesin diesel tertentu.⁵

Mengapa Pemahaman Ini Penting?

Memahami perbedaan antara biodiesel sawit, FAME, dan HVO menjadi semakin penting seiring berkembangnya teknologi bahan bakar nabati di dunia.

Saat ini, program biodiesel nasional Indonesia masih didominasi oleh FAME berbasis minyak sawit.¹ Namun ke depan, teknologi bahan bakar terbarukan seperti HVO atau renewable diesel diperkirakan akan semakin berkembang dan melengkapi pemanfaatan biodiesel konvensional.⁵

Karena itu, mengenali bahwa biodiesel sawit merupakan kategori umum, sementara FAME adalah bentuk biodiesel yang saat ini paling banyak digunakan, dapat membantu menghindari kesalahpahaman dalam memahami perkembangan energi terbarukan berbasis sawit.

Peran Biodiesel Sawit bagi Indonesia

Biodiesel sawit telah menjadi salah satu contoh keberhasilan hilirisasi kelapa sawit Indonesia. Selain membantu mengurangi impor bahan bakar fosil, program biodiesel juga menciptakan pasar domestik yang kuat bagi produk sawit nasional, meningkatkan ketahanan energi, serta memberikan nilai tambah bagi rantai industri kelapa sawit dari hulu hingga hilir.

Melalui pengembangan biodiesel dan berbagai inovasi bioenergi lainnya, industri sawit Indonesia terus berkontribusi dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat perekonomian nasional.

Referensi

¹ CNBC Indonesia, “Mandatori Biodiesel B50 Mulai Berlaku Juli 2026, Ada Transisi 3 Bulan”, https://www.cnbcindonesia.com/news/20260630160744-4-746912/mandatori-biodiesel-b50-mulai-berlaku-juli-2026-ada-transisi-3-bulan
² Universitas Islam Indonesia, “Perbedaan Biofuel dan Biodiesel”, https://www.uii.ac.id/perbedaan-biofuel-dan-biodiesel/
³ RSC Advances, “Widely used catalysts in biodiesel production: a review”, https://pubs.rsc.org/en/content/articlehtml/2020/ra/d0ra07931f
⁴ USPTO Patent Application, “System and method for producing hydrothermal renewable diesel and saturated fatty acids”, https://image-ppubs.uspto.gov/dirsearch-public/print/downloadPdf/11414606
⁵ Baker Institute, “What to Know About Renewable Diesel and Biodiesel”, https://www.bakerinstitute.org/research/what-know-about-renewable-diesel-and-biodiesel

Daftar Isi