Industri Minyak Sawit Bagian Solusi dari Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Untuk mengatasi pemanasan global (global warming) dan dampaknya pada perubahan iklim (global climate change) adalah menurunkan emisi karbondioksida ke udara bumi dan penyerapan kembali karbondioksida dari udara bumi. Menurunkan emisi karbondioksida ke udara bumi berarti masyarakat internasional harus bersedia mengurangi konsumsi energi fosil (minyak bumi, batubara, gas) dan menggantikannya dengan bahan bakar rendah emisi karbon seperti biofuel.

Perkebunan kelapa sawit berpotensi dan menjadi bagian penting dalam pengurangan emisi tersebut melalui dua cara yakni (1) penyerapan kembali gas karbondioksida dari udara bumi melalui proses fotosintesa perkebunan kelapa sawit dan (2) menggunakan biodiesel sawit sebagai pengganti solar fosil/diesel serta menggunakan biopremium sawit (dari biomas sawit) sebagai pengganti premium. Kombinasi biodiesel sawit dan biopremium sawit sebagai pengganti bahan bakar dapat menurunkan emisi mesin-mesin lebih dari 62 persen.

PENDAHULUAN

Pemanasan global (global warming) telah menjadi masalah dan perhatian bersama masyarakat internasional. Pemanasan global dan salah satu dampaknya yakni perubahan iklim global (global climate change) seperti pergeseran peta iklim secara global, anomali iklim, banjir, kekeringan, badai, naiknya permukaan laut, dan lain-lain, telah menimbulkan kerugian besar dan bahkan telah mengancam keberlanjutan kehidupan di planet bumi. Masalah pemanasan global, jelas merupakan masalah sangat serius dan memerlukan solusi yang fundamental dan holistik.

Mengingat masalah tersebut merupakan kemerosotan mutu ekosistem planet bumi, maka solusinya haruslah bersifat global. Setiap orang, setiap negara perlu menempatkan diri sebagai bagian dari solusi (problems solver). Untuk itu, diperlukan pemahaman yang sama, kesetaraan dan objektif tentang penyebab masalah pemanasan global sehingga solusinya dapat ditemukan secara objektif pula. Sebaliknya, tradisi bersikap dan berpikir untuk mencari “kambing hitam” membangun mitos atau mengalihkan persoalan kepada pihak/negara lain tanpa dukungan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan, bukanlah bagian dari solusi melainkan bagian dari masalah (problem maker) dan menciptakan masalah baru.

Pengalihan persoalan dengan cara membangun opini publik global dengan prinsip bahwa “kebohongan yang diulang-ulang jika diberitakan secara intensif dan luas maka suatu saat akan diterima sebagai kebenaran”, tidak akan membantu memecahkan masalah lingkungan global. Dalam makalah ini akan didiskusikan fenomena pemanasan global, penyebab dan dampaknya terhadap perubahan iklim global. Selanjutnya didiskusikan bahwa industri minyak sawit dapat menjadi bagian solusi dari masalah tersebut.

PEMANASAN GLOBAL DAN PENYEBABNYA

Pemanasan global merupakan fenomena meningkatnya temperatur udara bumi akibat peningkatan efek intensitas rumah kaca (green house). Istilah rumah kaca sesungguhnya merupakan teknologi budidaya pertanian untuk memanipulasi pengaruh ekstrim perubahan temperatur udara di daerah empat musim. Pada musim dingin, temperatur udara di bawah temperatur yang diperlukan untuk budidaya tanaman (comfortzone temperature) sehingga mengganggu produksi bahkan kehidupan tanaman.

Untuk mengatasi kondisi yang demikian, tanaman perlu diisolasi dari udara luar dengan membangun rumah kaca dimana atap maupun sisi kelilingnya ditutup kaca. Dengan kontruksi isolasi tersebut sinar/energi matahari dapat masuk ke dalam rumah kaca namun pantulannya terperangkap dalam rumah kaca. Energi yang terperangkap tersebut secara perlahan memanaskan ruangan sehingga temperatur udara dalam rumah kaca (green house effect) dapat disesuaikan dengan temperatur kebutuhan tanaman.

Gambar 1. Mekanisme Efek Gas Rumah Kaca (dimodifikasi dari http://i.livescience.com)

Secara alamiah atmosfer bumi diisi gas-gas rumah kaca (green house gas, GHG) terutama uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), metane (CH4), dan nitrogen (N2) dengan konsentrasi alamiah tertentu. Fungsinya membentuk mekanisme efek rumah kaca (natural greenhouse effect) untuk melindungi dan memelihara temperatur atmosfer bumi agar nyaman untuk kehidupan. Melalui mekanisme efek gas rumah kaca alamiah tersebut, sebagian energi panas matahari diperangkap dalam atmosfer bumi dan sebagian lagi dipantulkan ke luar angkasa (Gambar 1). Tanpa efek rumah kaca alamiah tersebut, semua energi panas matahari di pantulkan ke luar angkasa sehingga temperatur atmosfer bumi akan sangat dingin (tidak nyaman untuk kehidupan).

Intensitas efek rumah kaca alamiah tersebut menjadi meningkat ketika konsentrasi gas-gas rumah kaca pada atmosfer bumi meningkat di atas konsentrasi alamiahnya. Penyebabnya adalah meningkatnya emisi GHG dari aktivitas kehidupan manusia di bumi dan munculnya gas-gas buatan manusia seperti golongan Chlorofluorocarbon (CFC) dan halogen (human enhanced greenhouse effect). Peningkatan konsentrasi GHG atmosfer bumi terkait dengan kegiatan masyarakat dunia sejak era pra-industri (tahun 1800-an) sampai sekarang.

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 1991) dalam periode pre-industri (1800-an) sampai tahun 1990, konsentrasi CO2 pada atmosfer bumi telah meningkat dari 280 menjadi 353 ppmv (part permillion volume). Sementara CH4 meningkat dari 0.8 menjadi 1.72 ppmv; N2O meningkat dari 288 menjadi 310 ppbv (part perbillion volume). Dan konsentrasi CFC meningkat dari nol menjadi 280-484 pptv (part pertrillion volume). Dan menurut data International Energy Agency konsentrasi CO2 atmosfer bumi pada tahun 2005 telah mencapai 379 ppmv (IEA, 2012); dan tahun 2013 telah meningkat menjadi 396 ppmv (IEA, 2014).

Dengan meningkatnya intensitas efek rumah kaca tersebut, radiasi/panas sinar matahari yang terperangkap pada atmosfer bumi menjadi lebih besar (Soemarwoto, 1992) dari alamiahnya sehingga memanaskan temperatur udara bumi. Peningkatan temperatur udara bumi tersebut yang disebabkan oleh meningkatnya intensitas efek Rumah Kaca (green house effect) kita kenal sebagai pemanasan global (global warming).

Gambar 2. Sumber Emisi GHG (IEA, 2014)

Menurut International Energy Agency (2014), sumber emisi GHG global berdasarkan jenis gas GHG, urutan terbesar (Gambar 2) berasal dari emisi CO2 (90 persen), kemudian disusul CH4 (9%) dan N2O (1%). Emisi GHG global sampai tahun 2010 mencapai sekitar 48.6 giga ton CO2. Berdasarkan data World Resources Institute (2011) negaranegara pengemisi GHG terbesar (Gambar 3) adalah China (22 persen), USA (13 persen), EU-28 (9 persen) dan India (5 persen).

Emisi GHG dari keempat negara tersebut menyumbang hampir setengah (49 persen) GHG global dan lebih tinggi dari negara-negara lainnya (rest of the world, ROW). Oleh karena itu, untuk mengurangi emisi GHG global sangat ditentukan oleh kesediaan keempat negara tersebut menurunkan emisi GHG-nya. Emisi GHG Indonesia hanya sekitar 4 persen. Oleh karena itu, tuduhan bahwa Indonesia adalah penghasil emisi GHG global terbesar adalah tidak benar dan tidak sesuai dengan data-data yang ada.

Gambar 3. Pangsa Indonesia dalam Emisi Gas Rumah Kaca Global 2010

Berdasarkan data IEA (2014), menunjukkan bahwa sumber GHG global sekitar 69 persen berasal dari sektor energi global, mulai dari proses produksi sampai konsumsi energi fosil (Gambar 4) seperti minyak bumi, batubara, gas dan produk turunannya. Sedangkan kontribusi pertanian dunia hanya menyumbang 11 persen yang didalamnya termasuk kebakaran hutan/lahan, emisi gambut dan limbah. Dengan data tersebut, menunjukkan bahwa penggunaan energi fosil merupakan sumber emisi GHG dunia terbesar. Oleh karena itu untuk mengurangi emisi tersebut, masyarakat dunia harus bersedia menurunkan konsumsi energi fosil atau menggantinya dengan energienergi beremisi rendah.

Gambar 4. Penyumbang GHG Global (IEA, 2014) * mencakup emisi kebakaran biomas, lahan gambut, limbah dan lainnya

DAMPAK PADA PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

Perubahan iklim global merupakan akibat dari pemanasan global. Dengan makin besarnya energi matahari yang terperangkap dalam atmosfer bumi menyebabkan terjadinya perubahan dalam iklim global (Gambar 5) antara lain: (1) Evaporasi meningkat, (2) Pemanasan/kenaikan temperatur air laut/samudera, (3) Perubahan kondisi tanaman dan hewan, (4) Salju dan es meleleh, (5) Badai meningkat, (6) Curah hujan meningkat, (7) Kekeringan dan kebakaran meluas dan lain-lain.

Gambar 5. Mekanisme Dampak Pemanasan Global Terhadap Perubahan Iklim Global (dimodifikasi dari http://www3.epa.gov)

Kombinasi perubahan keempat hal di atas mengakibatkan terjadinya berbagai bentuk perubahan bentuk iklim global seperti curah hujan meningkat, badai, kekeringan dan kebakaran serta anomali iklim seperti El Nino dan La Nina. Bentuk-bentuk perubahan iklim tersebut terjadi dan dirasakan di setiap negara-negara dunia. Banjir, badai, kekeringan dan kebakaran terjadi di setiap negara-negara dunia baik di Eropa, Amerika, Australia, Asia dan termasuk di Indonesia.

SOLUSI DARI INDUSTRI SAWIT

Setiap detik atmosfer bumi dijejali sampah karbondioksida dari kegiatan manusia di planet Bumi. Manusia, hewan, kendaraan bermotor serta pabrik-pabrik di seluruh dunia membuang (emisi) karbondioksida (gas rumah kaca) yang berlebihan ke atmosfer bumi, yang telah memicu terjadinya pemanasan global dan perubahan lingkungan sebagaimana diuraikan di atas.

Untuk mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi hanya ada dua cara kombinasi yakni (1) menurunkan emisi gas rumah kaca ke udara bumi dan (2) penyerapan kembali gas rumah kaca dari udara bumi. Cara kedua tersebut yakni penyerapan kembali gas rumah kaca dari udara bumi, perkebunan kelapa sawit dapat berperanan penting. Tanaman kelapa sawit (maupun tanaman hutan) memiliki kemampuan menyerap karbondioksida dari atmosfer bumi.

Melalui fotosintesa tanaman, karbondioksida yang ada di udara bumi diserap tanaman kemudian lewat metabolisme, karbondioksida dipecah menjadi karbon dan oksigen. Karbon kemudian diproses dan dirubah menjadi tubuh tanaman (akar, batang, daun) dan produksi tanaman berupa biomaterial maupun biofuel untuk kebutuhan manusia (Gambar 6). Sedangkan oksigen dikeluarkan ke atmosfer/udara bumi untuk kehidupan manusia, yang kita hirup saat menarik nafas.

Gambar 6 : Perkebunan Kelapa Sawit Menyerap Karbondioksida dari Atmosfer Bumi dan Penghasil Energi Terbarukan Generasi Pertama dan Generasi Kedua Secara Berkelanjutan (PASPI, 2016)

Tabel 1. Penyerapan Karbondioksida dan Produksi Oksigen antara Perkebunan Kelapa Sawit dan Hutan Tropis

Sumber: Henson (1999), PPKS (2004, 2005)

Jika dibandingkan antara kelapa sawit dan hutan (Tabel 1 ). Setiap hektar kebun sawit secara netto menyerap sekitar 64 ton karbondioksida setiap tahun dan menghasilkan oksigen sekitar 18 ton. Sedangkan hutan secara netto menyerap sekitar 42 ton karbondioksida dan menghasilkan oksigen sekitar 7 ton. Dengan demikian untuk fungsi penyerapan karbondioksida dari atmosfer bumi dan produksi oksigen, perkebunan kelapa sawit justru lebih unggul daripada hutan.

Karbondioksida yang diserap perkebunan kelapa sawit dari udara bumi kemudian disimpan dalam bentuk biomaterial dan biomas baik sebagai sumber energi emisi karbon redah seperti biodiesel, biopremium, bioaftur, biogas dan biolistrik. Selain menyerap kembali karbon dari atmosfer bumi, upaya penurunan emisi sangat penting dilakukan secara internasional.

Menurunkan emisi gas rumah kaca ke udara bumi berarti masyarakat internasional harus bersedia mengurangi konsumsi energi fosil (minyak bumi, batubara, gas) yang berarti menurunkan kesejahteraan setiap orang. Cara ini dapat dipastikan tidak feasible (sulit diterima). Oleh karena itu alternatif untuk menurunkan emsi gas rumah kaca adalah beralih kepada energi rendah emisi karbon (low carbon energy emission) dan dapat diperbaharui seperti biofuel. Kebun sawit Indonesia memberikan peran dan kontribusinya dalam kebijakan energi masa depan dunia tersebut. Industri minyak sawit menghasilkan energi generasi pertama berupa biodiesel (FAME) sebagai pengganti diesel (solar fosil).

Berbagai penelitian baik di Indonesia maupun di Eropa, menunjukkan bahwa dengan menggunakan Life Cycle Analysis penggantian bahan bakar diesel/solar dengan biodiesel sawit akan mengurangi emisi gas rumah kaca dari mesin diesel sekitar 50-60 persen. Bahkan menurut European Commission, apabila biodiesel sawit yang dihasilkan dari PKS dengan methane capture pengurangan emisi GHG dapat mencapai 62 persen (Gambar 7). Hasil penelitian Mathews and Ardyanto (2015), juga mendukung temuan Uni Eropa tersebut bahwa penggunaan biodiesel sawit sebagai pengganti diesel dapat menurunkan GHG di atas 60 persen.

Penghematan emisi GHG akibat penggunaan biodiesel berbahan baku sawit tersebut, lebih tinggi dibandingkan dengan penghematan emisi yang diperoleh dari biodiesel berbahan baku minyak rapeseed, minyak kedelai maupun minyak bunga matahari. Dengan kata lain, penggunaan biodiesel minyak sawit sebagai pengganti diesel dapat menurunkan emisi GHG yang lebih besar dibandingkan dengan jika digunakan biodiesel berbahan baku kacang kedelai, rapeseed maupun minyak bunga matahari.

Kebun sawit Indonesia juga menghasilkan energi generasi kedua (biomas) yang cukup besar dan bahkan lebih besar dari volume biomas gabungan yang dihasilkan kedelai, repeseed dan bunga matahari. Kebun sawit menghasilkan biomas sawit berupa tandan kosong (empty fruit bunch), cangkang dan serat buah (oil palm fibre and shell), batang kelapa sawit (oil palm trunk) dan pelepah kelapa sawit (oil palm fronds). Hasil study Foo-Yuen Ng, et al (2011) menunjukan bahwa untuk setiap hektar kebun sawit dapat menghasilkan biomas sekitar 16 ton bahan kering (dry matter) per tahun.

Produksi biomas sawit tersebut sekitar tiga kali lebih besar dari produksi minyak sawit (CPO) sebagai produk utama kebun sawit. Dengan luas kebun sawit Indonesia tahun 2015 sekitar 11 juta hektar, maka produksi biomas dapat mencapai 182 juta ton setiap tahun. Dengan teknologi (secara kimia, fisik, biologis) biomas tersebut dapat diolah menjadi bioetanol (biopremium). Pengalaman perusahaan KL Energy Corporation di USA misalnya setiap ton bahan kering biomas dapat menghasilkan sekitar 150-170 liter etanol. Sehingga potensi poduksi etanol dari biomas sawit dapat menghasilkan sekitar 26 juta kilo liter setiap tahun. Penggunaan biopremium sawit sebagai pengganti biopremium (gasoline) akan mengurangi emisi mesin yang menggunakan gasoline 100 persen.

Gambar 7. Pengurangan Emisi CO2 dari Berbagai Jenis Bahan Baku Biodiesel dibandingkan dengan Emisi Diesel (Sumber: European Commission Joint Research Centre)

KESIMPULAN

Pemanasan global merupakan peningkatan temperatur udara bumi akibat meningkatnya intensitas efek Rumah Kaca pada atmosfer bumi sehingga energi/sinar matahari yang terperangkap pada atmosfer bumi menjadi lebih besar dari alamiahnya. Peningkatan intensitas efek rumah kaca tersebut, disebabkan oleh peningkatan konsenterasi gas-gas rumah kaca khususnya emisi kabondioksida. Penyumbang emisi karbondioksida terbesar adalah dari konsumsi energi fosil seperti minyak bumi, batubara dan gas bumi. Dampak pemanasan global tersebut adalah perubahan iklim global yang ditandai antara lain oleh anomali iklim, banjir, kekeringan, badai, perubahan kondisi tanaman dan hewan dan lain-lain yang telah merugikan masyarakat dunia.

Untuk mengatasi pemanasan global dan dampaknya pada perubahan iklim tersebut adalah menurunkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi melalui dua cara kombinasi yakni menurunkan emisi gas rumah kaca ke udara bumi dan penyerapan kembali gas rumah kaca dari udara bumi. Menurunkan emisi gas rumah kaca ke udara bumi berarti masyarakat internasional harus bersedia mengurangi konsumsi energi fosil (minyak bumi, batubara, gas) dan menggantikannya dengan bahan bakar rendah emisi karbon seperti biofuel.

Perkebunan kelapa sawit dapat menjadi bagian penting dalam mengatasi masalah tersebut melalui dua cara yakni (1) penyerapan kembali gas karbondioksida dari udara bumi melalui proses fotosintesa perkebunan kelapa sawit dan (2) menggunakan biodiesel sawit sebagai pengganti solar fosil/diesel serta menggunakan biopremium sawit (dari biomas sawit) sebagai pengganti premium. Kombinasi biodiesel sawit dan biopremium sawit sebagai pengganti bahan bakar dapat menurunkan emisi mesin-mesin lebih dari 62 persen.

Source : PASPI