Industri Sawit Basis Sektor Energi Masa Depan

Setelah kebijakan mandatori B-15, B-20, B-30, serta dengan adanya pemanfaatan yang lebih optimal maka industri sawit dapat menjadi basis sektor energi di masa depan

Sumber energi dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yakni non-renewable energy yakni sumber energi fosil dan renewable energy (energi terbarukan) yakni energi yang diperoleh dari sumber daya yang dapat diperbaharui.  Salah satu yang sedang dikembangkan saat ini adalah biodiesel dari bahan nabati minyak sawit.

Industri Sawit Basis Sektor Energi Masa Depan

Industri sawit Indonesia telah tumbuh dengan pesat, dan semakin berkembang di industri hilir.  Kebijakan Mandatori B-15, B-20, B-30 telah membawa kemajuan baru Industri sawit Indonesia, dan tidak berhenti pada ekspor CPO dan turunannya, tetapi semakin berkembang dan menjawab salah satu isu penting dunia, yaitu isu energi yang terbarukan.  Isu energi tidak sama dengan isu pangan (food), dimana konsumen mulai menolak minyak sawit, dengan beragam variasi kampanye negatif, baik yang menyangkut kesehatan, hingga isu lingkungan, maupun orang utan, serta berbagai tekanan lainnya yang berambisi menghentikan pertumbuhan industri sawit Indonesia.

Namun sejauh ini, dengan pengembangan teknologi, Indonesia memiliki berbagai keunggulan, dan menjadi negara strategis di dunia pada satu masa dalam hal energi terbarukan ini, karena sejumlah faktor, yakni (a) Indonesia memiliki ketersediaan sumber bahan baku yang relatif berlimpah, (b) Sejauh ini pemanfaatan industri sawit untuk energi masih pada CPO, dan sebagian besar belum dikembangkan, khususnya dari tandan kosong yang dipandang sebagai limbah dan by product semata.

Disamping itu, Pemerintah Indonesia dapat mengubah kebijakan pengembangan industri sawit dalam bidang energi di masa mendatang, yakni (a) perencanaan strategis untuk berpindah dari energi fossil ke energi terbarukan, dan (b) mengubah pola kebijakan sentralistik ke kebijakan desentralisasi, dimana masing masing daerah (Provinsi) memiliki teknologi pengolahan energi, termasuk untuk bahan baku solar maupun premium di masing-masing daerah.  Dengan teknologi canggih yang dikembangkan, biomassa selulosa, seperti pohon dan rumput, juga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi etanol. Etanol dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan dalam bentuk murni, tetapi biasanya digunakan sebagai aditif bensin untuk meningkatkan oktan dan meningkatkan emisi kendaraan. Bioetanol banyak digunakan di Amerika Serikat dan di Brasil. Biaya energi untuk memproduksi bio-ethanol yang hampir sama dengan hasil energi dari bio-etanol.

Dengan paradigma ini, arah pengembangan industri sawit Indonesia di masa mendatang adalah menjadi salah satu negara strategis dalam  pengembangan energi terbarukan, dan sekaligus menjawab salah satu permasalahan global, yakni pengurangan emisi CO2 dan GHG.  Keberhasilan ini  sekaligus membantu negara negara maju dalam penurunan emisi CO2 tanpa sebagaimana tujuan dalam SDG’s, dan membantu negara negara maju untuk tetap tumbuh dan berkembang tanpa harus melakukan deindustrialisasi  Dengan demikian, Industri sawit merupakan basis energi masa depan Indonesia.

Source : Sawit.or.id