Kalah Bersaing, EU dan USA Tuduh Dumping Biodiesel Sawit

Produktivitas minyak sawit yang lebih tinggi dan harga yang lebih rendah dibanding bahan baku minyak nabati lain, membuat biodiesel sawit lebih kompetetif dibandingkan dengan biodiesel minyak nabati lainnya

Uni  Eropa (EU) dan Amerika Serikat (USA) dikenal promotor perdagangan bebas (free trade) dunia termasuk pendiri WTO (World Trade Organization). Kedua negara/kawasan tersebut sangat meyakini bahwa melalui perdagangan bebas (tanpa hambatan perdagangan) masyarakat mereka (dan masyarakat dunia) akan lebih sejahtera karena akan memperoleh produk-produk yang berkualitas dan harga yang kompetetif.

Kalah Bersaing, EU dan USA Tuduh Dumping Biodiesel Sawit

Namun realitasnya EU dan USA menentang sendiri keyakinannya bahkan cenderung menjadi pengecut, ketika produknya kalah bersaing dengan negara lain. Buktinya, dalam kasus biodiesel. Biodiesel EU (berbahan baku minyak bunga matahari, rapeseed) dan biodiesel USA (berbahan baku minyak kedelai) yang kalah bersaing dengan biodiesel sawit Indonesia, mengadu ke WTO dengan tuduhan biodiesel melakukan praktik dumping dan menggunakan subsidi.

Bulan Desember 2016, EU menggugat biodiesel sawit Indonesia ke WTO dengan tuduhan dumping dan subsidi. Kemudian USA tanggal 23 Maret 2017 lalu, mulai mendesak Kementerian Perdagangan USA untuk memberlakukan kebijakan anti dumping terhadap biodiesel sawit dan mendukung aduan EU ke WTO. Tuduhan dumping/subsidi pada biodiesel sawit Indonesia tersebut hanyalah retorika mencari alasan agar EU dan USA dapat menerapkan bea masuk biodiesel sawit ke negara tersebut sekitar 34-50 persen.  Jika tarif bea masuk setinggi itu diberlakukan, biodiesel mereka akan mampu kalahkan biodiesel sawit di pasar EU dan USA.

Subsidi yang dipersoalkan baik oleh USA dan EU. Produsen Biodiesel sawit Indonesia dituduh disubsidi melalui kebijakan bea keluar dan pungutan ekspor minyak sawit (sehingga bahan baku makin murah) dan penggunaan Dana sawit untuk mandatori biodiesel. Padahal  EU dan USA merupakan negara-negara yang paling besar memberikan subsidi untuk sektor pertanian. EU misalnya setiap tahun menggelontorkan sekitar 70 milyar Euro untuk pertaniannya termasuk pada rantai pasok tanaman rapeseed maupun bunga matahari. Demikian juga USA, tahun 2016 yang lalu saja memberikan subsidi sekitar 25 milyar dollar USA untuk pertanian termasuk pertanian kedelainya.

Kemampuan biodiesel sawit bersaing di pasar EU dan USA sebetulnya bukanlah tanpa alasan yang tidak diketahui oleh EU dan USA. Produktivitas minyak sawit yang hampir 10 kali dari produktivitas minyak kedelai, rapeseed maupun bunga matahari, menyebabkan biaya bahan baku biodiesel sawit menjadi murah. Dalam menghasilkan biodiesel sekitar 70-80 persen biaya produksi biodiesel adalah biaya bahan baku, sehingga pastilah biodiesel sawit lebih kompetetif dibanding biodiesel lain.

Terlepas dari hal-hal tersebut diatas, seharusnya biodiesel yang lebih murah pastilah menguntungkan konsumen biodiesel yakni masyarakat. Apalagi hampir semua negara sepakat bahwa penggantian solar/diesel dengan biodiesel adalah untuk mengurangi emisi karbon, sehingga dengan makin murahnya biodiesel justru dikehendaki untuk pengurangan emisi karbon.

Kasus gugatan dumping biodiesel sawit oleh EU dan USA membuktikan bahwa kedua negara/kawasan tersebut sesungguhnya tidak konsisten mendukung perdagangan bebas dan pengurangan emisi global.  Apa yang disuarakan kedua negara/kawasan tersebut dalam forum ekonomi global dan perubahan iklim global, ternyata hanya retorika untuk melindungi kepentingan mereka sendiri.

Source : Sawit.or.id