Kebijakan Nasional dalam Industri Sawit Menuju Ekonomi Indonesia pada Urutan 10 Besar Dunia

Penelitian ini dilatar belakangi keberhasilan Indonesia menjadi negara utama CPO di pasar dunia. Keberhasilan ini ingin ditransformasi kedalam pembangunan ekonomi Indonesia yang diprediksi akan mencapai peringkat ke-11 dunia pada tahun 2050.

Kondisi minyak nabati dunia memberikan peluang bagi Indonesia sebagai produsen utama dunia untuk tetap memimpin pasar CPO dunia, karena permintaan nabati dunia diproyeksikan oleh FAO (2012) akan dipenuhi oleh minyak sawit (CPO.).

Sejalan dengan itu, diperlukan kebijakan nasional dalam tata guna tanah di Indonesia, untuk memanfaatkan ketersedaan lahan yang ada, sekaligus menepis tuduhan negatif selama ini tentang deforestasi, dimana deforestasi merupakan fenomena umum dalam pembangunan semua negara di dunia.

Kawasan hutan Indonesia masih jauh di atas batas treshold dunia, dan dapat digunakan se-optimal mungkin untuk membawa Ekonomi Indonesia ke level 10 besar dunia.

PENDAHULUAN

Todaro (1998), mendefinisikan pembangunan merupakan proses multidimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dari struktur sosial sikap mental yang sudah terbiasa dan lembaga-lembaga nasional sebagai akselerator pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketimpangan, dan kemiskinan absolut.

Hal ini sejalan dengan pendapat Rustiadi et al,. (2005), yang menyebutkan bahwa proses pembangunan merupakan upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humanistik. Sesuai dengan kondisi geografis Indonesia, strategi yang dikembangkan saat ini adalah pembangunan bidang kemaritiman, yang relatif tertinggal selama ini.

Kebijakan pembangunan tersebut, sejalan dengan tujuan pembangunan nasional, dimana Indonesia merupakan negara agraris. Sebagai negara agraris, sektor pertanian adalah sektor utama yang diandalkan dalam pembangunan nasional. Dipandang dari segi sejarah pada masa lalu, peranan (share) sektor pertanian dalam sebagian indikator ekonomi Indonesia digambarkan dengan peranannya dalam perolehan Produk Domestik Bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja dan perolehan hasil ekspor dan lain-lain.

Kesadaran terhadap peran tersebut menyebabkan sebagian besar masyarakat masih tetap memelihara kegiatan pertanian meskipun negara telah beralih negara industri. Sejalan dengan visi pembangunan nasional yang telah menetapkan beberapa agenda strategis, antara lain: (1) Program strategis yang berhubungan dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan pengentasan kemiskinan, (2) Program strategis yang berhubungan dengan peningkatan sumber daya manusia, (3) Program strategis yang berhubungan dengan pembangunan infrastruktur, (4) Program strategis lainnya untuk menunjang pembangunan. Salah satu komoditas pertanian yang menjadi komoditas unggulan di Indonesia yaitu kelapa sawit.

Kelapa sawit menyumbangkan devisa yang cukup besar. Indonesia adalah negara dengan luas areal kelapa sawit terbesar di dunia yaitu 34.18% dari luas areal kelapa sawit dunia (Indonesia investment). Masalah yang dikaji dalam penelitian ini, khusus membahas kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap pembangunan nasional, khususnya di masa mendatang dengan melihat bagaimanakah kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap pendapatan nasional (PDB).

Setelah Indonesia menjadi Raja CPO di pasar dunia sejak tahun 2006, maka diperlukan studi lebih lanjut agar GDP Indonesia juga secara signifikan meningkat pada level yang semakin tinggi. Terdapat sejumlah hambatan yang saat ini dikembangkan untuk menahan laju perkembangan ekonomi Indonesia, seperti tekanan Uni Eropa dalam 1 dekade terahir, yang melahirkan kebijakan labeling Palm oil Free (POF), serta adanya resolusi sawit oleh Parlemen Eropa. Juga sejumlah “masukan” dari para penggiat lingkungan (environmentalist) dengan berbagai isu.

Secara positif, masukan masukan tersebut juga diperlukan, untuk membantu industri kelapa sawit Indonesia bertumbuh secara berkelanjutan (sustainable). Disamping itu, juga secara berbarengan muncul sejumlah opini negatif yang dibangun hingga dalam bentuk negative black campign.

Dalam kepentingan pembanguan bangsa Indonesia, diperlukan sudut pandang yang lebih luas dan bijaksana, agar lebih terdorong pada tujuan yang lebih besar untuk mensejahterakan bangsa Indonesia, bahkan sangat diperlukan National Policy yang akan membawa Indonesia menjadi negara maju, atau paling tidak dalam 10 besar dunia.

PROYEKSI PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA

2050 Perkembangan ekonomi pada horizon waktu jangka panjang bertujuan untuk memberikan gambaran visual adanya perbedaan yang signifikan antara keadaan saat ini dengan proyeksi di masa mendatang. GDP per kapita dunia pada harga konstan tahun 2005-2007 adalah 7.603 USD/kapita/tahun, diperkirakan akan mencapai 13.758 USD/kapita/tahun. Pertumbuhan GDP dunia rata-rata bertumbuah 2.47 % per tahun pada kurun waktu 2005-2030, dan sedikit leih rendah jika diukur dalam jangka panjang, 2005-2050 yakni 2,11 % per tahun. Pertumbuhan GDP per kapita dalam kurun waktu 2005-2050 adalah 1,36 % per tahun.

Rata-rata GDP per kapita di negara maju pada tahun 2005/2007 adalah 27.880 USD/kapita dan pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai 47.121 USD/kapita. Rata-rata GDP per kapita di negara sedang berkembang akan meningkat dari 2.350 tahun 2005/2007 menjadi 7.499 USD/kapita pada tahun 2050. Rata-rata pertumbuhan GDP per kapita di negara maju adalah 1.2 % per tahun, sedangkan di negara berkembang sebesar 2,67% per tahun.

Jika dibandingkan dengan rata-rata GDP per kapita di negara sedang berkembang, rata-rata tertinggi adalah kawasan Asia Timur, yang meningkat dari 2.738 USD/kapita menjadi 14.428 USD/kapita pada tahun 2050, sebaliknya, terendah adalah di Asia Selatan dan Sub Sahara Afrika. Diantara negara sedang berkembang, terdapat 45 negara yang memiliki tingkat GDP per kapita dibawah 1000 USD/kapita/tahun.

Dampak dari meningkatnya penduduk global, dan disertai peningkatan GDP maupun GDP per kapita adalah meningkatnya konsumsi pangan di masa mendatang. Kedua variabel tersebut (pertambahan penduduk dan pertumbuhan pendapatan per kapita) juga akan mendorong pertumbuhan konsumsi per kapita minyak nabati dunia, dan akan mempengaruhi total konsumsi minyak nabati dunia maupun tingkat produksi minyak nabati dunia di masa mendatang.

Tabel 1. Perkembangan GDP berdasarkan Kawasan (Juta USD, pada Harga Konstan 2005)

Sumber: FAO (2012)

PROYEKSI EKONOMI GLOBAL MENUJU

2050 Menurut data PBB, pada tahun 2010 Gross Domestik Product (GDP) dunia adalah 47 920 milyar USD (2010). Dalam 23 tahun ke depan (tahun 2033) GDP dunia tersebut akan meningkat 2 kali lipat, dan dalam waktu yang lebih pendek, yakni 17 tahun berikutnya (2050), GDP dunia akan meningkat 3 kali lipat menjadi 148.191 milyar USD (untuk menghilangkan efek inflasi, data yang digunaan tersebut adalah data constant price dengan tahun dasar 2005).

Perkembangan GDP dunia disajikan pada Gambar 1. Berdasarkan kawasan, selama kurun waktu 1980 s/d 2030, GDP terbesar adalah Uni Eropa, yang meningkat dari 7.961 milyar USD (1980) menjadi 19.334 USD pada tahun 2030. Sedangkan posisi kedua terbesar adalah Amerika Serikat, dengan GDP 5.720 milyar USD (1980) menjadi 27.700 USD pada tahun 2050. Peringkat ketiga adalah negara-negara maju (Developed Countries) dengan peningkatan dari 4.245 milyar USD menjadi 14.001 milyar USD pada kurun waktu yan sama.

Perkembangan yang begitu pesat ditunjukkan oleh Negara Asia Timur yang akan menempati posisi teratas sejak tahun 2030 hingga proyeksi tahun 2050. (Negara Asia Timur mencakup : China, Hong Kong, Korea, Indonesia, Malaysia, Mongolia, Philippines, Thailand, Brunei Darussalam dan Singapura). Pada tahun 1980, GDP kawasan Asia Timur adalah 674 milyar USD. Dengan pertumbuhan yang pesat (8.2% per tahun), GDP Kawasan asia Timur telah menyamai negara-negara maju pada tahun 2020, dengan GDP sebesar 11.692 milyar USD.

(Sementara GDP Negara-negara maju pada tahun yang sama adalah 9.872 milyar USD). Kemudian, tahun 2030, GDP Kawasan asia Timur telah mencapai 21.073 milyar USD, dan sekaligus berhasil mengalahkan GDP Amerika Serikat (19.900 milyar USD) serta Uni Eropa (19.334 milyar USD). Laju pertumbuhan GDP Asia timur jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat (2.1% per tahun) dan Uni Eropa (2.7% per tahun).

Disamping itu, Kawasan Asia Selatan juga patut dipertimbangkan, karena akan menempati peringkat keempat pada tahun 2050, setelah Asia Timur, Amerika Serikat dan Uni Eropa. (Asia Selatan meliputi : Bangladesh, India, Nepal, Pakistan, Sri Lanka dan Bhutan; dan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi adalah India).

Tahun 1980, GDP Asia Selatan baru sekitar 263 milyar USD. Tahun 2010 telah mencapai 1.431 milyar USD (dengan laju pertumbuhan 6.5% per tahun), tahun 2030 telah mencapai 5.331 milyar USD, dan sekaligus mengalahkan kawasan Amerika Latin (5.066 milyar USD), kawasan Afrika Utara (4.556 milyar USD).

Tahun 2050 GDP kawasan Asia Selatan akan mencapai 16 020 milyar USD dan menggungguli GDP Negara-negara maju (Developed Countries) dengan GDP 14.001 milyar USD. Hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan ekonomi Asia Selatan yang cukup pesat, yakni rata-rata 6.6% per tahun, sementara pertumbuhan ekonomi Negara-negara Maju pada kurun waktu yang sama (2030-2050) adalah 1.1% per tahun.

Gambar 1. Perkembangan GDP Dunia Tahun 1980 dan Proyeksi 2050 (Sumber: UN, 2012)

Diperkirakan Indonesia akan menempati peringkat ke-11 GDP terbesar pada tahun 2050. Perkembangan GDP beberapa negara menuju tahun 2050 disajikan pada Tabel 2. Hingga tahun 2030, Amerika Serikat menempati urutan ke-1, namun pada tahun 2050 turun menjadi peringkat kedua, digantikan oleh China. Negara China pada tahun 1980 masih menempati posisi ke 19, namun tahun 2000 telah menempati peringkat ke-7 dan sejak tahun 2010 hingga 2030 menempati peringkat ke-2, serta berhasil menempati peringkat ke-1 pada tahun 2050.

Hal ini ditopang oleh pertumbuhan ekonomi China yang mencapai rata-rata 10.06% per tahun (1995-2025), dan menurun pada 2030-2050 menjadi 5.23% per tahun. Sementara pada kurun waktu yang sama, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat adalah 1.44% per tahun dan sedikit melambat yakni 1.26 % per tahun. Negara India juga memiliki perkembangan yang pesat, dari peringkat 18 tahun 1980 menjadi peringkat ke 13 tahun 2000, dengan pertumbuhan ekonomi 3.58% per tahun.

Tahun 2010 dan 2015 menempati peringkat ke-8, dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin besar, yakni 5.72% per tahun. Tahun 2020 hingga 2050 ratarata pertumbuhan ekonomi India meningkat menjadi 6% per tahun, dan membawa India pada peringkat ke-3 tahun 2030 dan peringkat ke-2 pada tahun 2050. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga telah berhasil menghantarkan Indonesia dari peringkat ke-32 tahun 1980 menjadi peringkat ke-11 pada tahun 2050.

Rata-rata pertumbuhan GDP Indonesia tahun 2010 hingga 2030 adalah 6% per tahun, dan sedikit melambat pada tahun 2030 ke 2050 menjadi 4.99 % per tahun. Tahun 2015 GDP Indonesia mencapai 481 000 Juta USD, dan tahun 2030 meningkat 2,2 kali lipat menjadi 1.060.000 juta USD, dan tahun 2050 akan mencapai 2.500.000 juta USD.

Tabel 2. Peringkat (Ranking) GDP Negara Ekonomi Terbesar Dunia

Sumber: UN (2012)

GDP PER KAPITA BERSASARKAN KAWASAN DAN NEGARA

GDP per kapita tertinggi adalah Amerika Serikat (AS), yakni 25.712 USD/kapita/tahun pada tahun 1980, naik menjadi 40.486 USD pada tahun 2010. Tahun 2050, diperkirakan akan mencapai 68 609 USD/kapita/tahun. Posisi kedua setelah AS adalah Eropa Barat (Norwegia dan Switzerland).

Posisi ketiga terbesar adalah kelompok negara maju, dimana tahun 2010 rata-rata GDP per kapita adalah 25.198 USD/kapita/tahun, Tahun 2020 menjadi 30.942 USD/kapita/tahun dan tahun 2050 mencapai 46.919 USD/kapita/tahun.

Perkembangan GDP per kapita di kawasan Asia Timur tampak cukup menarik, dimana tahun 1990 GDP per kapita adalah 12.629 USD/kapita/tahun (kurang lebih sama dengan Afrika Utara 12.221 USD), dan tahun 2030 meningkat pesat dan setara dengan Uni Eropa, masing-masing 32.500 dan 32.529 USD/kapita/tahun, kemudian tahun 2050 telah berhasil mencapai 47.431 USD/kapita/tahun dan melampaui GDP Developed Countries (46.919 USD/kapita/tahun).

Pada kurun waktu 2015-2050, proyeksi rata-rata laju pertumbuhan GDP per kapita dunia adalah 1.95 % per tahun. Benua Asia secara keseluruhan memiliki laju pertumbuhan yang sangat pesat, meliputi kawasan Asia Selatan meningkat 6.17% per tahun, Asia Timur 2.37 % per tahun, Asia Tengah 3.48 % per tahun. Kawasan Sub Sahara Afrika memiliki laju pertumbuhan GDP per kapita rata-rata 4.94 % per tahun.

Jika dibandingkan dengan kawasan lainnya, kawasan Eropa Timur meningkat dengan laju 2.09% per tahun, Eropa Barat 1.29 % per tahun dan Uni Eropa 1.55 % per tahun. Pertumbuhan GDP per kapita di negara maju dan Amerika Serikat masing-masing adalah 1,62% per tahun dan 1.26% per tahun Beberapa negara terpilih menyajikan perkembangan GDP per kapita, yang berhubungan dengan konsumsi di negara tersebut (Gambar 2).

GDP per kapita tertinggi adalah Singapura, diikuti Malaysia dan Uni Eropa serta Malaysia. Indonesia relatif masih rendah dan kurang lebih sama dengan India. Yang menarik adalah GDP per kapita China, yang bertumbuh pesat dari tahun 2015 hingga 2050 dengan posisi sedikit di bawah Amerika Serikat.

Gambar 2. GDP per Kapita beberapa negara terpilih 1980-2050 (Sumber: UN, 2012)

PROYEKSI KONSUMSI MINYAK NABATI UTAMA GLOBAL 2050

Seiring dengan semakin meningkatnya penduduk dan GDP, maka konsumsi minyak nabati juga akan meningkat per kapita per tahun, dan hal ini akan mempengaruhi pasar minyak nabati dunia di masa mendatang Tahun 2014, konsumsi minyak nabati utama dunia adalah 136.13 juta ton, yang terdiri atas minyak sawit (palm oil) 52.45 juta ton (38.53%), minyak kedele (soybean oil) 45.01 juta ton (33.09%), minyak repeseed (rapeseed oil) 25.30 juta ton (18.59%) dan minyak bunga matahari (sunflower oil) 13.37 juta ton (9.82%).

Dibandingkan dengan tahun 2020, konsumsi minyak nabati utama dunia meningkat 12.49% menjadi 153,14 juta ton. Sumber konsumsi utama minyak nabati dunia diperoleh dari minyak sawit 39.85%, minyak kedele 32.81%, minyak repeseed 18.01% dan minyak bunga matahari 9.34% (Gambar 3). Perubahan pangsa di atas dipengaruhi oleh perbedaan laju pertumbuhan konsumsi masing-masing minyak nabati (Gambar 4).

Tahun 2015-2030, rata-rata laju pertumbuhan konsumsi minyak sawit adalah 3.15% per tahun, dan cenderung seamakin tinggi pada tahun 2030-2050, yakni 3.46 % per tahun. Sedangkan rapeseed oil cenderung melambat dari 1.34 % per tahun menjadi 1.087 % per tahun. Demikian halnya dengan soybean oil dan sunflower oil, juga cenderung melambat, masing-masing dari 2.58 ke 2.31 % per tahun dan dari 1.06 ke 0.90 % per tahun. Hal ini menunjukkan pola konsumsi masyarakat dunia cenderung semakin tinggi pada minyak sawit.

Gambar 3. Proyeksi Konsumsi Minyak Nabati Utama Dunia 2050

 

Gambar 4. Laju pertumbuhan Konsumsi Minyak Nabati Utama Dunia

PROYEKSI PRODUKSI MINYAK NABATI UTAMA GLOBAL 2050

Tahun 2014, produksi minyak nabati utama dunia adalah 137,44 juta ton, yang terdiri atas minyak sawit (palm oil) 53.41 juta ton (38.91%), minyak kedele (soybean oil) 45.12 juta ton (32.84%), minyak repeseed (rapeseed oil) 25.28 juta ton (18.4%) dan minyak bunga matahari (sunflower oil) 13.55 juta ton (9.9%). Dibandingkan dengan tahun 2020, produksi minyak nabati utama dunia meningkat 12.35% menjadi 154.42 juta ton.

Sumber produksi utama minyak nabati dunia adalah minyak sawit 40.2%, minyak kedele 32.6%, minyak repeseed 17.8% dan minyak bunga matahari 9.4%. Perubahan tersebut menunjukkan pangsa minyak sawit naik 1.3%, sedangkan ketiga minyak nabati lainnya menurun.

Demikian halnya dengan proyeksi tahun 2050, estimasi produksi minyak nabati utama dunia akan mencapai 358,56 juta ton, atau meningkat 2.6 kali lipat dari kondisi saat ini. Produksi masingmasing minyak nabati adalah minyak sawit 189.66 juta ton (52.9%), minyak kedele 111.07 juta ton (31.0%), minyak repeseed 38.72 juta ton (10.8%) dan minyak bunga matahari sebesar 19.11 juta ton (5.3%). (Gambar 5),.

Perkembangan di atas menunjukkan trend positif pada keempat minyak nabati tersebut. Namun bila dibandingkan perubahan pangsa masing-masing, terlihat bahwa produksi masing-masing minyak nabati cenderung melambat pada tahun 2030-50.

Gambar 5. Proyeksi Produksi Minyak Nabati Utama Dunia 2050

KEBIJAKAN NASIONAL DALAM TATA GUNA TANAH DI INDONESIA

Saat ini, luas hutan Indonesia adalah 98,1 juta Ha. Areal Berhutan tersebut berdasarkan kondisi penutupan lahan/ vegetasi terdiri atas Hutan Primer seluas 46.7 juta Ha (45.1 juta Ha di dalam kawasan hutan, 1.52 juta Ha di APL), Hutan Sekunder 46.4 juta Ha (40.8 juta Ha di kawasan hutan, 5.6 juta Ha di APL) dan Hutan Tanaman (hutan tanaman industri hasil reboisasi) seluas 4.9 juta Ha (3.04 juta Ha dikawasan hutan, 1.89 di APL).

Sedangkan Areal Tak Berhutan sekitar 56 persen berada di APL dan 44 persen ber-ada di Kawasan Hutan. Dengan demikian, luas wilayah yang benar-benar digunakan oleh sektor-sektor pembangunan (diluar sektor kehutanan) hanyalah seluas 50.4 juta Ha atau hanya sekitar 27 persen dari luas daratan Indonesia. Sedangkan yang digunakan sektor kehutanan sendiri (kawasan hutan dan hutan di APL) adalah 137.4 juta Ha atau sekitar 73 persen dari luas daratan Indonesia.

Tata guna tanah yang demikian sangat tidak rasional. Sektor-sektor pembangunan yang menghidupi 250 juta penduduk, penyumbang 99.4 persen PDB nasional dan menyumbang USD 190 miliar ekspor nasional, hanya memperoleh alokasi lahan 27 persen daratan nasional. Sementara sektor kehu-tanan yang hanya menyumbang 0.6 persen PDB nasional dan USD 4.5 miliar ekspor, memperoleh alokasi 73 persen dari daratan nasional. Jika dibandingkan dengan negaranegara lain (Tabel 3), makin terlihat bahwa ratio tata guna tanah nasional jauh dari apa yang diterima sebagai rasional seperti yang terjadi di negara lain.

Persentasi hutan Indonesia jauh lebih tinggi yakni 52 persen dari luas daratan. Dan hutan yang dimiliki Indonesia tersebut sekitar 50 persen merupakan hutan primer. Jerman dan Amerika Serikat hanya memiliki areal hutan masing-masing 32 dan 33 persen dari luas daratannya. Bahkan Perancis dan Belanda lebih rendah lagi yakni hanya 29 dan 11 persen dari luas daratan.

Area hutan negara-negara Kawasan Eropa maupun Amerika Serikat tersebut bukan lagi hutan primer (kecuali sebagian di Alas-ka). Negara-negara sub-tropis seperti Eropa, Amerika Serikat sudah lama menghabiskan hutan alam. Mathew (1983) mengemukakan sejak tahun 1600-1980-an negara-negara sub tropis telah menghabiskan hutan alam primer seluas 653 juta Ha.

Amerika Serikat juga telah menghabiskan hutan alam primer selama kurun waktu tersebut (www.wordresouces/ virgin-forest-southern-usa) untuk pembangu-nan. Sehingga saat ini negaranegara tersebut menjadi negara industri maju dan menikmati pendapatan per kapita USD 53 ribu per kapita Amerika Serikat) dan USD 34 ribu (Uni Eropa). Di Kawasan Asia juga, persentasi hutan dari luas daratan lebih rendah dari Indonesia. India hanya memiliki area hutan 23 persen dari luas daratan.

Demikian juga China hanya 22 persen dari luas daratan. Besarnya persentasi hutan dari luas daratan di Indonesia menyebabkan luas areal pertanian (agricultural land) menjadi relatif kecil dan terendah dibandingkan negara-negara tersebut.

Indonesia sebagai negara agraris dan perekonomiannya masih berbasis pertanian hanya mengalokasikan lahan perta-nian sekitar 23.7 persen dari luas daratan. Sementara India dan China mengalokasikan untuk lahan pertanian berturut-turut 60.3 dan 54.8 persen dari luas daratan.

Amerika Serikat, Jerman, Perancis dan Belanda sebagai negara industri maju dan memiliki penda-patan per kapita 10 kali lipat dari Indonesia, masih mengalokasikan lahan pertanian diatas 40 persen dari luas daratan. Dengan ukuran rasionalitas relatif dengan negara lain tersebut, sangat jelas bahwa tata guna tanah di Indonesia masih jauh dari rasional.

Proporsi hutan dari luas daratan terlalu besar sementara proporsi lahan pertanian terlalu kecil. Oleh karena itu, kebijakan tata guna tanah di Indonesia kedepan perlu dirubah menuju tata guna tanah yang lebih rasional. Undang-undang No 41/1999 tentang Kehutanan menyebutkan bahwa proporsi hutan yang harus dipertahankan untuk menja-min pembangunan yang berkelanjutan adalah minimum 30 persen dari luas daratan.

Oleh karena itu, merubah tata guna tanah dari ratio Kawasan Komersial dengan Kawasan hutan 27-73 saat ini, secara konstitusional dapat dirubah menjadi ratio 66-34. Dengan sasaran 34 persen areal hutan sudah diatas yang dipersyaratkan undang-undang tersebut. Tentu saja untuk menuju ratio rasional 66-34 tersebut harus memperhatikan kelestarian alam dan biodiversity (High Concervation Value dan High Carbon Stock) yakni hutan lindung dan hutan konservasi. Kedua jenis hutan tersebut harus dipertahankan dan diperbaiki.

Tabel 3. Perbandingan Beberapa Negara Proporsi Hutan dan Lahan Pertanian dari Land Area (FAO, 2013)

PENUTUP

Keberhasilan Indonesia menjadi negara utama CPO di pasar dunia sejak tahun 2006, merupakan salah pendorong, pembangunan ekonomi Indonesia untuk mencapai peringkat ke-10 dunia pada tahun 2050. Pasar minyak nabati dunia membuka peluang bagi Indonesia sebagai produsen utama dunia untuk tetap memimpin pasar CPO dunia, karena CPO merupakan sumber utama dalam memenuhi demand minyak nabati dunia (2012).

Sejalan dengan itu, diperlukan suatu kebijakan nasional dalam tata guna tanah di Indonesia, untuk memanfaatkan ketersedaan lahan yang ada, sekaligus menempis persepsi negatif selama ini tentang deforestasi, dimana deforestasi merupakan fenomena umum dalam pembangunan semua negara di dunia. Kawasan hutan Indonesia masih jauh di atas batas treshold dunia, dan dapat digunakan seoptimal mungkin untuk membawa Ekonomi Indonesia ke level 10 besar dunia.

Source : Paspimonitor.or.id