Kebun Sawit Indonesia “Tambang” Biofuel Generasi Kedua

Kebun sawit Indonesia menghasilkan biomas sekitar 182 juta ton per tahun dan jika diolah lebih lanjut dapat menghasilkan sekitar 27 juta kilo liter bioetanol

gapki-biofuel-generasi-kedua
Kebun Sawit Indonesia “Tambang” Biofuel Generasi Kedua

Dalam kebijakan energi Masyarakat Uni Eropa (European Union’s Renewable Energy Directives, RED) maupun di Amerika Serikat (US Renewable Fuels Standard, RFS) merekomendasikan penggunaan energi biofuel generasi kedua (second generation biofuel) seperti biomas sebagai energi paling berkelanjutan dunia. Penggunaan energi generasi pertama (first generation biofuel) yakni dari produksi pertanian/perkebunan dinilai tidak berkelanjutan karena akan menciptakan persaingan penggunaan hasil pertanian untuk pangan dan energi (tradeoff fuelfood).

Lagi-lagi kebun sawit Indonesia memberikan peran dan kontribusinya dalam kebijakan energi masa depan dunia tersebut. Selain menghasilkan energi generasi pertama (biodiesel, FAME), kebun sawit Indonesia juga menghasilkan energi generasi kedua (biomas) yang cukup besar dan bahkan lebih besar dari volume biomas gabungan yang dihasilkan kedelai, repeseed dan bunga matahari.

Kebun sawit menghasilkan biomas sawit berupa tandan kosong (empty fruit bunch), cangkang dan serat buah (oil palm fibre and shell), batang kelapa sawit (oil palm trunk) dan pelepah kelapa sawit (oil palm fronds). Hasil study Foo-Yuen Ng, et al (2011) menunjukan bahwa untuk setiap hektar kebun sawit dapat menghasilkan biomas sekitar 16 ton bahan kering (dry matter) per tahun. Produksi biomas sawit tersebut sekitar tiga kali lebih besar dari produksi minyak sawit (CPO) sebagai produk utama kebun sawit. Dengan luas kebun sawit Indonesia tahun 2015 sekitar 11 juta hektar, maka produksi biomas dapat mencapai 182 juta ton setiap tahun.

Kebun sawit Indonesia ternyata bukan hanya “tambang” biodiesel terbesar dunia tetapi juga gudangnya biomas. Uniknya “tambang” biofuel kebun sawit tersebut, diproduksi secara bersama (joint product) dan tidak saling menggantikan. Peningkatan produksi minyak sawit juga diiringi peningkatan produksi biomas.

Biomas kebun sawit dapat diolah menjadi bioetanol (pengganti premium/gasoline). Menurut pengalaman KL Energy Corporation (2007) setiap ton bahan kering biomas dapat menghasilkan 150 liter etanol. Hal ini berarti dengan produksi biomas kebun sawit Indonesia sebesar 182 juta ton per tahun, dapat menghasilkan 27 juta kilo liter etanol setiap tahun atau hampir 60 persen dari kebutuhan premium di Indonesia. Dengan volume produksi etanol dari biomas sawit yang demikian, bukankah kebun sawit Indonesia sebagai “tambang” etanol atau biopremium besar?

Selain biomas dari kebun sawit juga potensial dihasilkan biogas (bio methane) melalui pemanfaatan POME (limbah PKS). Dengan produksi POME sebesar 147 juta ton per tahun maka mampu menghasilkan 4127 juta kubik biogas setiap tahun. Biogas ini dapat mengurangi konsumsi gas alam.

Kebun sawit ternyata bukan hanya sumber pangan tetapi juga penghasil energi terbarui yakni biodiesel, bio etanol dan biogas. Ketiga energi terbarui tersebut dapat menjadi pengganti energi tak terbarui (energi fosil). Biodiesel pengganti solar, bio etanol pengganti premium dan biogas pengganti gas bumi.

Source : Sawit.or.id