Mudik, Lebaran dan Industri Sawit

Selamat Menyambut Idul Fitri 1438 H

Mudik dan Lebaran merupakan salah satu perhelatan sosial-religius terbesar setiap tahun. Perhelatan yang melibatkan hampir 250 juta penduduk Indonesia lintas etnis, agama, desa, kabupaten, kota dan propinsi.

Mudik, Lebaran dan Industri Sawit

Dalam even perhelatan nasional yang demikian juga melibatkan hampir semua industri. Salah satunya adalah industri sawit nasional. Industri sawit ikut berkontribusi dalam mempersiapkan even nasional tersebut. Penyediaan bahan pangan seperti minyak goreng, mentega yang umumnya meningkat kebutuhannya pada even nasional tersebut, dapat disediakan oleh industri sawit nasional sampai ke desa-desa dan warung-warung diseluruh pelosok Indonesia. Minyak goreng dan mentega diperlukan baik untuk penyediaan bahan pangan di setiap rumah tangga maupun untuk pembuatan roti-rotian. Kita tidak pernah lagi menghadapi kelangkaan minyak goreng dan mentega karena kita sudah memiliki industri yang kuat.

Selain berupa bahan pangan, industri sawit juga menyediakan energi transportasi yang kita perlukan pada musim perhelatan akbar tersebut. Transportasi pribadi maupun publik yang berbahan bakar solar/diesel, sudah mengandung sekitar 20 persen biodiesel sawit. Kebijakan pencampuran solar dengan biodiesel sawit selain ditujukan untuk menghemat devisa impor solar, juga untuk membuat lingkungan makin bersih. Mengganti solar dengan biodiesel sawit mengurangi emisi karbon sekitar 60 persen.

Bukan hanya itu kontribusi industri sawit kita. Kontribusi terbesarnya sesungguhnya adalah dalam bidang sosial ekonomi. Kebun-kebun sawit Indonesia berkembang di pelosok-pelosok Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi yakni pada sekitar 200 lebih kabupaten. Sedangkan industri pengolahannya dan jejaring distribusinya banyak berkembang di Pulau Jawa. Sebagian kebun-kebun sawit tersebut juga dimiliki oleh petani-petani dari Pulau Jawa.

Perkembangan kebun-kebun sawit tersebut menciptakan kesempatan kerja dan berusaha yang luas sehingga menarik migrasi tenaga kerja dari Pulau-Pulau padat penduduk seperti Pulau Jawa. Tidak hanya itu, sentra-sentra sawit tersebut juga menjadi pasar bagi produk bahan pangan yang dihasilkan sentra pangan nasional khsusnya Pulau Jawa. Kebutuhan bahan pangan, sandang, perabot rumah tangga sentra-sangat sawit Pulau Sumatera dan Kalimantan sebagian besar di pasok dari Pulau Jawa. Deretan truk-truk pengangkut bahan pangan, sandang, perabot rumah tangga  dari Pulau Jawa menuju Sumatera dan Kalimantan, merupakan pemandangan yang biasa kita saksikan pada pelabuhan penyeberangan setiap tahun.

Hal yang menarik lagi adalah kehadiran kuliner di sentra-sentra sawit Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Berbagai kuliner khas Pulau Jawa seperti Warung Tegal, Soto Madura, Soto Lamongan, Pecel Lele, dll dengan mudah kita temukan di kota-kota kecamatan/kabupaten sentra sawit pada tiga Pulau Sawit tersebut.

Pendek kata, industri sawit telah mengintegrasikan ekonomi Pulau Jawa dengan Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi secara simbiosis mutualisme. Kesempatan kerja yang luas dan peningkatan pendapatan terjadi bukan hanya bagi mereka yang terlibat langsung dengan kebun sawit (petani sawit, karyawan) tetapi juga mereka yang menyediakan kebutuhan sembako dan sarana produksi sawit pada 200 kabupaten sentra sawit.

Pada musim mudik dan Lebaran ini, sebagian besar mereka yang berusaha pada sentra-sentra sawit tersebut akan Mudik ke kampung halamannya di Pulau Jawa. Mudik dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi menuju Pulau Jawa makin besar dari tahun ke tahun. Mereka yang umumnya memiliki pendapatan yang lebih lumayan akan membelanjakan uangnya di kampung halamanya baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk dijual ke sentra sawit,  makin memutar ekonomi Pulau Jawa lebih lanjut.

-Selamat Mudik dan menyambut Idul Fitri 1438 H.-

Source : Sawit.or.id