GAPKI: B30 Tingkatkan Konsumsi Dalam Negeri, Diharapkan Mengerek Harga

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan bahwa pasar domestik kini menjadi harapan penyerapan produksi minyak sawit (crude palm oil/CPO) Indonesia, menyusul meningkatnya produksi. Demikian keterangan Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono di sela-sela berlangsungnya Konferensi 15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Kamis (31/10).

Data Gapki menyebutkan, produksi minyak sawit Indonesia sampai dengan Agustus 2019 mencapai 34,7 juta ton atau sekitar 14% lebih tinggi dari produksi periode yang sama tahun 2018. Produksi bulan Agustus naik 8,7% dibandingkan produksi bulan Juli. Kenaikan produksi dijumpai hampir di semua sentra produsen sawit. “Pada periode ini sebenarnya iklim kurang bersahabat untuk kelapa sawit, terutama terjadinya kekeringan di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan, tetapi efek kekeringan tersebut baru akan terasa satu atau dua tahun kemudian,” katanya.

Gapki mencatat, konsumsi domestik minyak sawit sampai dengan bulan Agustus mencapai 11,7 juta ton atau sekitar 44% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan terbesar terjadi di konsumsi domestik adalah untuk biodiesel meningkat dengan 122%. Konsumsi domestik bulan Agustus sekitar 1,5 juta ton atau 5% lebih tinggi dari konsumsi bulan Juli. Ini berarti permintaan domestik sudah kembali ke kondisi normal pasca lebaran. Ekspor Sementara itu di sisi ekspor.

Tercatat sampai dengan Agustus 2019, ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 22,7 juta ton atau sekitar 3,8% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Volume ekspor minyak sawit bulan Agustus 1% lebih rendah dibandingkan dengan ekspor bulan Juli walaupun harga rata-rata CPO pada Agustus sekitar US$ 40-50 lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada Juli.

Volume ekspor CPO turun sebesar 95 ribu ton yang terkompensasi dengan kenaikan ekspor produk turunannya sebesar 90 ribu ton. Tiomgkok dan India masih merupakan tujuan ekspor utama. Kenaikan ekspor terbesar terjadi dengan destinasi Tiiongkok yang naik dengan 150 ribu ton dan ke Timur Tengah yang naiik dengan 110 ribu ton dan ke AS yang naik dengan 90 ribu ton.

Penurunan ekspor juga terjadi dengan tujuan India, Bangladesh, Pakistan dan EU. Pada bulan Agustus ekspor biodiesel mengalami penurunan dibandingkan bulan Juli yaitu dari 187 ribu ton menjadi 162 ribu ton, tidak tercatat adanya ekspor biodiesel ke EU. Stok minyak nasional akhir Agustus diperkirakan naik menjadi 3,8 juta ton atau bertambah sekitar 100 ribu ton dari stok bulan Juli dan ini merupakan stok tertinggi tahun ini. Harga rata-rata CPO CIF Rotterdam bulan Agustus mencapai USS 541 per metric ton dan merupakan rata-rata bulanan tertinggi sejak Februari 2019.

“Di akhir Agustus harga masih menunjukkan tren naik, kita berharap harga terus naik. Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit perlu memperkuat pengaruhnya dalam keseimbangan supply-demand dan pembentukkan harga. Implementasi B20 dan segera dengan B30 pasti akan meningkatkan konsumsi dalam negeri dan diharapkan akan mengerek harga,” ujar Mukti Sardjono.

Tetapi, lanjut dia, mengingat harga minyak sawit dan minyak bumi yang fluktuatif maka pengaturannya perlu disusun sedemikian rupa sehingga tidak membelenggu Pertamina maupun produsen biodiesel. Hal lain yang perlu dilakukan adalah penggunaan langsung CPO untuk pembangkit PLN yang saat ini sudah dilakukan beberapa uji coba di beberapa daerah, serta peningkatan kemampuan mengendalikan stok dengan menambah kapasitas tangki di PKS. “Mengapa di PKS? Karena biaya energinya lebih murah dan dapat menjadi menjadi fasilitas pendukung tambahan di PKS ketika terjadi ledakan produksi maupun gangguan transportasi,” pungkas Mukti Sardjono.

Source: investor.id | Gapki: Pasar Domestik Menjadi Harapan

Copyright ©2019 Indonesian Palm Oil Association (IPOA) All rights reserved.
Contact Us | About GAPKI | GAPKI Conference | Location Maps