GAPKI dan Paya Pinang Inisiasi Sorgum Sebagai Tanaman Sela Program Peremajaan Sawit

SERGAI, SAWIT INDONESIA– GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) melalui Cabang Sumatera Utara bersama  Paya Pinang Group membentuk Tim Kerja Sama Penelitian Penanaman Sorgum di antara tanaman sawit yang diremajakan berlokasi di kebun Mendaris, Paya Pinang Group seluas hampir 30 hektar. Panen sorgum dapat dilakukan setelah enam bulan berlangsung masa persiapan dan penanaman. Dari penelitian ini, sorgum berdampingan dengan sawit membuktikan bahwa produk komoditas unggulan Indonesia sangat akrab terhadap lingkungan.

“Sorgum sangat cocok dijadikan tanaman sela dalam peremajaan sawit rakyat (PSR) karena masa panen yang singkat. Dalam waktu 4 bulan sudah bisa panen, dan sekali tanam bisa untuk tiga kali panen selama satu tahun. Sorgum sangat mendukung ketahanan pangan saat masa replanting dan sebagai tambahan biaya perawatan sawit yang ditanam,” kata Direktur Utama Paya Pinang Group Kacuk Sumarto.

Hal ini diungkapkan Kacuk Sumarto saat panen perdana di areal perkebunan sawit Paya Pinang Group yang terletak di Desa Laut Tador Kecamatan Tebingsyahbandar Kabupaten Serdangbedagai (Sergai). Kegiatan panen perdana dihadiri Dirjen Perlindungan Tanaman Kemen Pertanian Edy Heriyawan, Direktur Utama Paya Pinang Group Kacuk Sumarto, Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono, Dewan Pengawas BPDPKS Rusman Haryawan, Perwakilan Gubernur Sumut dan Bupati Sergai Soekirman, Kamis (19 Desember 2019).

Dirjen Perlindungan Tanaman Kemen Pertanian Edy Heriyawan mengapresiasi penanaman Sorgum di sela tanaman sawit yang dilakukan Tim Kerja Sama Penelitian GAPKI di perkebunan Paya Pinang Group.

“Penelitian di Kebun Paya Pinang Group merupakan contoh konkrit perusahaan dalam menyediakan lahan yang sedang diremajakan untuk tanaman pangan seperti sorgum. Kami harapkan GAPKI dapat mendorong perusahaan perkebunan sawit yang sedang masuki masa peremajaan,”tuturnya.

Bupati Soekirman memberikan apresiasi tinggi kepada GAPKI yang mendukung perekonomian Sergai. “Saya siap mencanangkan Sergai sebagai Kabupaten Sorgum. Ini adalah bentuk komitmen dan dukungan Sergai terhadap kesuksesan program PSR yang dicanangkan Presiden Jokowi,” ujarnya.

Kadis Pertanian dan Hortikultura Dahler menjelaskan bahwa sorgum merupakan salah sumber pangan kebutuhan bagi industri pangan. Apalagi, kebutuhan Sorgum dapat peluang bagi pengembangannya. Hal ini harus disegerakan, dengan menggerakkan penanaman Sorgum yang sangat cocok ditanam di lahan kering dan cocok berdampingan dengan tanaman perkebunan.

Suksesnya panen perdana di areal perkebunan sawit Paya Pinang Group yang terletak di Desa Laut Tador Kecamatan Tebingsyahbandar Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) tidak terlepas dari dukungan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Sumatera Utara (Sumut) yang mendorong perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit mendukung program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dicanangkan oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Kacuk Sumarto mengatakan, sorgum merupakan jenis tanaman yang layak ekonomis yang mempunyai karakter mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan secara khusus.

“Sorgum cocok sebagai tanaman sela dalam peremajaan sawit rakyat (PSR), karena mempunyai masa panen yang singkat, dalam tempo sekitar 4 bulan sudah bisa panen, dan sekali tanam bisa untuk tiga kali panen selama satu tahun, dan hal ini bisa dilakukan sampai dengan tanaman sawit bisa menghasilkan yaitu selama tiga tahun, meskipun luasan tanaman sorgum harus dikurangi. Hasil dari tanam sorgum ini bisa mendukung ketahan pangan pada masa replanting dan sebagai tambahan biaya perawatan sawit yang ditanam,” kata Kacuk.

Hasil Sorgum yang bisa diperoleh untuk tingkat petani adalah bijih sorgum, tepung sorgum, air nira sorgum, gula nira sorgum, biomasa pakan ternak atau arang bricket.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Tim Kerja Sama Penelitian ini, serta dari berbagai sumber dari Kementerian Pertanian, satu hektar sawit akan diperoleh gabah kering panen sorgum antara 15 – 18 ton / hektar / tahun. Gabah kering giling/sosoh 6 – 9 ton dari malainya. Sementara batang dan daun sorgum dapat dihasilkan adalah 100 – 120 ton/ha/tahun; ekstrak Nira Sorgum dihasilkan antara 25 – 30 ton/ha/tahun yang kemudian bisa diproses menjadi Gula Sorgum dengan hasil sejumlah 3-5 ton/ha/tahun. Masih ada lagi hasil disamping yang disebut diatas, yaitu ampas batang yang sudah diambil niranya beserta daun dapat dipakai sebagai pakan ternak sejumlah 80-100 ton.

Hal yang tidak terduga sebelumnya, bahwa dari penelitian tanah yang dilakukan sebelum dan sesudah tanam, menunjukkan bahwa bilangan mikoriza dan tricoderma yang terkandung di dalam tanah meningkat sangat banyak, sehingga dapat sementara disimpulkan bahwa penanaman sorgum ini sekaligus merupakan upaya untuk menahan atau mengurangi dampak serangan Ganoderma terhadap tanaman kelapa sawit. Seperti diketahui bahwa Ganoderma merupakan momok bagi pengusahaan kelapa sawit yang samapi saat sekarang belum ada obatnya.

Rusman Heriawan, Ketua Dewan Pengawas BPDPKS mengungkapkan, panen Sorgum pernah dilakukan di Bantul tapi tidak bertahan lama karena ketiadaan pembangunan sistem yang baik oleh pemerintah daerah.

Tapi, lanjutnya, hal yang dilakukan di perkebunan Paya Pinang Group dengan model integritas Sorgum berdampingan dengan sawit harus dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut. “Sorgum dapat dijadikan alternatif pangan dan energi. Jangan berhenti mengembangkan model integritas Sorgum dengan kelapa sawit,” sebutnya.

Kacuk mengatakan bahwa program tanam sorgum sebagai tanaman sela peremajaan sawit ini akan bisa menjadi bagian dari ketahanan pangan dan ketahanan energi. Dengan begitu, Indonesia bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan impor beras.

Redaksi Sawit Indonesia

Sumber: https://sawitindonesia.com/ | GAPKI dan Paya Pinang Inisiasi Sorgum Sebagai Tanaman Sela Program Peremajaan

EnglishIndonesia