JAKARTA. Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) berfluktuatif tajam dalam dua hari terakhir. Harga CPO di pasar Malaysia Derivative Exchange kemarin (29/1) naik 5,75% menjadi RM 2.723 per metrik ton.

Pada hari sebelumnya, harga CPO meluncur turun 10%. Ini menyebabkan harga CPO turun ke level terendah sejak November.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar menilai, salah satu faktor yang mempengaruhi harga CPO fluktuatif ialah kekhawatiran pasar terhadap virus korona yang melanda China dan belasan negara lainnya.

Sebagai importir terbesar CPO, pasar China menjadi patokan bagi kinerja ekspor negara penghasil CPO, seperti Indonesia dan Malaysia. Penyebaran virus korona dikhawatirkan melemahkan ekonomi China dan menular pada perekonomian global.

Sementara itu, Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono menyebut, harga CPO juga sudah jenuh beli. CPO telah menguat 36% sejak Oktober 2019 lalu.

Harga CPO terjun bebas setelah India pada pekan lalu memberi kejutan larangan impor minyak nabati olahan. Malaysia, yang juga mengandalkan India sebagai salah satu tujuan ekspor besarnya, ikut terpukul.

Proyeksi harga CPO

Tapi analis melihat, harga CPO masih memiliki bahan bakar untuk menguat. Proyeksi Wahyu, harga minyak sawit sepekan ke depan bisa kembali ke RM 3.150 per metrik ton. Pendorongnya antara lain penurunan produksi dari Indonesia dan Malaysia.

Alasan lainnya, faktor perselisihan politik India dan Malaysia. Sejatinya, pejabat Malaysia dan India bisa bertemu di forum ekonomi Davos pekan lalu. Namun, kedua negara tidak menjadwalkan pertemuan.

Mengutip Reuters, permintaan India kepada Malaysia kurang dari 70.000 ton pada Januari, dan menjadi level terendah sejak April 2011. Angka ini jauh berkurang ketimbang 253.889 ton impor pada Januari 2019. Sedangkan pada Februari, diperkirakan bisa kurang dari 10.000 ton, sementara importir beralih ke Indonesia.

Perbaikan harga di 2020 juga didukung membaiknya permintaan, karena ancaman krisis global seperti menjauh. Ada juga sentimen pemilu AS yang biasanya ikut menggairahkan pasar keuangan.

Sedangkan menurut Deddy, kebijakan penggunaan biodiesel untuk bahan bakar (B20) di Malaysia dan B30 di Indonesia berpotensi mengantar harga CPO ke zona hijau tahun ini. Program ini pun akan berdampak positif dalam jangka panjang.

Jika harga CPO bertahan di kisaran RM 2.600 hingga Maret, maka harganya masih akan bergerak bulish hingga ke RM 3.000 per metrik ton.

Sementara menurut Wahyu, harga CPO di tahun ini akan berada di kisaran RM 2.600-RM 2.700 sebagai area konsolidasi. Sedang rentang harga wajar ada di RM 2.400-RM 3.300 per metrik ton.

Source: Kontan | Kamis, 30 Januari 2020 | CPO Ikut Tertekan Demam Korona | Picture via techno.okezone.com (Foto: WebMD)

EnglishIndonesia