Kolaborasi India & Indonesia Tingkatkan Perdagangan

New Delhi – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menekankan pentingnya berkolaborasi dengan pelaku usaha India dalam meningkatkan perdagangan antara Indonesia dan India.

Hal tersebut disampaikan Mendag Agus saat melakukan pertemuan dengan Federasi Kamar Dagang dan Industri India (Federation of Indian Chambers of Commerce and Industry/FICCI) di New Delhi, India.

“India merupakan salah satu mitra dagang terbesar dan penting bagi Indonesia. Tidak hanya dengan Pemerintah India, tetapi diperlukan juga kolaborasi dengan pelaku usahanya dalam meningkatkan perdagangan kedua negara,” kata Agus.

Agus menyampaikan, kedua Pemimpin Negara telah menetapkan target peningkatan perdagangan bilateral hingga USD 50 miliar pada 2025. Kemendag optimis target tersebut dapat tercapai karena kedua negara masih memiliki banyak peluang untuk ditingkatkan.

“Kita percaya kedua negara memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dan bekerja sama, di antaranya sektor rumah sakit dan farmasi. Hal ini dikarenakan India memiliki teknologi dan pengetahuan yang lebih maju di kedua sektor tersebut. Di sektor lain, kedua negara dapat berkolaborasi dan menjajaki potensi di sektor Blue Economy seperti yang diusulkan FICCI,” terang Agus.

Pada pertemuan ini, menurut Agus pihak FICCI meminta peningkatan akses pasar dan pengurangan hambatan perdagangan dari Indonesia. Di antaranya akses pasar untuk produk gula kristal mentah, daging kerbau, produk susu, dan beras.

Kementerian Perdagangan juga mengundang pengusaha India untuk menghadiri Trade Expo Indonesia. Pameran dagang terbesar di Indonesia ini akan digelar pada Oktober mendatang di Indonesia Convention Exhibition (ICE) di Tangerang, Banten.

India merupakan negara tujuan ekspor keempat dan sumber impor kesembilan bagi Indonesia pada 2019.

Pada periode tersebut total perdagangan kedua negara mencapai mencapai USD 16,1 miliar. Ekspor Indonesia ke India teecatat sebesar USD 11,7 miliar dan impor Indonesia dari India tercatat USD 4,3 miliar. Dengan demikian, Indonesia surplus perdagangan sebesar US$ 7,4 miliar.

Produk ekspor utama Indonesia ke India pada 2019 yaitu batubara, minyak kelapa sawit dan turunannya, produk baja, karet alam, dan asam lemak monokarboksilat industri. Sedangkan, impor utama Indonesia dari India yaitu daging kerbau, hidrokarbon siklik, kacang tanah, pemanas air, dan kendaraan bermotor.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, penurunan tarif bea masuk CPO India itu memberikan harapan atas ekspor minyak sawit Indonesia pada 2020 ini. “Saya kira ekspor sawit Indonesia akan naik lagi dengan turunnya bea masuk oleh India,” ujar Mukti.

Lebih lanjut, menurut Mukti, pihaknya belum menghitung berapa besar kenaikan ekspor CPO ke India akibat tarif bea masuk baru itu. Gapki mencatat ekspor CPO ke India pada Oktober 2019 sebesar 3,7 juta ton.

Karena itu, Mukti berharap ekspor CPO beserta produk turunannya itu naik, bahkan dapat normal seperti pada 2018 yang mencapai lebih dari 6 juta ton. Saat ini India berada pada peringkat ketiga sebagai tujuan ekspor minyak sawit terbesar Indonesia.

Seperti diketahui, India menetapkan bea masuk CPO turun dari 40 persen menjadi 37,5 persen. Sedangkan impor produk olahan CPO turun menjadi 45 persen dari 50 persen. Penurunan tarif tersebut berlaku untuk seluruh impor minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia, sebagai bagian dari ASEAN.

Hal senada diungkapkan, Wakil Ketua Umum Gapki Togar Sitanggang mengatakan bahwa minyak sawit adalah bahan baku energi utama di masa mendatang. Pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan bakar energi baru dan terbarukan sudah tidak terelakkan.

“Kebijakan implementasi mandatori B30 adalah kebijakan yang tepat. Dengan memanfaatkan sawit sebagai energi selain menghemat devisa negara juga akan meningkatkan kesejahteraan petani sawit,” kata Togar.

Bahkan, Togar mengatakan, dalam berbagai uji coba dengan berbagai merek kendaraan bermotor, tidak ada persoalan teknis apapun dengan penggunaan biodiesel dari sawit. Namun, jika B100 tentu perlu kajian yang lebih dalam dengan melibatkan banyak ahli.

Artinya, mandatori biodiesel yang sudah berhasil dilakukan Indonesia akan ditiru oleh Malaysia dengan menerapkan program B20. “Ini menjadi sentimen positif di pasar sehingga harga minyak sawit sejak Oktober tahun lalu naik tajam,” kata Togar.

Terkait harga minyak sawit, Togar mengakui bahwa kenaikan yang terjadi di luar perkiraan para analis komoditas global. Selain naik lebih cepat yaitu pada dua bulan terakhir 2019, persentase kenaikannya sangat tajam.

“Namun kenaikan harga CPO itu masih dalam range yang wajar. Sehingga sampai saat ini kenaikan harga CPO tersebut belum sampai menekan ekspor sawit termasuk di pasar Asia Selatan,” ungkap Togar.

Source: neraca.co.id |Indonesia Menggandeng India Tingkatkan Perdagangan

Copyright ©2019 Indonesian Palm Oil Association (IPOA) All rights reserved.
Contact Us | About GAPKI | GAPKI Conference | Location Maps