ngobrol bareng GAPKI! Prediksi Kemarau 2020 & Dampaknya Bagi Perkebunan Kelapa Sawit

PENGANTAR

Ngobrol Bareng GAPKI dengan tema “Prediksi Kemarau 2020 dan Dampaknya Bagi Perkebunan Kelapa Sawit” telah diselenggarakan pada tanggal 19/5/2020 secara daring dengan menggunakan aplikasi ZOOM.

Acara dibuka oleh Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono dan dipandu oleh Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono dengan narasumber Dr. Ir. Dodo Gunawan DEA (Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG) dan Dr. Ir. Hasril Hasan Siregar M.Si (Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)/Ketua Bidang Riset dan Peningkatan Produktivitas GAPKI).

Ngobrol Bareng GAPKI berjalan baik dan dihadiri oleh 81 orang dari 100 yang mendaftar. Antusias peserta sangat baik, terdapat 12 peserta aktif dalam diskusi disamping diskusi antar peserta melalui fasilitas chat.  Acara ditutup oleh Sekretaris Jenderal GAPKI Kanya Lakshmi Sidarta.

Prediksi Musim Kemarau 2020 diperkirakan normal, dengan puncak musim kemarau pada bulan Agustus (64,9%), sehingga pekebun dapat melakukan pemupukan dan pengelolaan kebunnya secara normal.  Selengkapnya dalam Ngobrol Bareng GAPKI sebagai berikut:

PREDIKSI KEMARAU 2020

  • BMKG membagi wilayah Indonesia menjadi 342 Zone Musim (ZOM) dan area non ZOM karena tidak memiliki perbedaan yang tegas antara musim kemarau dan musim penghujan. Contoh beberapa ZOM adalah sbb:

Untuk melihat prediksi musim kemarau disuatu tempat, perlu merujuk pada ZOM tersebut.

  • Indonesia dipengaruhi oleh kondisi El Niño–Southern Oscillation ENSO di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia.  Kondisi kedua mengindikasikan ada/tidaknya anomali suhu muka laut yang kemudian akan mempengaruhi iklim.
    • BMKG secara rutin mengeluarkan Prakiraan Musim Kemarau 2020 pada bulan Maret 2020. Pucak Musim Kemarau sebagian besar terjadi pada bulan Agustus.

    • Sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei-Juni, 43% lebih lambat dari kemarau biasa

  • Secara intensitas, musim Kemarau 2020 ini tidak akan separah Kemarau 2015 maupun 2019. Bahkan dari sisi dinamika atmosfer, tidak ada El Nino. Kondisi atmosfer cenderung dalama keadaan netral.  Jadi bisa dikatakan tidak mempengaruhi hujan di musim kemarau. Namun demikian kita tetap  harus mewaspadai daerah yg sifat hujannya Bawah Normal.
    • Anomali pada ENSi dan IOD tidak mengindikasikan adanya gejala El Nino.

  • Prediksi BMKG untuk Mei-November adalah normal artinya kemarau 2020 berada dalam range rata-rata (tidak ekstrim) dan bahkan cenderung basah.
    • Sebagian besar (58%)  wilayah Indonesia akan memiliki sifat  hujan musim kemarau yang normal

    • Sampai pada Juni-November, curah hujan bulanan di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi diprediksi lebih dari 100 mm.

    • Untuk perode bulan Mei-Juni, sebagian besar Indonesia berpeluang Hari Tanpa Hujan kurang dari 10%.

  • Terkait dengan KARHUTLA, kondisi atmosfer seperti kejadian El Nino, yang menyebabkan curah hujan rendah dan lahan menjadi kering, akan berjalan seperti biasa saja kalau tidak ada pembakaran lahan dan akan memicu kebakaran kalau ada intervensi  orang ke lahan tersebut. Oleh karenanya BMKG lebih berperan dalam pencegahan dengan memberikan peringatan dini, agar orang tidak melakukan pembakaran, baik saat tidak ada EL Nino (seperti sekarang) apalagi kalau ada El Nino, karena lahan menjadi kering, sangat mudah terbakar dan tidak terkendali.
    • BMKG membuat sistem informasi kebakaran hutan namanya FDRS (Fire Danger Rating System), yang skalanya bahkan harian berupa peta seluruh Indonesia. Informasinya ada di web BMKG dan di Apps (Android dan iOS) info BMKG namanya. https://www.bmkg.go.id/cuaca/kebakaran-hutan.bmkg

Contoh yang disajikan pada https://www.bmkg.go.id/cuaca/kebakaran-hutan.bmkg?w=1&u=2&p=00

  • Hal yang perlu diperhatikan menghadapi kemarau 2020 adalah:
    • Waspadai daerah yang akan mengalami sifat hujan Bawah Normal selama MK 2020
    • Waspadai pula puncak MK 2020.
    • Ikuti selalu update prakiraan hujan dasarian dan bulanan dari BMKG.
    • Dari 3 informasi tsb, tarik waktu dari sekarang sampai ke depan ke puncak Musim Kemarau 2020, upaya apa yg dapat dioptimalkan, karena setelah puncak MK, hujan biasanya terus berkurang hingga menjelang Musim Hujan berikutnya tiba. Aktivitas budidaya yg memerlukan hari kering, dapat dilakukan sejak puncak MK tsb.

PENGARUH KEMARAU 2020 TERHADAP TANAMAN KELAPA SAWIT

  • Secara umum dari segi iklim dan cuaca, faktor iklim utama yang perlu diperhatikan bagi pertumbuhan, perkembangan, produksi maupun kultur teknis kelapa sawit adalah curah hujan & penyinaran matahari dalam hubungannya musim kemarau tentunya adalah curah hujan.
  • Curah hujan optimal bagi kelapa sawit (pertumbuhan – produksi, kultur teknis) adalah 100-200 mm per bulan, atau > 50 mm/10 Hari atau kondisi tanah masih cukup basah.
  • Parameter curah hujan menjelang dan selama musim kemarau yang perlu diperhatikan secara praktis bagi perkebunan kelapa sawit meliputi:
  1. Hari Terpanjang Tidak Hujan (HTTH, dry spell) >= 20 hari (cekaman kekeringan mulai terjadi) akan mulai berdampak terhadap pertumbuhan-produksi, kegiatan pemupukan dihentikan, kegiatan dapat dialihkan ke pemeliharaan jalan maupun pengendalian gulma selektif.
  2. Bila curah hujan kembali > 50 mm/10 hari (mulai hujan lagi) ataupun kondisi tanah sudah cukup basah maka pemupukan dapat mulai dilakukan kembali.

  • Prediksi Kemarau 2020 umumnya adalah lebih basah dari 2019 maupun 2015, maka praktis tidak berdampak nyata terhadap produksi nasional, apalagi sejauh ini pemupukan utk kesehatan tanaman berjalan cukup baik.
  • Pada lokasi kebun tertentu mungkin terjadi penurunan produksi tergantung tingkat cekaman kekeringan nya. Dampak kekeringan adalah sebagai berikut:

  • Terkait dengan pemupukan, waktu pemupukan terbaik bagi kelapa sawit dilakukan pada bulan basah (curah hujan 100-200 mm/bulan), shg untuk Semester I-2020 pemeupukan dapat dilakukan sd. bulan Maret/April, bahkan di bbrp tempat masih dapat dilakukan bulan Mei ini.
  • Pada puncak musim kemarau bulan Juli-Agustus/September 2020,  disarankan tidak dilakukan pemupukan.
  • Pemupukan Semester II-2020 diperkirakan dapat dilakukan pada bulan Oktober (bbrp lokasi) sd. Desember 2020.
  • Terkait dengan kebakaran, pengaruh kebakaran lahan (karhutla) di sekitar kebun terhadap tanaman dan produksi kelapa sawit meliputi (1) asap yang timbul sampai tingkat (waktu) tertentu akan mengganggu fotosintesis tanaman sehingga jg akan mempengaruhi produksi maupun rendemen, serta (2) asap yang timbul juga akan mengganggu aktivitas serangga penyerbuk kelapa sawit Elaeidobius k. sp.
  • Upaya pemulihan pasca asap adalah meningkatkan aktifitas Elaeidobius dgn teknik hatch & carry maupun kairomix.
  • Dalam menghadapi kemarau 2020, langkah antisipasi yang perlu dilakukan adalah
    1. Monitor kondisi cuaca melalui statiun cuaca sendiri maupun situs BMKG
    2. Lakukan penyesuain kultur teknis dengan kondisi kemarau
    3. Aplikasi bahan organik
    4. Jaga cover crop
    5. Lalukan konservasi tanah dan air
    6. Manfaatkan musim kemarau untuk perbaikan jalan, – Setelah kemarau,
    7. Lakukan pemupukan apabila curah hujan sudah mengijinlan

KESIMPULAN

  • Sebagian besar Indonesia akan memasuki kemarau pada bulan Mei-Juni
  • Puncak kemarau sebagian besar akan terjadi pada bulan Agustus
  • Kemarau 2020 diprediksi akan normal dan bahkan cenderung basah sehingga baik untuk perkebunan
  • Perkebunan tidak akan menghadapi kondisi ekstrim sehingga kegiatan dapat berjalan normal.
  • Prediksi kemarau yang basah menggembirakan pekebun, tetapi mengkhawatirkan beberapa pengusaha merasa khawatir karena dengan tidak terganggunya produksi (bahkan mungkin akan naik) maka stok akan naik karena permintaan yang lemah sehingga akan akan semakin turun.

 

EnglishIndonesia