Ngobrol Bareng GAPKI 4: “Ganoderma Boninense, Kerusakan Yang Diakibatkan Dan Upaya Pencegahannya”

NGOBROL BARENG GAPKI SESI 4
GANODERMA BONINENSE, KERUSAKAN YANG DIAKIBATKAN
DAN UPAYA PENCEGAHANNYA”

Industri perkebunan kelapa sawit sekarang ini memasuki masa replanting yang besar baik untuk perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense merupakan penyakit yang sangat ditakuti ketika replanting karena mematikan, dan potensi serangan lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Serangan penyakit BPB dapat menurunkan produktivitas hingga 40%.

Aplikasi trichoderma, mycorrhiza, pembuatan parit batas, santasi dan lain merupakan tindakan mitigasi yang selama ini dianjurkan dan belakangan muncul variaetas yang diklaim toleran terhadap ganoderma. Namun, penyakit BPB masih tetap menjadi momok bagi perkebunan sawit.

Ngobrol bareng GAPKI virtual sesi 4 yang diadakan 1 Juli 2020 mengangkat topik “Ganoderma Boninese, Kerusakan yang Diakibatkan dan Upaya Pencegahannya” dengan mengundang Dr Darmono (Direktur Ganoderma Roundtable Management), Dr Agus Susanto (Kepala Bidang Penelitian PPKS), Bapak Andi Suwignyo (Ketua Bidang Riset GAPKI, GM PT Socfin Indonesia) sebagai narasumber.

Ngobrol Bareng dimoderatori oleh Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sarjono, dan diikuti oleh 296 orang yang terdiri dari perusahaan kelapa sawit anggota GAPKI dan non anggota, pekebun, peneliti, dosen dan mahasiswa, instansi pemerintah baik pusat maupun daerah.

Pembukaan dilakukan oleh Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono. Dalam sambutannya, Joko Supriyono menyampaikan bahwa Ngobrol Bareng merupakan forum untuk menambah dan mengikuti perkembangan dan pengetahuan seputar sawit khususnya untuk anggota GAPKI, para ilmuwan dan pelaku usaha. Beliau berharap agar anggota GAPKI dapat mengambil manfaat dari diskusi dengan topik ganoderma yang masih menjadi momok menakutkan pelaku perkebunan. Beliau juga berharap diskusi dapat menginspirasi para ilmuwan untuk mencari cara penanggulangan penyakit busuk pangkal batang (BPB).

Dalam Ngobrol Bareng diungkapkan bahwa penyakit busuk pangkal batang sulit diberantas karena jamur Ganoderma Boninense dapat hidup di berbagai inang sehingga memungkinkan terjadinya serangan ganoderma pada generasi pertama kelapa sawit. Ganoderma mempunyai mekanisme membentuk benteng pertahanan yang sangat kuat terhadap musuh biotik seperti trichoderma dan mampu membentuk pseudoklerosium yang memungkinkan ganoderma bertahan lebih dari 7 tahun tanpa inang.

Teknik pengendalian selama ini dikenal sebagai aplikasi trichoderma, michoriza, pembuatan parit batas, eradikasi (bongkar) dan beberapa produsen benih telah melepaskan varietas yang toleran terhadap ganoderma.

Penyelamatan tanaman yang sudah menunjukkan gejala terserang menggunakan teknis yang ada hanya dapat menunda kematian tanaman tersebut dengan risiko penularan pada tanaman lain. Tanpa penanganan yang baik serangan 1-2% pada generasi pertama akan berkembang menjadi 30-50% pada generasi ke 2 dan lebih dari 50% pada generasi ke 3.

Untuk replanting, keberadaan ganoderma perlu mendapatkan perhatian utama, sedangkan untuk areal berpotensi ganoderma, penggunaan bahan tanaman yang toleran terhadap ganoderma dan tindakan pencegahan lainnya perlu diupayakan.

Dari hasil diskusi yang cukup panjang, ada cacatan yang disampaikan oleh moderator terkait ganoderma, yaitu: (1) ganoderma merupakan musuh bersama pekebun dan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang harus menjadi perhatian serius; (2) Sampai saat ini, yang dapat kita lakukan adalah dengan melakukan penanaman menggunakan varietas tanaman yang toleran terhadap ganoderma, (3) kita perlu kerjasama semua pihak dalam penanggulangan ganoderma.

Menutup acara Ngobrol Bareng Gapki Sesi 4, Wakil Ketua Umum 3 GAPKI, Togar Sitanggang, menyatakan bahwa ganoderma masih menjadi musuh yang menakutkan pekebun dan berharap diskusi ini menginspritasi para ilmuwan untuk mencari jalan yang efisien dan efektif untuk  menganggulangi penyakit yang disebabkan oleh ganoderma.

EnglishIndonesia