Ngobrol Bareng GAPKI Sesi 5: Upaya Peningkatan Produktivitas Kebun Sawit Di Lahan Gambut

NGOBROL BARENG GAPKI SESI 5

UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEBUN SAWIT DI LAHAN GAMBUT

Lahan gambut bukanlah yang lahan ideal untuk pertanian tetapi terpaksa harus dimanfaatkan karena banyak daerah atau individu yang lahannya didominasi oleh gambut.  Pemanfaatan lahan gambut dengan tanaman kelapa sawit disebabkan tanaman kelapa sawit mampu beradaptasi dengan di kondisi tanah yang kurang ideal tersebut.

Kegiatan operasional lain seperti panen, transportasi, pemupukan menghadapi banyak tantangan sehingga produktivitas tanaman rendah dan biaya operasionalnya tinggi.  Namun, banyak juga perusahaan yang mampu mengelola kebun kelapa sawit di lahan gambut dengan baik sehingga produktivitasnya tinggi.

Topik Ngobrol Bareng GAPKI sesi 5 adalah “Upaya Peningkatan Produkivitas Kebun Kelapa Sawit di Lahan Gambut” dengan narasumber  Prof. Dr. Supiandi Sabiham – Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Dr. Lulie Melling, Direktur SARAWAK TROPICAL PEAT RESEARCH INSTITUTE  dan Ir. H. Syahril Pane – Head of Agronomi PT Abdi  BudiMulya.

Ngobrol Bareng GAPKI sesi-5 diikuti oleh 293 peserta, dimoderatori oleh Mukti Sardjono – Direktur Eksekutif GAPKI dan dibuka oleh Joko Supriyono Ketua Umum GAPKI. Dalam pembukaannya mengharap agar anggota GAPKI memanfaatkan forum ini untuk meningkatkan dan mengupdate knowledge dalam pengelolaan kebun kelapa sawit.  Issue lingkungan sering dipermasalahkan pada perkebunan kelapa sawit dilahan gambut, namun Gapki dan pemerintah telah menemukan solusi bersama yaitu sustainable peat management. Beliau turut mengajak peserta untuk fokus pada peningkatan produktivitas dengan memahami karakter lahan gambut dengan benar dari para ahli seperti Prof. Supiandi Sabiham dan Dr. Lulie Meling, mencontoh dan mengambil pelajaran dari pengelola kebun sawit di lahan gambut yang berhasil seperti di Sarawak dan di Abdi Budi Mulya.

Lahan gambut  bukan lahan yang ideal untuk pertanian karena kesuburannya yang rendah, miskin hara makro-mikro. Kubah gambut berfungsi sebagai penyimpan air terutama untuk memenuhi kebutuhan air di musim kering dan menjaga hidrologis gambut serta keberlanjutan dari aspek ekologis, sosial, dan ekonomi. Komposisi bahan gambut didominasi kayu-kayuan, sehingga bersifat sangat sarang (porus) sehingga sulit mencengkram akar pohon, dan  kapilaritas rendah sehingga kurang mampu menyediakan air di areal perakaran sawit (±20 cm dari permukaan tanah).  Kondisi tersebut menyebabkan tanah di permukaan menjadi kering dimusim kemarau dan mudah terbakar.

Lulie menyampaikan bahwa 48% perkebunan kelapa sawit di Sarawak adalah di lahan gambut. Lulie juga menyampaikan bahwa cara efektif yang dilakukan di Sarawak adalah dengan compacting. Dengan compacting lahan menjadi lebih padat sehingga menjadi cengkraman yang baik untuk akar dan meningkatkan kapilaritas,  menimbulkan suasana yang lembab, bukan basah, di tempat bagian atas sehingga lebih baik untuk tanaman dan membuat permukaan lahan gambut tidak mudah terbakar.  Hal ini terbukti dari sangat sedikitnya hotspot di Sarawak pada puncak kemarau 2019.  Compacting akan menyebabkan penurunan muka tanah (land subsidence) sekitar 50 cm tetapi sepenuhnya karena konsolidasi tanah dan bukan arena dekomposisi gambut.  Lulie menyampaikan bahwa sosialisasi budidaya kelapa sawit di lahan gambut dilakukan secara itensif kepada masyarakat.

Menurut penelitian Supiandi, laju subsiden lahan gambut di perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah 2,5 cm/tahun dan sekitar 43% karena dekomposisi.  CO2 dari dekomposisi gambut sebagian besar (68%) akar dimanfaatkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan produksi sehingga net CO2 flux adalah 0,052 mg/ha/hari. Lebih lanjut Supiandi menyatakan bahwa gambut bersifat rapuh (fragile) – sehingga dalam pemanfaatannya diperlulkan azas ke hati-hatian, harus menerapkan tata kelola air yang baik termasuk mengelola areal puncak kubah gambut sebagai sumber air untuk area di bawahnya dan mempertahankan rata-rata muka air gambut 65 cm,  dan meminimalkan degradasi lahan gambut.

Syahril Pane menyampaikan bahwa di kebun seluas 12.500 hektar yang terdiri dari 80% gambut dan 20% mineral, produksi kebun kelapa sawit dilahan gambutnya dapat mencapai 30 ton tbs/tahun pada tahun 2017 untuk tanaman tahun tanam 2002 dan 2003.  Pengelolaan kebun mengikuti ketentuan yang berlaku, memperhatikan tata kelola air, pemadatan tanah/compacting, pemupukan dan dalam perawatan tanaman mengedepankan pencegahan dan pengendalian teknis/hayati. Untuk kebun yang sudah terbangun tanpa compacting, pembumbunan dan pemadatan secara individual tanaman dapat dilakukan.  Selain pemupukan, tata air merupakan kunci keberhasilan budidaya kelapa sawit di lahan gambut.  Secara operasional perkebunan kelapa sawit, tinggi muka air tanah yang ideal adalah sekitar 65cm.

Peserta penyampaikan bahwa di Indonesia compacting tidak dibenarkan dan regulasinya kedalaman muka air tanah adalah 40 cm.  Lulie menyampaikan adanya kerancuan antara penurunan muka tanah karena konsolidasi dan karena dekomposisi.  Dasar pertimbangan yang ada dalam regulasi terkait subsiden adalah bahwa penurunan muka tanah akan menyebabkan lahan tergenang dan laju subsiden dipengaruhi oleh muka air tanah;  makin tinggi muka air tanah-makin sedikit gambut yang terekspos udara-makin rendah laju dekomposisi gambut-makin rendah laju subsiden dan makin rendah emisi CO2. Disisi lain, ketersediaan CO2 ikut berperan terhadap produktivitas tanaman kelapa sawit.  Hubungan compacting, muka air tanah, emisi CO2, produksi dan insiden banjir dan kebakaran secara holistik akan sangat berguna sebagai dasar kebijakan dan operasional perkebunan kelapa sawit di lahan gambut.

Wakil Ketua Umum GAPKI Togar Sitanggang menyampaikan secara singkat agar acara ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dan berharap untuk pertemuan berikutnya kami dapat selalu menyajikan topik-topik yang berkualitas. (*)

EnglishIndonesia