Tanah gambut tidak bisa disamaratakan ke dalam satu kategori saja karena semua gambut memiliki keunikan dan kerincian masing-masing, yang bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk membudidayakan perkebunan kelapa sawit dengan mematuhi semua praktek-praktek terbaik, demikian kesimpulan dari sebuah webinar tentang gambut.

“Banyak LSM internasional yang begitu saja menyamaratakan semua tanah gambut. Padahal kenyataannya, tanah-tanah gambut tersebut memiliki banyak sisi dengan rincian dan keunikan tersendiri yang semestinya dilihat lebih dalam guna menemukan hakekat mereka yang sebenarnya di dalam kondisi lingkungan mereka,” kata Direktur Sarawak Tropical Peat Research Institute Lulie Melling di hadapan para peserta webinar tersebut, yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan dimoderatori oleh Mukti Sardjono, direktur eksekutif Gapki hari Selasa.

Dia mengatakan bahwa ketika berhadapan dengan tanah gambut tropis, permasalahannya menjadi seperti cerita tentang gajah dan enam orang buta. Masih-masing mereka melihat gajah dari sisi-sisi yang berbeda. Orang buta yang memegang ekornya mengatakan bahwa gajah itu seperti tali. Orang buta yang memegang gadingnya mengatakan gajah seperti tombak. Dan orang buta yang memegang perutnya mengatakan gajah itu seperti tembok.

“Perlu memahami tanah gambut tropis sebesar dan semenyeluruh gajah, yang kalau dibandingkan dengan tanah gambut sedang (temperate), hanya seukuran ayam saja,” katanya dalam webinar yang dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Gapki Joko Supriyono dan ditutup oleh Wakil Ketua Umum Gapki Togar Sitanggang.

Dia mengatakan bahwa berkat pemahaman yang baik tentang tanah gambut, para pengusaha kebun sawit di Sarawak, Malaysia, bisa dengan sukses memanfaatkan gambut untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit dengan melaksanakan prinsip-prinsip sustainability secara tepat.

Supiandi Sabiham, pembicara lain dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang ahli soal tanah gambut, mengatakan bahwa sudah banyak penelitian tentang gambut dilakukan oleh para ilmuwan Indonesia dan ilmuwan luar negeri.

“Namun rupanya, karena kurang pemberitaan, kurang dikenal secara internasional,” katanya, sambil menambahkan bahwa ilmuwan Indonesia mestinya lebih banyak lagi melakukan penelitian-penelitian mengenai gambut dan menyebarluaskan hasilnya secara global guna membantu masyarakat internasional untuk bisa memahami tanah gambut tropis dengan sebenarnya.

Lulie mengatakan bahwa gambut di Eropa telah digunakan selama kurang lebih 200 – 300 tahun untuk kepentingan pertanian. Tapi di Indonesia dan Malaysia, gambut baru digunakan selama 20 tahun terakhir, dan selama itu banyak orang tidak melihatnya secara menyeluruh tapi hanya secara terpotong-potong dan negative pada sisi-sisi tertentu saja.

Menurut Supandi, tanah gambut sebenarnya bisa digunakan untuk menanam pohon kelapa sawit dengan tingkat produktivitas yang maksimum dengan melaksanakan praktek-praktek terbaik pengelolaan di lahan gambut. Praktek-praktek terbaik itu termasuk pengelolaan air yang benar dan penggunaan teknologi yang tepat untuk mendukung pelaksanaan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability).

“Secara ilmiah, tanah gambut dikategorikan pada tanah degradasi tingkat sedang. Namun dengan teknologi yang tepat, gambut bisa digunakan untuk pertanian, utamanya perkebunan kelapa sawit. Faktor-faktor kunci disini adalah pengelolaan terbaik, disiplin, dan kepatuhan pada psinsip-prinsip sustainability,” katanya dalam webinar yang bertemakan tentang bagaimana meningkatkan produktivitas kelapa sawit di tanah gambut.

PT Abdi Budi Mulia (ABM) adalah salah satu perusahaan yang telah membuktikan bahwa tanah gambut bisa digunakan guna mengembangkan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Perusahaan itu berhasil mengembangkan 80 persen dari 12.500 hektar perkebunan kelapa sawitnya di tanah gambut, dan 20 persen selebihnya di tanah mineral.

Syahril Pane, kepala Agronomy dari perusahaan ABM itu, yang merupakan salah satu dari tiga pembicara di webinar tersebut, mengatakan bahwa tingkat produktivitas mereka di lahan gambut mencapai sekitar 23 – 26 ton tandan buah segar (TBS) per hektar per tahun.

“Hal yang terpenting dalam memanfaatkan gambut adalah bahwa kita mesti mematuhi peratuhan pemerintah yang berlaku, khususnya tentang gambut, peduli pada kebun sawit dan menerapkan prinsip-prinsip sustainability,” ujarnya. (*)

EnglishIndonesia