Pengoperasian PKS Yang Baik Bisa Kurangi 3MCPD

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) telah berulang kali mendorong para pengusaha kelapa sawit untuk terus memperbaiki pengoperasian pabrik kelapa sawit (PKS), yang penting untuk mempertahankan sustainability dan keamanan minyak sawit untuk konsumsi manusia. Seruan seperti itu kembali diutarakan oleh tiga pembicara dalam webinar (Ngobrol Bareng GAPKI Sesi 6) tentang memperbaiki keefektifan dan keefisienan PKS yang diselenggarakan oleh Gapki hari Selasa.

“Banyak pekebun melihat PKS kurang penting dan hanya fokus pada pengembangan perkebunan kelapa sawit. Tapi demi kepentingan sustainability dan keamanan makanan, PKS sama pentingnya untuk mendapatkan perhatian khusus dan perbaikan,” kata Ketua Umum Gapki Joko Supriyono ketika membuka webinar tersebut, yang dimoderatori oleh Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono dan ditutup Wakil Ketua Umum Gapki Togar Sitanggang.

Muhammad Ansori Nasution, salah seorang pembicara dalam webinar itu, yang adalah peneliti pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), mengatakan bahwa masalah paling penting yang seharusnya mendapat perhatian khusus dalam pengoperasian PKS adalah berkenaan dengan kehilangan (losses) dan kontaminan (contaminants) minyak sawit.

“Ada banyak faktor yang menyebabkan losses dalam PKS. Losses bukan hanya terjadi saat pemrosesan di PKS, tapi juga selama proses pemanenan dan pengangkutan ke PKS. Kualitas tandan buah sawit menentukan tingkat rendemen dan losses di PKS. Kualitas itu ditentukan oleh kondisi buah apakah sudah matang atau belum, atau apakah busuk atau rusak dalam proses pengangkutan. Namun di PKS seharusnya losses hanya dibolehkan pada tingkat 1.6 – 1.65 persen saja,” katanya.

Menurutnya, kontaminan pada minyak sawit itu ditentukan kualitas buah sawit, apakah busuk atau rusak atau mengandung chloride, yang bisa menjadi precursor penyebab kontaminan. Semua kondisi tersebut akan membentuk kontaminan seperti 3-MCPD (3-monochloropropanediol) esters, dalam proses refining, khususnya deodorisasi dan bleaching di PKS.

“Jika kita bisa menjamin kualitas buah sawit sebelum pemrosesan di PKS, kita bisa mengurangi losses dan kontaminan tersebut,” katanya, sambil mengingatkan para pengusaha sawit soal rencana Uni Eropa (UE) untuk menetapkan kandungan 3-MCPD dalam minyak sawit sebanyak 2.5 ppm, yang kemungkinan mulai tahun depan.

Walau hanya diujicoba pada hewan, kandungan 3-MCPD esters itu diduga berpotensi mengakibatkan kanker. Disamping minyak sawit, kontaminan 3MCPD juga didapati dalam minyak nabati lainnya, termasuk kedelai, rapeseed dan bunga matahari.

Dia mengatakan bahwa untuk mengurangi kontaminan, buah sawit hendaknya dibersihkan dengan menggunakan air bersih yang bebas dari chloride dan kandungan garam. Namun, tentu saja, usaha-usaha pengurangan kandungan chloride harus juga dilakukan lewat praktek pengelolaan sawit yang baik di perkebunan.

Rediman Silalahi, pembicara kedua yang merupakan konsultan produksi di perusahaan perkebunan negara PT Perkebunan Nusantara V, menggarisbawahi pentingnya memperbaiki kualitas sumber daya manusia dalam pengoperasian PKS dan dalam memelihara komunikasi yang baik antara para operator PKS dengan pengelola perkebunan sawit, selain teknik pengoperasian yang baik. “Para pengelola perkebunan hendaknya selalu tanamkan dalam benak mereka tentang pentingnya mempertahankan prinsip-prinsip sustainability, yang didasarkan pada 3P, yakni planet (lingkungan), people (orang) dan profit (keuntungan),” katanya.

Rediman menyatakan bahwa mempraktekkan komunikasi yang baik antara operator PKS dengan pengelola perkebunan akan juga membantu menjamin kualitas dan produktivitas minyak sawit, yang pada gilirannya mengurangi potensi losses dan kontaminan minyak sawit.

Wakil President bidang engineering di PT Astra Agro Lestari Tbk, Muhammad Ichsan, pembicara ketiga webinar tersebut, berbicara mengenai kemungkinan inovasi dan terobosan dalam usaha meningkatkan keefektifan dan keefisienan PKS.

“Inovasi dan terobosan bisa dilakukan mulai dari langkah-langkah kecil seperti penggunaan karbon untuk menyerap chloride, menjamin perlakuan buah sawit yang baik sebelum pemrosesan, sampai penerapan automasi dan teknologi tinggi di PKS. Tapi sebelum menerapkan teknologi itu, kita mestinya membicarakannya dengan sepenuhnya dan selengkapnya dengan para principalnya dan orang-orang lain yang tahu pesoalannya sehingga kita bisa menjamin applikasi yang tepat untuk PKS kita,” simpulnya. (*)

EnglishIndonesia