Pekebun Sawit Diminta Tetap Patuhi Protokol Walau Vaksin Sudah Ada

Jakarta – Para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit harus tetap disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularan pandemik Covid-19, karena walaupun sudah tersedia vaksin tapi virus Corona masih bisa bertahan sampai sekitar lima tahun lagi, demikian dikatakan dr. Pandu  Riono MPH, PhD, seorang epidemolog dari Universitas Indonesia (UI) dalam suatu diskusi virtual hari Selasa siang.

“Selain disiplin menerapkan protokol kesehatan, hal yang sangat perlu dilakukan para pelaku usaha sawit dalam mencegah penularan Covid-19 di wilayah masing-masing adalah mengidentifikasi resiko tinggi dan mengelolanya dalam sistim manajemen modern. Selalu yang paling tinggi resikonya adalah kontak orang dan kerumunan orang. Kalau kontak antar manusia ini bisa dikelola dengan penerapan ketat dan disiplin protocol kesehatan dalam sistim manajemen modern , saya yakin semuanya bisa terbebas dari penularan Covid-19,” kata Pandu dalam Ngobrol Bareng Gapki sesi-10 dengan tema “Kiat-kiat pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di perkebunan sawit.”

Pembicara lain dalam diskusi virtual yang dimoderatori Mukti Sardjono, direktur eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) itu, adalah Eko P. Wibisono, EVP Human Capital & HO Support PT Astra Agro Lestari Tbk dan Anton Asmara, direktur pabrik kelapa sawit PT Hindoli, anak usaha Cargill.

Pandu mengatakan bahwa harus diingat kasus Covid-19 itu tinggi adalah akibat faktor kerumunan atau kontak antar manusia yang tidak terkelola dengan baik. Kerumunan atau kontak antar manusia itu harus dibatasi benar-benar, sehingga hanya yang sangat penting saja diperbolehkan.

“Mungkin bila perlu harus diberlakukan pembatasan sosial berskala mikro di wilayah operasi perkebunan. Dari seluruh karyawan itu, harus diidentifikasi siapa saja yang paling beresiko tinggi. Artinya siapa saja yang harus terlibat dalam kontak orang atau harus memasuki kerumunan, misalnya pasar, tempat ibadah, warung makan yang semuanya diluar kontrol perusahaan. Biasanya orang-orang dalam resiko tinggi seperti itu kurang lebih antara 5.0 sampai 10 persen dari jumlah total karyawan. Orang-orang yang high risk ini harus menjadi prioritas utama dalam usaha pencegahan penularan pandemic tersebut.,” katanya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, yang membuka ngobrol bareng tersebut, dalam kesempatan itu juga mengingatkan para pelaku usaha pekerbunan sawit agar tetap mematuhi protokol kesehatan agar senantiasa terhindar dari penularan Covid-19.

“Sampai sekarang perkebunan kelapa sawit masih tetap bisa beroperasi karena tetap disiplin dalam menerapkan protocol kesehatan. Hendaknya kita semua tetap disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan agar senantiasa terhindar dari Covid-19. Kalau sampai tertular, resikonya akan besar terhadap produktivitas perusahaan kita dan juga bagi semua karyawan kita dan keluarga mereka,” kata Joko.

Pandu juga mengapresiasi usaha pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit karena secara umum masih bisa terus beroperasi, walaupun ada kasus kecil, tapi bisa dengan cepat diatasi. “Ini karena penerapan protocol kesehatan dan pengelolaan yang baik dalam system manajemen yang modern. Dan ketika ada kasus dengan cepat dilakukan pelacakan untuk mengidentifikasi orang-orang yang berpotensi tertular dan bisa mengehentikan penularannya,” kata Pandu.

Eko P. Wibisono, EVP Human Capital & HO Support PT Astra Agro Lestari Tbk, mengatakan bahwa segera setelah berjangkitnya Covid-19, Astra Agro telah membentuk suatu tim khusus internal untuk menangani Covid-19 yang dinamai Panitia Pelaksana Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2LK3).

“Dalam menerapkan protokol kesehatan ini, P2LK3 ini dengan cermat mengatur dan mengawasi jalur komunikasi, perilaku karyawan terutama dalam hal memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, dan juga mengatur dan mengawasi keluar masuk karyawan dan tamu-tamu yang datang, serta perjalanan dan cuti para karyawan dan orang-orang dari luar perusahaan,” katanya.

Anton Asmara, direktur pabrik kelapa sawit PT Hindoli, anak usaha Cargill, mengatakan bahwa segera setelah Covid-19 berjangkit perusahaannya juga telah membentuk Crisis Management Team (CMT) yang ditugaskan khusus untuk menangani pandemic Covid-19. “Lewat tim ini kami melaksanakan usaha pencegahan dan penanggulangan pandemic Covid-19. Tim ini didukung dengan tim medis dan fasilitas yang cukup untuk bisa melaksanakan tugasnya dengan baik,” katanya.

Dia mengatakan ketika bulan Juni 2020 ditemukan ada satu karyawan yang terkena Covid-19 di perkebunannya di Sungai Lilin, kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, mereka dengan segera melakukan tindakan medis yang diperlukan dan pelacakan terhadap semua orang dengan siapa dia berhubungan dan tempat dimana dia datang. “Terhadap orang-orang tersebut kami lakukan isolasi dan tindakan medis yang perlu, dan semua tempat yang didatanginya serta tempat-tempat lain yang dicurigai kami lakukan penyemprotan disinfektan,” katanya. (*)

Gambar pendukung via beritasatu.com

EnglishIndonesia