Sawit Berkelanjutan.. People, Planet, & Profit! Harus Berjalan Harmonis

Setiap negara punya standar keberlanjutan terkait minyak kelapa sawit yang berbeda, termasuk Indonesia. Standar keberlanjutan ini harus diperhatikan agar industri kelapa sawit bisa memberi keuntungan ekonomi dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Sustainability Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Bandung Sahari. Bandung menjelaskan, terdapat tiga prinsip keberlanjutan yang harus diterapkan dalam pengelolaan industri minyak kelapa sawit.

“Ketiga aspek tersebut adalah people, planet, dan profit. Ketiganya harus berjalan beriringan,” katanya dalam acara Fellowship Journalist dan Training BPDPPKS 2020 yang bertema “Pengelolaan Kelapa Sawit yang Berkelanjutan”. Meskipun setiap negara, termasuk Indonesia, memiliki standar keberlanjutan yang berbeda, ketiga prinsip tersebut harus tetap diutamakan. “Kita di Indonesia juga punya standar keberlanjutan minyak sawit sendiri,” ujarnya.

Dengan memperhatikan ketiga aspek ini, isu-isu dan dampak negatif dalam pengelolaan minyak kelapa sawit bisa ditekan. Seperti diketahui, ada banyak sekali isu-isu negatif yang berkembang, khususnya tentang lingkungan.

“Isu-isu yang berkembang juga beragam mulai dari deforestasi, pengelolaan lahan gambut, hingga hak asasi manusia,” papar Bandung. Selain itu, Bandung jug menyayangkan masih banyaknya pihak yang menyalahkan industri minyak kelapa sawit atas kejadian kebakaran lahan di sejumlah wilayah di Indonesia. Menurut dia, tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

“Faktanya, lahan perkebunan kelapa sawit hanya berkisar 11 persen dari luas seluruh perkebunan yang ada di Indonesia,” tutur Bandung. Lebih lanjut, ia mengajak semua pihak untuk ikut serta dalam menjaga eksistensi komoditas kelapa sawit.

Dengan demikian, sektor kelapa sawit dapat memberi sumbangsih yang besar pada sektor sosial dan ekonomi di Indonesia. (*)

Sumber: genpi.co | Pengusaha Kelapa Sawit Perlu Menerapkan 3 Aspek Keberlanjutan | Gambar pendukung melalui environmentalleader.com

EnglishIndonesia