Ikut-ikutan Eropa! Sri Lanka Blokir Sawit.. Tapi Gak Ngaruh

Jakarta – Sri Lanka memutuskan untuk melarang impor minyak sawit dan pembukaan perkebunan kelapa sawit baru. Kebijakan sepihak tersebut tentu saja merugikan RI yang menjadi pemasok minyak nabati bagi Sri Lanka. Namun jangan terlalu kaget ternyata ekspor minyak sawit RI ke Sri Lanka tergolong kecil.

Kenaikan impor minyak sawit dan pembukaan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit di Sri Lanka beberapa tahun terakhir membuat Presiden Gotabaya Rajapaksa gerah. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menutup keran impor dan perizinan ekstensifikasi secara bertahap.

“Perusahaan dan entitas yang telah melakukan budidaya (kelapa sawit) tersebut akan diminta untuk menghapusnya secara bertahap dengan pencabutan 10% sekaligus dan menggantinya dengan budidaya karet atau tanaman ramah lingkungan setiap tahun,” mengutip sebuah pernyataan dari kata kantor presiden.

Industri minyak sawit Sri Lanka telah menginvestasikan sekitar US$ 131 juta dan negara tersebut memiliki sekitar 11.000 hektar perkebunan kelapa sawit atau lebih dari 1% dari total area yang ditanami teh, karet dan kelapa, menurut perkiraan asosiasi industrinya.

Sri Lanka berupaya untuk menjadi negara bebas dari perkebunan kelapa sawit dan konsumsi minyak sawit karena selama ini ketergantungan pada sawit telah memicu terjadinya deforestasi yang masif di negara tersebut.

Sri Lanka sendiri mengimpor sekitar 200.000 ton minyak sawit setiap tahun, terutama dari Indonesia dan Malaysia. Mengacu pada data UN Comtrade ekspor minyak sawit dan turunannya baik yang diproses (refined) maupun tidak mencapai US$ 37 juta pada 2019.

Di tahun yang sama Indonesia memasok sekitar 42% dari total impor Sri Lanka yang hanya US$ 87,2 juta. Sementara total ekspor RI untuk komoditas dengan kode HS 1511 dua tahun silam mencapai US$ 14,7 miliar. Artinya pangsa ekspor Sri Lanka hanya 0,25%. Kecil sekali bukan?

Indonesia lebih banyak mengekspor komoditas ini ke India dan China. Pada periode 2017-2019 RI mengekspor produk minyak sawit ke India rata-rata sebesar US$ 2,25 miliar sampai US$ 4,9 miliar.

Di saat yang sama RI mengekspor minyak sawit ke China sebesar US$ 2 miliar -US$ 2,5 miliar. Dari data ini saja jelas terlihat bahwa pangsa ekspor ke Sri Lanka tidak ada apa-apanya dibandingken ke India dan China. TIM RISET CNBC INDONESIA

Sumber: cnbcindonesia.com | Sri Lanka Blokir Impor Sawit, Tenang RI Masih Aman Cuy | Ilustrasi gambar melalui cnbcindonesia.com

EnglishIndonesia