UE Cari Pengganti Sawit, Justru Ancaman Serius Bagi Hutan

Kebijakan Uni Eropa mengurangi konsumsi minyak sawit dari Asia Tenggara mendorong pelaku usaha menggunakan minyak kedelai, yang mempercepat laju perusakan hutan di Amerika Selatan.

Kesimpulan itu muncul dalam sebuah studi yang dipublikasikan Senin (05/07), perihal jejak kerusakan ekologis akibat konsumsi bahan bakar nabati di Uni Eropa. Akibatnya, pengalihan fungsi hutan dalam satu dekade terakhir mencakup kawasan seluas Belanda.

Dalam studinya, para peneliti dari organisasi lingkungan Transport and Environment (T&E), menganalisa data produksi dan konsumsi biodiesel dari tiga lembaga statistik, Oil World, Stratas Advisors, dan Eurostat.

Menurut analisa mereka, konsumsi biodiesel oleh Uni Eropa membutuhkan perkebunan sawit seluas 1,1 juta hektar di Asia Tenggara dan 2,9 juta hektar lahan kedelai di Amerika Selatan.

Perkembangan ini dinilai ironis, karena muncul sebagai buntut upaya Uni Eropa mengurangi penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar pada 2030 mendatang. T&E menyimpulkan, kebijakan tersebut malah memindahkan deforestasi dari Asia Tenggara ke Amerika Selatan.

Menurut T&E, konsumsi minyak kedelai untuk produksi biodiesel melonjak 17% selama 2020. Sebaliknya volume konsumsi minyak sawit hanya naik 4,4 persen.

Sejak 2018, porsi minyak kedelai dalam sistem energi Eropa melonjak dari 34% menjadi 44%. Perkembangan ini semata digerakkan oleh biodiesel, menurut laporan tersebut. “Tren ini bermasalah karena kedelai berpotensi menjadi sawit baru,” tulis para peneliti.

Keputusan akhir pertengahan Juli

Kedelai menimbulkan emisi yang lebih rendah ketimbang minyak sawit. Namun, jumlahnya masih dua kali lipat lebih tinggi ketimbang emisi bahan bakar fosil, jika menghitung kerusakan hutan secara langsung atau tidak langsung.

Ekspansi perkebunan kedelai saat ini mendorong deforestasi di Amazon, Brasil, dan ekosistem kritis lain di Amerika Selatan. Kerusakan hutan tidak hanya melepas emisi, tetapi juga menghilangkan aset terbesar untuk menyerap gas rumah kaca.

Jika tidak mengubah kebijakan biodiesel-nya, Uni Eropa akan memproduksi emisi tambahan sebesar 173 juta ton dari kedelai dan sawit pada 2030, menurut laporan T&E.

Selambatnya pada 2020, Uni Eropa mewajibkan 10 persen bahan bakar transportasi berasal dari sumber terbarukan. Akibatnya konsumsi biodiesel naik 1,3% di tahun pertama pandemi.

Hingga 2030, UE berniat menggandakan porsi sumber terbarukan menjadi seperempat, sekitar 5,1 persen di antaranya berasal dari sumber nabati, tulis Komsi Eropa.

Perkara sawit sempat memanaskan hubungan antara Uni Eropa dengan dua negara produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia dan Malaysia. Kedua negara bersikeras sikap Uni Eropa mempermasalahkan kerusakan hutan untuk sawit hanya sebagai kampanye hitam dan mengancam perang dagang.

Pada 14 Juli mendatang, Uni Eropa akan memutuskan paket kebijakan iklim baru yang dipastikan bakal banyak mengatur konsumsi bahan bakar nabati. rzn/ha

Sumber: medan.tribunnews.com | Nilai Ekspor Sumut Tembus Rp 13 Triliun, Kelapa Sawit Paling Diandalkan | Ilustrasi gambar melalui devigoblog.lecturer.umi.ac.id

EnglishIndonesia