JAKARTA -Penerapan prinsip Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (Tata kelola) atau disingkat ESG adalah keniscayaan, termasuk bagi perusahaan di industri kelapa sawit. Sebab berkaitan dengan upaya berkelanjutan (sustainability) baik dari sisi hulu yaitu lahan serta tanamannya maupun produk hilirnya.

Belum lagi dampak sosial yang ditimbulkan oleh industri sawit, yang menurut Kementerian Koordinator Perekonomian Indonesia telah menciptakan lebih dari 16 juta lapangan kerja sehingga turut membantu mengentaskan kemiskinan.

Dampak terhadap perekonomian dari sektor perkebunan terutama kelapa sawit juga terbilang besar dengan kontribusi mencapai sekitar 15% terhadap ekspor non-migas Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari posisi Indonesia sebagai penguasa pasar minyak sawit dunia dengan market share mencapai 54% sehingga pemerintah menyebut keberlangsungan industri sawit perlu dijaga secara bersama-sama oleh semua pihak.

Penerapan prinsip ESG adalah bagian dan cara dari pelaku industri kelapa sawit untuk turut berkontribusi secara maksimal dalam menjaga keberlangsungan dimaksud. Lalu, seperti apa penerapannya sejauh ini? Seberapa penting industri menyikapi kebutuhan akan praktik prinsip ESG?

Berikut adalah petikan wawancara Redaksi TrenAsia dengan Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Tofan Mahdi pada pertengahan September 2022.

Saat ini seberapa penting industri, khususnya di GAPKI memandang praktik ESG oleh perusahaan anggota?

Komitmen terhadap ESG sudah dilaksanakan oleh semua anggota GAPKI. Komitmen ini sangat penting karena keberlanjutan industri sawit adalah sebuah keniscayaan. Kewajiban sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) sebetulnya merupakan bukti bahwa tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah sesuai dengan prinsip-prinsip terkait pelaksanaan komitmen ESG.

Sudah dalam fase apa praktek ESG oleh GAPKI saat ini? Sudah masuk implementasi atau dalam proses akan aplikasi?

Sudah masuk implementasi pastinya. Komitmen terhadap tata kelola lingkungan yang baik dilaksanakan dalam banyak hal seperti menjaga areal dengan nilai konservasi tinggi, menjaga lahan gambut, mencegah kebakaran lahan, dan sebagainya.

Untuk sosial, sudah pasti, karena perkebunan kelapa sawit ada di tengah masyarakat. Tidak mungkin kami tidak membangun hubungan sosial yang baik dengan masyarakat.

Perlu dicatat, bahwa dari luas total 16,3 juta hektar perkebunan sawit di Indonesia, 41% dimiliki oleh masyarakat (petani). Dalam bidang governance, seluruh perusahaan anggota GAPKI telah melaksanakan tata kelola usaha dengan baik (good corporate governance)

Himbauan atau sosialisasi seperti apa yang sudah atau sedang dijalankan kepada anggota GAPKI?

Kami selalu mengingatkan kepada anggota akan arti penting perusahaan dalam melaksanakan dan menjaga komitmen terkait ESG.

Apakah ada data persentase atau jumlah anggota GAPKI yang sudah menjalankan ESG?

Kami menargetkan 100% anggota GAPKI telah mendapatkan sertifikasi ISPO. Dengan pencapaian ini, kita bisa mengukur bagaiamana pelaksanaan ESG di masing-masing anggota.

Apa tantangan yang dihadapi secara umum oleh pelaku industri sawit dalam penerapan ESG, jika ada?

Tantangan utamanya adalah bagaimana membangun visi yang sama untuk menjamin agar sektor usaha kelapa sawit tetap berkelanjutan.

Apresiasi seperti apa yang ingin disampaikan GAPKI kepada pelaku industri sawit yang sudah berinisiatif menjalankan ESG?

Kami tidak dalam posisi bisa memberikan atau tidak memberikan apresiasi kepada anggota. Masing-masing perusahaan anggota akan merasakan manfaatnya sendiri dengan penerapan komitmen ESG.

Sumber: esgindonesia.trenasia.com | Ilustrasi gambar melalui prindonesia.co.id

EnglishIndonesia