Uni Eropa Diuntungkan Dengan Mengimpor Minyak Sawit

Impor minyak sawit Uni Eropa memberi manfaat yang luas bagi Uni Eropa. Kehadiran minyak sawit di EU tidak menghilangkan tanaman RSO maupun SFO (local content), mengurangi masalah trade-off fuel-food, menurunkan emisi GHG, menimimumkan embodied deforestasi, dan masyarakat EU dapat menikmati harga minyak nabati komposit yang lebih murah. Manfaat ekonomi yang tercipta di EU akibat penggunaan minyak sawit setiap tahun meningkatkan GDP Uni Eropa sebesar 5,7 miliar Euro, menciptakan penerimaan pemerintah 2,6 miliar Euro dan menciptakan kesempatan kerja 117 ribu orang. Pilihan bagi masyarakat EU untuk mempertahankan kesejahteraanya tampaknya tidak banyak. Sayangnya untuk penyediaan minyak nabati yang paling optimal adalah tetap dari minyak sawit. Paradigma masyarakat dan pemerintah EU mungkin perlu berubah melihat sawit. Masyarakat dan pemerintah EU perlu cara baru melihat sawit bahwa “kebun sawit merupakan anugerah Tuhan bagi kesejahteraan EU melalui Indonesia”.

PENDAHULUAN

Kawasan Uni Eropa merupakan salah satu pasar tradisional ekspor minyak sawit Indonesia. Di kawasan tersebut, minyak sawit merupakan salah satu dari empat jenis minyak nabati dunia yang dikonsumsi masyarakat Uni Eropa. Tiga jenis minyak nabati lainnya adalah minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari.

Minyak sawit untuk konsumsi Uni Eropa semuanya diimpor dari negara produsen minyak sawit terutama Indonesia dan Malaysia. Sedangkan minyak kedelai, rapeseed dan minyak bunga matahari selain diimpor juga sebagian dihasilkan di kawasan Eropa. Perbedaan sumber penyediaan keempat minyak nabati tersebut juga mempengaruhi kebijakan Uni Eropa dan perilaku konsumsi di kawasan tersebut.

Setidaknya dalam 20 tahun terakhir ini kampanye negatif bahkan tidak jarang kampanye hitam terhadap minyak sawit berkembang dan datang dari kawasan Uni Eropa ini. Labelisasi “Palm Oil Free” atau “No Palm Oil” berkembang di dan dari kawasan tersebut. Selain itu, kebijakan impor minyak nabati Uni Eropa juga sering merugikan minyak sawit. Contoh terakhir adalah rencana kebijakan Perancis yang akan menaikkan tarif impor regresif dan progresif atas impor minyak sawit.

Pada dasarnya, impor minyak sawit dari Uni Eropa memberi keuntungan yang luas bagi Uni Eropa, tidak hanya sekedar hitung-hitungan bisnis semata tetapi menguntungkan bagi Uni Eropa secara keseluruhan. Bahkan juga sesuai dengan perhatian Uni Eropa pada pelestarian lingkungan.

Kajian ini menganalisis bagaiamana pasar minyak nabati utama di kawasan Uni Eropa (EU) dan manfaat apa yang dinikmati EU. Untuk menangkap kecenderungan historis, kajian ini menggunakan data pola dan komposisi konsumsi empat minyak nabati tahun 1980-2015.

POLA KONSUMSI MINYAK NABATI EU

Menurut data Oil World, volume konsumsi empat minyak nabati utama di kawasan EU mengalami peningkatan hampir 8 kali lipat dalam periode tahun 1980-2015. Pada tahun 1980 volume konsumsi EU untuk keempat minyak nabati tersebut masih sekitar 3.7 juta ton, meningkat menjadi sekitar 23 juta ton tahun 2015. Volume konsumsi masing-masing minyak nabati tersebut mengalami peningkatan konsisten yang menunjukkan bahwa keempat jenis minyak nabati tersebut dikonsumsi EU secara komposit dengan proporsi tertentu. Untuk konsumsi minyak sawit di kawasan EU meningkat dari 0.3 juta ton (1980) menjadi 6.8 juta ton (2015).

Dalam periode tersebut, pangsa konsumsi keempat jenis minyak nabati tersebut mengalami perubahan (Gambar 1). Pangsa minyak sawit (CPO) mengalami peningkatan dari sekitar 8 persen (1980) menjadi sekitar 30 persen (2015) atau meningkat hampir empat kali lipat. Demikian juga minyak rapeseed (RSO) meningkat dari 20 persen menjadi sekitar 44 persen dalam periode yang sama. Sementara minyak bunga matahari (SFO) pangsanya relatif stabil yakni dari sekitar 17 persen menjadi 16.45 persen. Satu-satunya minyak nabati yang pangsanya turun drastis adalah minyak kedelai (SBO) yang konsisten turun dari sekitar 55.8 persen tahun 1980 menjadi hanya 9 persen tahun 2015.

Gambar 1. Volume dan Pangsa Konsumsi Empat Minyak Nabati Utama di Uni Eropa (Sumber : Oil World)

Data perkembangan pangsa tersebut, menunjukkan bahwa tiga minyak nabati utama yakni CPO, RSO dan SFO bukan hanya volume konsumsinya meningkat, tetapi juga bertumbuh lebih cepat dari konsumsi SBO. Dengan perubahan pangsa yang demikian, pola komposit konsumsi minyak nabati di kawasan EU telah berubah dari semula (1980) : SBO, RSO, SFO, CPO, kemudian setelah tahun 2000 sampai tahun 2015 menjadi RSO, CPO, SFO, SBO.

APAKAH CPO MUSUH MINYAK NABATI EU ?

Persaingan antar jenis minyak nabati berawal dari hubungan konsumsi antar jenis minyak nabati. Secara teoritis terdapat tiga hubungan konsumsi antar barang yakni hubungan subsitusi (pengganti), hubungan komplementer (dikonsumsi bersamaan secara komposit) dan hubungan independen (memiliki segmen konsumen tersendiri). Dalam ilmu ekonomi hubungan tersebut dapat di deteksi dengan berbagai alat seperti elastisitas permintaan/konsumsi maupun analisis rasio konsumsi.

Dengan menggunakan pendekatan rasio konsumsi antar jenis minyak nabati di kawasan EU (Tabel 1) memperlihatkan hal yang menarik tentang hubungan antar minyak nabati di pasar EU.

Pertama, rasio volume konsumsi CPO terhadap SBO menunjukkan perubahan yang drastis selama periode 1980-2015. Rasio konsumsi CPO dengan SBO tahun 1980 masih sekitar 0.28 berubah menjadi 3.8 tahun 2015. Peningkatan rasio tersebut menunjukkan bahwa konsumsi CPO dengan SBO di kawasan EU saling bersaing (subsitusi) yang makin mendesak konsumsi SBO. Jika tahun 1980 setiap ton CPO hanya mendesak sekitar 0.28 ton SBO maka tahun 2015 setiap ton CPO mendesak 3.8 ton SBO. Kenaikan pangsa CPO yang disertai dengan penurunan pangsa SBO dalam konsumsi minyak nabati EU (Gambar 1) juga cerminan hubungan subsitusi tersebut.

Tabel 1. Perkembangan Rasio Volume Konsumsi CPO dengan Minyak Nabati Lain di Uni Eropa 1965-2015

Sumber : Oil World

Kedua, rasio konsumsi CPO dengan RSO di kawasan EU relatif stabil khususnya setelah tahun 2000 yakni berkisar antara 0.54-0.7. Rasio konsumsi tersebut mencerminkan bahwa konsumsi CPO dengan RSO di kawasan EU cenderung bersifat komplementer dari pada subsitusi. Setiap peningkatan konsumsi CPO disertai dengan peningkatan konsumsi RSO dengan proporsi relatif konstan, atau sebaliknya dimana peningkatan konsumsi RSO memerlukan peningkatan konsumsi CPO. Hubungan komplementer ini juga terkonfirmasi dengan perkembangan pangsa CPO dan RSO dalam konsumsi EU yang sama-sama meningkat (Gambar 1).

Ketiga, rasio konsumsi CPO dengan SFO di kawasan EU juga relatif stabil khususnya setelah tahun 2000 yakni pada kisaran 1.36-1.94. Hal ini juga mencerminkan bahwa konsumsi CPO dan SFO bersifat cenderung komplementer di kawasan EU. Setiap kenaikan volume konsumsi SFO diikuti dengan peningkatan konsumsi CPO atau sebaliknya. Hubungan komplementer antara SFO dengan CPO di kawasan EU tersebut juga tercermin dari pangsa CPO dan SFO yang sama-sama meningkat dalam konsumsi minyak nabati EU (Gambar 1).

MENGUNTUNGKAN EU

Pandangan politisi EU selama ini yang mengatakan bahwa masuknya minyak sawit ke Uni Eropa akan mendesak minyak nabati Eropa (SFO, RSO) tidak didukung fakta. Pada masyarakat EU, konsumsi CPO, SFO maupun RSO dilakukan secara komplementer dan tidak saling bersaing (subsitusi). Peningkatan konsumsi CPO juga disertai dengan peningkatan konsumsi SFO maupun RSO secara proporsional.

Hubungan komplementer antara RSO, SFO dengan CPO pada konsumsi EU dengan kisaran komplementasi yang relatif luas, justru menguntungkan Uni Eropa. Pertama, kehadiran minyak sawit di EU tidak akan menghilangkan tanaman RSO maupun SFO karena diperlukan sebagai blending dalam konsumsi CPO. Kedua, EU yang telah menghadapi keterbatasan lahan, kehadiran CPO juga akan menghindarkan tanaman RSO dan SFO terlalu ekspansif, yang menggerogoti lahan pangan lainnya yang dapat mengancam penyediaan pangan EU, sebagaimana dikhawatirkan selama ini (OECD/FAO, 2007) dan Ketiga, Masyarakat EU justru diuntungkan dengan kehadiran CPO di pasar EU karena dapat menikmati harga minyak nabati komposit yang lebih murah dibandingkan jika hanya ada SFO dan RSO. Manfaat ekonomi kehadiran CPO di pasar EU sudah dibuktikan secara emperis oleh studi komisi EU (Europe Economic, 2014).

Kepentingan masyarakat EU adalah mempertahankan tanaman minyak nabati EU pada proporsi tertentu, memperoleh minyak nabati yang lebih murah dan komposisi jenis minyak nabati yang mengandung minyak lokal (local content) dan tidak menjadi pemicu deforestasi yang lebih besar di belahan dunia. Kepentingan masyarakat EU tersebut ternyata sudah ditemukan sendiri oleh masyarakat EU yakni blending CPO, RSO dan SFO sebagai konsumsi komposit minyak nabati EU (selera EU).

Kehadiran minyak sawit juga mengurangi masalah trade-off fuel-food yang dihadapi negara-negara maju termasuk Uni Eropa. Sebagaimana analisis OECD (2007) jika EU mengurangi 10 persen saja konsumsi BBM fosil dan digantikan dengan biofuel (sebagaimana EU energy directive) Uni Eropa harus mengkonversi 70 persen lahan pertaniannya menjadi tanaman minyak nabati. Sedangkan untuk mensubsitusi 10 persen diesel dengan biodiesel berbasis kedelai, USA harus mengkonversi 30 persen lahan pertaniannya untuk kebun kedelai, sehingga akan mengganggu ketahanan pangan USA dan EU bahkan secara global.

Dengan ketersediaan minyak sawit secara internasional program subtitusi BBM fosil dengan biodiesel dapat dilakukan Uni Eropa dan USA tanpa mengkonversi lahan pertaniannya. Hal ini untuk Uni Eropa telah terkonfirmasi (Gambar 2) dimana sekitar 38 persen impor minyak sawit EU dipergunakan untuk energi baik biodiesel maupun listrik.

Gambar 2. Penggunaan CPO Menurut Sektor di EU 27

Ketersediaan minyak sawit di negara- negara maju juga menciptakan manfaat ekonomi di negara-negara importir. Untuk Uni Eropa misalnya, manfaat ekonomi yang tercipta di EU akibat penggunaan minyak sawit setiap tahun meningkatkan GDP Uni Eropa sebesar 5,7 miliar Euro, menciptakan penerimaan pemerintah 2,6 miliar Euro dan menciptakan kesempatan kerja 117 ribu orang (Tabel 2).

Pilihan bagi masyarakat EU untuk mempertahankan kesejahteraanya tampaknya tidak banyak. Sayangnya untuk penyediaan minyak nabati yang paling optimal adalah tetap dari minyak sawit. Paradigma masyarakat dan pemerintah EU mungkin perlu berubah melihat sawit. Masyarakat dan pemerintah EU perlu cara baru melihat sawit bahwa “kebun sawit merupakan anugerah Tuhan bagi kesejahteraan EU melalui Indonesia”.

Tabel 2 Manfaat Ekonomi Penggunaan Minyak Sawit pada Perekonomian Uni Eropa

Sumber : Europe Economic, 2014 The Economic Impact Palm Oil Import in the EU

KESIMPULAN

Impor minyak sawit Uni Eropa memberi manfaat yang luas bagi Uni Eropa. Kehadiran minyak sawit di EU tidak menghilangkan tanaman RSO maupun SFO karena diperlukan sebagai blending dalam konsumsi CPO. EU yang telah menghadapi keterbatasan lahan, kehadiran CPO juga akan menghindarkan tanaman RSO dan SFO terlalu ekspansif, yang menggerogoti lahan pangan lainnya yang dapat mengancam penyediaan pangan EU, sebagaimana dikhawatirkan selama ini (OECD/FAO, 2007). Masyarakat EU juga diuntungkan dengan kehadiran CPO di pasar EU karena dapat menikmati harga minyak nabati komposit yang lebih murah dibandingkan jika hanya ada SFO dan RSO.

Kepentingan masyarakat EU untuk mempertahankan tanaman minyak nabati EU (local content) pada proporsi tertentu, tidak terganggu dengan kehadiran minyak sawit di pasar Eropa. Kepentingan masyarakat EU tersebut ternyata sudah ditemukan sendiri oleh masyarakat EU yakni blending CPO, RSO dan SFO sebagai konsumsi komposit minyak nabati EU (selera EU).

Kehadiran minyak sawit juga mengurangi masalah trade-off fuel-food yang dihadapi negara-negara maju termasuk Uni Eropa. Sebagaimana analisis OECD (2007) jika EU mengurangi 10 persen saja konsumsi BBM fosil dan digantikan dengan biofuel (sebagaimana EU energy directive) Uni Eropa harus mengkonversi 70 persen lahan pertaniannya menjadi tanaman minyak nabati. Sedangkan untuk mensubsitusi 10 persen diesel dengan biodiesel berbasis kedelai, USA harus mengkonversi 30 persen lahan pertaniannya untuk kebun kedelai, sehingga akan mengganggu ketahanan pangan USA dan EU bahkan secara global. Dengan ketersediaan minyak sawit secara internasional program subtitusi BBM fosil dengan biodiesel dapat dilakukan Uni Eropa dan USA tanpa mengkonversi lahan pertaniannya. Hal ini untuk Uni Eropa telah terkonfirmasi dimana sekitar 38 persen impor minyak sawit EU dipergunakan untuk energi baik biodiesel maupun listrik.

Ketersediaan minyak sawit di negara-negara maju juga menciptakan manfaat ekonomi di negara-negara importir. Untuk Uni Eropa misalnya, manfaat ekonomi yang tercipta di EU akibat penggunaan minyak sawit setiap tahun meningkatkan GDP Uni Eropa sebesar 5,7 miliar Euro, menciptakan penerimaan pemerintah 2,6 miliar Euro dan menciptakan kesempatan kerja 117 ribu orang.

Tim Riset PASPI