Produksi Yang Belum Maksimal Kikis Stok Minyak Sawit Indonesia

web logo

SIARAN PERS
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Produksi Yang Belum Maksimal Kikis Stok Minyak Sawit Indonesia

Sampai pada caturwulan pertama 2017 produksi minyak sawit Indonesia (CPO dan PKO) masih belum maksimal. Produksi yang belum maksimal ini tidak seimbang dengan permintaan pasar global yang terus meningkat sehingga stok minyak sawit Indonesia terus terkikis. Pada April ini, stok minyak sawit Indonesia telah berada di bawah 1 juta ton.

Kinerja ekspor minyak sawit (CPO & turunannya, oleochemical dan Biodiesel) Indonesia selama caturwulan pertama 2017 telah mencapai 10,7 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 26% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 8,7 juta ton. Pada bulan April 2017 ekspor minyak sawit Indonesia kembali naik sebesar 6% dibandingkan dengan bulan lalu atau dari 2,53 juta ton di Maret naik menjadi 2,68 juta ton di April. Kenaikan ekspor ini mengikis stok minyak sawit Indonesia hingga tersisa 888 ribu ton saja.

Ekspor yang meningkat karena permintaan pasar global yang tinggi sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan akan minyak sawit tak terhindarkan meskipun berbagai macam kampanye negatif yang didengungkan oleh negara pesaing untuk menjatuhkan kebesaran minyak sawit.

Contoh yang paling nyata adalah negara-negara Uni Eropa yang pada pertengahan Maret lalu Parlemen Uni Eropa mengeluarkan Resolusi tentang minyak sawit yang dituduh sebagai penyebab deforestasi. Pada bagian akhir resolusi tersebut menyarankan agar menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati lainnya untuk pemanfaatan dalam program renewable energy (biodiesel). Hal ini sangat ironis karena dalam kenyataannya permintaan minyak sawit dari negara Benua Biru membukukan kenaikan sejak Maret. Pada April ini negara-negara Uni Eropa juga masih mencatatkan kenaikan permintaan minyak sawit (CPO dan turunannya) sebesar 8% atau dari 446,92 ribu ton di Maret naik menjadi 482,95 ribu ton di April. Hal ini menunjukkan kebutuhan akan minyak sawit masih tidak tergantikan.

Jelang Ramadhan permintaan beberapa negara yang memiliki basis mayoritas muslim mencatatkan kenaikan permintaan karena memang pada kebiasaannya konsumsi akan minyak nabati selalu meningkat selama bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Contohnya Bangladesh, meskipun secara volume tidak besar pada April ini mencatatkan kenaikan permintaan sebesar 116% atau dari 57,80 ribu ton pada Maret naik menjadi 124,95 ribu ton di April. Kenaikan permintaan juga diikuti oleh India yaitu sebesar 56% atau dari 430,03 ribu ton pada Maret terkerek menjadi 672,14 ribu ton. Selanjutnya adalah Pakistan yang membukukan kenaikan sebesar 18% atau dari 175,26 ribu ton pada Maret meningkat menjadi 207,21 ribu ton.

Sebaliknya China membukukan penurunan yang cukup signifikan. Pada April ini, China mencatatkan penurunan 38% atau dari 322,14 ribu ton di Maret turun menjadi 201,12 ribu ton. Lesunya permintaan pasar di China karena Negeri Tirai Bambu ini sedang masifnya mengimpor kedelai untuk memenuhi permintaan industri crushing di dalam negerinya. China juga sedang meningkatkan stok kedelainya dengan memanfaatkan harga kedelai yang masih tergolong murah karena melimpahnya stok global.

Dari sisi harga, sepanjang April harga harian CPO global menunjukkan tren penurunan, harga hanya bergerak di kisaran US$ 655 – US$ 717,50 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 683,9 per metrik ton. Sementara itu harga sampai pekan keempat Mei ini menunjukkan tren kenaikan yang bergerak di kisaran US$ 695 – US$ 750 per metrik ton. GAPKI memperkirakan harga sepanjang Juni masih akan bergerak di kisaran US$ 700 – US$ 750 per metrik ton.

Jakarta, 31 Mei 2017
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Informasi lebih lanjut, hubungi:

Fadhil Hasan
Direktur Eksekutif GAPKI
Tel. 021-57943871
Fax. 021-57943872