Sawit Indonesia Merevolusi Pasar Minyak Nabati Dunia

Keberhasilan Indonesia merebut posisi sebagai produsen minyak sawit dunia telah membawa revolusi pada pasar minyak nabati dunia, yang ditandai dengan tampilnya minyak sawit sebagai minyak nabati dunia menggantikan minyak kedelai dunia.

Untuk pertama kali dalam sejarah ekonomi dunia, produk dari Indonesia membawa revolusi pada pasar dunia. Produk yang dimaksud adalah minyak sawit Indonesia.

Sejak tahun 2006, Indonesia berhasil merebut posisi penting dalam perekonomian dunia yakni menjadi produsen terbesar minyak sawit dunia sekaligus menjadi produsen terbesar minyak nabati dunia. Dua gelar sekaligus direbut Indonesia yakni sebagai “raja” minyak sawit dunia (mengalahkan Malaysia) dan “raja” minyak nabati dunia mengalahkan minyak kedelai Amerika Serikat.

Minyak sawit adalah salah satu dari 17 jenis minyak nabati dunia. Keberhasilan Indonesia merebut posisi “raja” minyak sawit dunia telah membawa revolusi pada minyak nabati dunia. Lebih dari 100 tahun, minyak kedelai Amerika Serikat merajai pasar minyak nabati dunia.

Pada tahun 1965 pasar minyak nabati dunia dikuasai oleh minyak kedelai dengan pangsa sebesar 65 persen. Kemudian disusul minyak nabati Eropa yakni minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Posisi dominasi minyak kedelai ini masih berlangsung sampai tahun 2006.

Namun sejak tahun 2006, minyak sawit Indonesia membawa perubahan dalam pasar minyak nabati dunia yakni minyak sawit dunia menggeser minyak kedelai. Tahun 2016, pangsa minyak sawit dalam pasar minyak nabati (utama) dunia mencapai 40 persen, meninggalkan minyak kedelai yang pangsanya menurun menjadi hanya 33 persen. Kini konsumsi minyak nabati dunia didominasi minyak sawit dan produsen minyak sawit terbesar dunia adalah Indonesia dengan pangsa 54 persen. Ini adalah suatu revolusi minyak nabati dunia, yang oleh Byerlee (2017) dari Stanford University menyebutnya sebagai revolusi minyak nabati tropis.

Tergusurnya minyak kedelai tersebut bukan karena produksi minyak kedelai turun atau luas kebun kedelai berkurang. Sebaliknya, kebun kedelai naik tajam dari 25.8 juta hektar tahun 1965 menjadi 123 juta hektar tahun 2016. Sementara kebun sawit dunia hanya naik dari 3.6 juta hektar menjadi 20.2 juta hektar dalam periode yang sama. Namun produktivitas minyak sawit 8-10 kali lipat dari produktivitas minyak dari kebun kedelai.

Keunggulan produktivitas minyak dari kebun sawit tersebut, membuat harga minyak sawit juga jauh lebih murah dari pada harga minyak kedelai maupun minyak nabati Eropa. Selain itu, karakteristik kebun sawit yang berupa pohon yang produktif mengahsilkan minyak sampai umur 25-30 tahun, membuat pasokan minyak sawit jauh lebih stabil dan tidak terlalu berpengaruh (dibanding minyak nabati lain) akibat perubahan iklim.

Revolusi pasar minyak nabati dunia (produksi dan konsumsi) yang ditandai dengan munculnya minyak sawit sebagai minyak nabati utama dunia (menggantikan minyak kedelai) juga merembet ke pasar produk hilir minyak nabati dunia. Sebagaimana diketahui, minyak nabati digunakan untuk bahan pangan (oleofood),oleokimia (sabun, deterjen, toiletries, bahan kosmetika, dll) dan biodiesel.

Saat ini hampir 60 persen dari pangan olahan dunia sudah menggunakan minyak sawit. Demikian juga produk-produk oleokimia tersebut juga telah bergeser menggunakan minyak sawit. Bahkan biodiesel dunia pun penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakunya makin meningkat porsinya.

Kedepan, revolusi pasar minyak nabati dunia termasuk pasar produk hilirnya akan berlanjut terus bahkan makin menguat. Produksi minyak wait dari “raja” minyak sawit dunia yakni Indonesia masih meningkat kedepan terutama karena peningkatan produktivitas. Apalagi teknologi hilir juga makin berkembang terus, sehingga industri pengguna minyak sawit makin meluas kedepan. Bioavtur, biopremium, biopalstik, biopelumas dari minyak sawit akan segera hadir di pasar dunia yang juga akan mewarnai revolusi pasar minyak nabati dunia.

Indonesia harus naik kelas dari pemimpin revolusi pasar minyak nabati dunia menjadi pemimpin revolusi produk hilir. Posisi baru ini harus direbut dan tidak akan “jatuh sendiri dari langit”.

Source : Indonesiakita.or.id