Sawit Indonesia Harapan Minyak Nabati Dunia Menuju 2050

Menuju tahun 2050, sekitar 40 persen dari kebutuhan minyak nabati dunia berada dipundak industri minyak sawit Indonesia

Menuju tahun 2050 untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia akan tergantung pada industri minyak sawit dunia. Kemampuan produksi minyak nabati dunia di luar sawit seperti minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari sulit mengimbangi peningkatan kebutuhan minyak nabati dunia.

Penduduk dunia akan meningkat dari saat ini 7.6 milyar orang menjadi sekitar 9.3 milyar orang menuju tahun 2050. Selain itu, ekonomi dunia juga akan makin besar setidaknya tiga kali lipat dari saat ini. Sekitar 70 persen penduduk dunia yang saat ini berpendapatan menengah (middle income countries) seperti Cina, India, Indonesia, Brazil, sedang dan akan mengalami percepatan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat sehingga menuju tahun 2050 keempat negara tersebut akan tampil menjadi top ten ekonomi dunia.

Keeempat negara tersebut yang populasinya sekitar 60 persen penduduk dunia, konsumsi minyak nabatinya masih dibawah rata-rata dunia. Dengan pertumbuhan ekonomi menuju tahun 2050 akan terjadi percepatan pertumbuhan konsumsi minyak nabati.

Saat ini menurut data FAO dan Oil World, konsumsi minyak nabati hanya untuk pangan (edible oil) memang baru mencapai 20 Kg/kapita. Sedangkan untuk non-edible oil baru sekitar 7.6 Kg/kapita. Atau total sekitar 27.6 Kg/kapita. Sebagai catatan konsumsi total tertinggi adalah Argentina 75.3 kg/kapita, EU-28 62.1 kg/kapita, USA 58.3 kg/kapita, dan yang termasuk rendah adalah India baru mencapai 16.7 kg/kapita. Indonesia mencapai 41.7 kg/kapita (edible oil dan non edible oil). Menuju tahun 2050 konsumsi minyak nabati dunia diproyeksikan akan naik menjadi sekitar 40 Kg/kapita, dimana untuk edible oil sekitar 25 Kg/kapita dan non-edible oil diperkirakan 15 Kg/kapita.

Pertumbuhan konsumsi non-edible oil tersebut mencakup untuk biofuel dan biomaterial seperti detergent, sabun, toiletries/cosmetics, biolubrikan. Makin menipisnya cadangan energi fosil dunia (minyak bumi, gas, batubara) menuju tahun 2050 akan meningkatkan produksi biofuel dan biomaterial.

Dengan perkiraan konsumsi per kapita minyak nabati tersebut, menuju tahun 2050 masyarakat dunia memerlukan setidaknya sekitar 370 juta ton minyak nabati setiap tahun. Pada tahun 2016 lalu produksi minyak nabati dunia hanya sekitar 180 juta ton. Ini artinya menuju tahun 2050, produksi minyak nabati dunia harus naik dua kali lipat dari saat ini atau tambahan sekitar 190 juta ton lagi. Dari mana masyarakat dunia memenuhi tambahan tersebut?

Sekitar 90 persen produksi minyak nabati dunia saat ini berasal dari 4 minyak nabati utama dunia yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari. Produksi minyak bunga matahari dan rapeseed sampai tahun 2016 hanya sekitar 42 juta ton dan minyak kedelai 54 juta ton. Dari minyak bunga matahari dan rapeseed sulit diharapkan meningkat siginifikan kedepan. Minyak kedelai diproyeksikan masih meningkat terutama dari Amerika Selatan.

Diperkirakan menuju tahun 2050 tambahan produksi yang mungkin dari minyak kedelai, rapeseed dan bunga matahari sekitar 30 juta ton sehingga harapan tinggal dari minyak sawit dunia. Malaysia tidak punya ruang lagi untuk ekspansi sawit, namun peningkatan  produktivitas masih terbuka. Negara produsen minyak sawit lainnya meskipun meningkat, tidak terlalu banyak. Di luar Indonesia, tambahan produksi minyak sawit diperkirakan  sekitar 25 juta ton.

Dengan demikian, dari 190 juta ton tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju 2050, baru terpenuhi sekitar 75 juta ton, yakni dari minyak kedelai, rapeseed, bunga matahari (30 juta ton), 13 jenis minyak nabati lainya (20 juta ton), sawit (selain Indonesia) sekitar 25 juta ton. Berarti masih kekurangan sekitar 115 juta ton lagi tambahan.

Kekurangan 115 juta ton tersebut diharapkan dari sawit Inonesia. Produksi minyak sawit Indonesia tahun 2017 diperkirakan sekitar 40 juta ton. Sehingga menuju tahun 2050 produksi minyak sawit Indonesia diharapkan menjadi 155 juta ton. Untuk mencapai produksi sebesar itu, luas kebun sawit Indonesia  perlu 25 juta hektar dan produktivitas harus naik menjadi  rata-rata 6 ton minyak per hektar.

Dengan kata lain menuju tahun 2050, masyarakat dunia memerlukan minyak nabati sebesar 370 juta ton per tahun. Sekitar 40 persen dari kebutuhan minyak nabati dunia tersebut yakni 150 juta ton  berada dipundak industri minyak sawit Indonesia.

Source : Indonesiakita.or.id