Kemitraan Sawit Rakyat-Korporasi Pilar Penting Industri Sawit Nasional

Masa depan industri sawit nasional diperkirakan akan ditentukan kebun sawit rakyat yang pangsanya akan mencapai 60 persen. Oleh karena itu kemitraan sawit rakyat-korporasi makin penting dan menentukan sustainability industri sawit nasional

Berbagai pola kemitraan sawit rakyat-korporasi yang dibangun sejak awal tahun 1980 telah mengukir prestasi besar dalam Industri minyak sawit nasional. Pola kemitraan Gelombang Pertama seperti PIR-Lok, PIR-SUS, PIR-trans, PIR-KKPA dan bentuk kemitraan lain yang dikembangkan bukan hanya berhasil menjadikan petani sawit menjadi salah satu aktor penting perkebunan sawit nasional, tetapi juga telah membawa Indonesia menjadi produsen terbesar minyak sawit dunia. Kemitraan tersebut yang merupakan suatu modal sosial (social capital) juga menciptakan sosial inklusi yang menampilkan wajah pembangunan (development) industri sawit nasional.

Kemitraan Gelombang Pertama tersebut telah berhasil memperluas (ekstensifikasi) kebun sawit nasional. Maka untuk  gerakan replanting sawit rakyat dan peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat (intensifikasi) akan lebih mudah berhasil dengan menggerakkan pola kemitraan yang telah ada. Melalui Kemitraan Gelombang Kedua ini, diharapkan akan mempercepat industrialisasi perkebunan sawit khususnya peningkatan produktivitas sawit rakyat dari 3.4 menjadi 8 ton minyak per hektar. Kemitraan gelombang kedua tersebut makin sangat strategis, mengingat kebun sawit rakyat akan menjadi aktor terbesar kebun sawit nasional dalam beberapa tahun kedepan. PASPI meperkirakan, menjelang 2030 pangsa kebun sawit rakyat akan meningkat dari 42 persen saat ini menjadi  60 persen dari luas kebun sawit nasional. Masa depan kebun sawit nasional ada ditangan kebun sawit rakyat. Oleh karena itu, tanpa pengembangan dan perbaikan kualitas kemitraan, pasokan minyak sawit ke industri hilir akan terganggu.

Selain untuk replanting dan peningkatan produktivitas, kemitraan sawit rakyat-korporasi juga akan mempermudah terwujudnya tingkat pengelolaan yang memenuhi asas-asas keberlanjutan (sustainability). Level dan kualitas keberlanjutan sawit rakyat akan lebih mudah dicapai dengan pengelolaan kemitraan sawit rakyat-korporasi sehamparan.

Bahkan pola kemitraan sawit rakyat-korporasi gelombang kedua ini akan makin menyatukan, mensinergikan seluruh kekuatan (sosial, ekonomi, politik) menjadi suatu Big-push pembangunan bukan hanya bagi industri sawit itu sendiri tetapi juga bagi perekonomian nasional secara keseluruhan. Mesin pertumbuhan besar bagi perekonomian nasional akan lahir dari industri sawit dengan pola kemitraanya.

Source : Indonesiakita.or.id