Masuk Musim Hujan Dikhawatirkan Harga Anjlok, Ini yang Dilakukan Pengusaha Sawit

BANJARMASIN – Memasuki awal musim hujan di pengunjung tahun 2017, pengusaha industri kelapa sawit khawatir harga jual kelapa sawitnya kembali akan menurun.

Dijelaskan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Selatan (Kalsel) Totok Dewanto, pada musim hujan produksi kelapa sawit akan meningkat.

Namun jika tidak diikuti dengan meningkatnya permintaan pasar, justru peningkatan produksi ini akan diprediksi membuat harga jual kelapa sawit kembali jatuh.

Saat ini harga pasaran kelapa sawit tandan buah segar (tbs) berada di kisaran Rp 1.400 sampai Rp 1.800 perkilogram dan harga pasaran crude palm oil (CPO) di kisaran Rp 9.000 perkilogram. Menurut Totok harga tersebut masih berada dalam kisaran harga yang ideal.

“Dua tahun kebelakang saya kira harga masih bagus ya, kalau di bawah Rp 1.000 perkilogram baru kami dan petani menangis,” kata Totok.

Saat ini produksi kelapa sawit di Kalsel mencapai kisaran 1,2 juta ton pertahun. Jumlah ini dihasilkan dari sekitar 400 hingga 500 ribu hektar perkebunan kelapa sawit di Kalsel.

Saat ini ada total 66 perusahaan yang bergerak di industri kelapa sawit dan 46 perusahaan diantaranya tercatat sebagai anggota GAPKI Kalsel.

Dari jumlah ini tidak hanya di dominasi perusahaan-perusahaan besar, tapi juga ada yang berskala kecil hingga yang berbentuk koperasi.

Ada dua pabrik refinery crude palm oil (CPO) di Kalsel milik perusahaan Minamas dan Sinarmas. Dari dua fasilitas ini CPO hasil kelapa sawit Kalsel diolah menjadi beberapa macam produk turunan seperti minyak goreng, margarin dan bio solar.

Sekitar 40 % hasil produk turunan kelapa sawit Kalsel digunakan untuk pasokan dalam negeri dan sisanya di ekspor ke beberapa negara.

Totok berharap pemerintah baik pusat maupun daerah agar mampu menarik minat para investor untuk menginvestasikan pabrik investasi industri hilir di industri kelapa sawit di Kalsel, karena saat ini mayoritas pabrik industri hilir masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera.

Padahal dengan adanya industri hilir di sektor kelapa sawit tentu akan mendatangkan potensi ekonomi yamg besar. Beberapa contoh produk akhir kelapa sawit seperti sabun, sampo dan banyak lagi.

Ia juga berharap nantinya usulan dan rencana GAPKI terkait konversi kawasan hutan menjadi perkebunan sawit bisa berjalan sehingga memperbesar potensi industri kelapa sawit Kalsel.

“Batas minimal kawasan hutan kita masih kelebihan 18 %, kalau jumlah ini dikonversi ke perkebunan sawit, jumlah lahan penghasil sawit bisa dua kali lipat,” kata Totok.

Source : Banjarmasin.tribunnews.com