Ekspor minyak sawit nasional hingga akhir tahun ini menembus 29 juta ton

Nusa Dua – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit lndonesia (Gapki) optimistis ekspor minyak sawit nasional hingga akhir tahun ini menembus 29 juta ton, atau naik 11,53% dari realisasi sepanjang 2016 yang sebesar 26 juta ton.

Sepanjang Januari-September 2017, ekspor komoditas perkebunan tersebut telah mencapai 23 juta ton. Peningkatan produksi minyak sawit nasional dan melonjaknya permintaan di pasar global menjadi pemicu naiknya ekspor.

Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit lndonesia (Gapki) Togar Sitanggang menjelaskan, khusus produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional hingga akhir tahun ini diperkirakan 37 juta ton. “Dari pantauan kinerja ekspor minyak sawit, CPO dan turunannya, hingga September 2017 yang rata-rata bergerak 2,40-2,50 juta ton maka kami proyeksikan sampai akhir tahun mencapai 29 juta ton. Ekspor terbesar masih ke India dan Tiongkok,” kata Togar, kemarin.

Togar mengungkapkan hal itu di sela 13th Indonesian Palm Oil Conference and 2018 Price Outlook (IPOC 2017) di Nusa Dua, Bali, Kamis (2/11). Dia mengatakan, pada September 2017, ekspor minyak sawit tercatat mencapai 2,40 juta ton. Data Gapki menunjukkan, sepanjang Januari-Agustus 2017, ekspor minyak sawit Indonesia telah mencapai 21,14 juta ton. Sementara itu, pada 2016, realisasi ekspor tercatat sebanyak 26,57 juta ton.

Togar menjelaskan, sepanjang Januari-September 2017, produksi CPO nasional saja telah mencapai 27 juta ton. Khusus September, produksi mencapai 3,50 juta ton. Kondisi iklim yang mendukung membuat produksi CPO Indonesia terus membaik. Gapki mencatat, sepanjang 2016, total produksi minyak sawit nasional (CPO dan turunannya) sebesar 35,58 juta ton. Sedangkan sepanjang Januari-Agustus tercatat mencapai 25,85 juta ton. “Produksi CPO sampai akhir 2017 bisa mencapai 37 juta ton, khusus produksi September 2017 sekitar 3,50 juta ton,” kataTogar.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Rino Afrino mengatakan, pada 2016, petani rakyat berkontribusi sekitar 11,70 juta ton terhadap total produksi CPO nasional. Produksi tersebut dihasilkan dari luas areal perkebunan kelapa sawit petani rakyat yang diestimasi mencapai 4,70 juta hektar (ha). Produksi petani berkontribusi sekitar 11,7 juta ton, tahun depan akan naik sekitar 20%. Ini dipacu oleh perbaikan cara berkebun yang baik serta program-program pembinaan dan pendampingan bagi petani rakyat ,” kata Rino.

Rino mengatakan, selama ini produktivitas petani memang masih rendah. Dalam beberapa kasus, hal itu disebabkan oleh penggunaan bibit yang tidak sah (illegitimate/belum diakui pemerintah). Namun ada juga yang disebabkan oleh ketidaktahuan petani dalam hal pola cara berkebun yang tidak sesuai standar, mulai dari penggunaan pupuk dan pengolahan lahan yang tidak tepat tidak menerapkan cara berkebun yang baik, hingga cara panen yang tidak tepat.  “Karena itu, kami mendorong dan telah melakukan program pembinaan bagi petani. Hasilnya, setelah dibina dan didampingi, produktivitas dan rendemen panen petani meningkat signifikan,” kata Rino.

Sementara itu, mengutip hasil studi LMC International pada 2016, Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menuturkan, akan terjadi peningkatan permintaan minyak nabati dunia hingga mencapai 50 juta ton pada 2025 seiring meningkatnya populasi global. Masih mengacu pada studi LMC tersebut, apabila kebutuhan itu hanya dipenuhi oleh satu komoditas saja maka dibutuhkan tambahan pertanaman rapeseed hingga 50,50 juta ha atau tambahan pertanaman bunga matahari (sunflower) hingga 70,50 juta ha dan atau 96 juta ha areal pertanaman kedelai. “Pertanyaannya, bagaimana upaya untuk memenuhi kenaikan permintaan tersebut,” ujar Joko saat pembukaan IPOC 2017.

Kenaikan Produktivitas

Joko Supriyono mengatakan, saat ini produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional masih berpeluang ditingkatkan. Pemerintah tengah menggiatkan program peningkatan produktivitas minyak sawit nasional yang ditandai dengan dibentuknya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP Sawit). Salah satu tugas badan itu adalah mendukung upaya peningkatan produktivitas petani rakyat melalui peremajaan kebun (replanting) yang peluncurannya dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Musi Banyuasin pada 13 Oktober 2017 lalu.

Dia mengatakan, peningkatan produktivitas tanaman kelapa sawit dengan replanting membutuhkan dukungan teknologi, baik bagi tanaman lama maupun hasil replanting. Karena itu, untuk mempercepat dan mendongkrak hasil program replanting tersebut dibutuhkan kontribusi perusahaan. “Yakni, melalui kemitraan bersama petani rakyat. Kesuksesan peningkatan produktivitas akan menekan penggunaan lahan menjadi kebun kelapa sawit,” kata Joko.

Sementara itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution saat membuka IPOC 2017 menyatakan, peremajaan tanaman merupakan kunci peningkatan produktivitas perkebunan sawit milik rakyat. Saat ini, kondisi yang dihadapi perkebunan rakyat yakni usia tanaman yang sudah tua serta produktivitas yang sangat rendah. “Kalau kondisi ini dibiarkan terus-menerus maka perkebunan rakyat tak akan mampu mencapai skala nasional,” katanya.

Menurut dia, salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman kelapa sawit rakyat tersebut yakni masih tingginya penggunaan benih palsu atau tidak berkualitas. Berdasarkan hasil survei di wilayah Sumatera, dari perkebunan rakyat yang tanamannya berusia 0-9 tahun cukup tinggi pemakaian benih berkualitasnya. “Dari penelitian tersebut diketahui masyarakat tidak berminat menggunakan benih bermutu karena harga dinilai terlalu mahal. Mereka lebih memilih benih yang murah harganya meskipun mutunya rendah. Replanting akan membantu petani mendapatkan benih kelapa sawit yang berkualitas,” ungkap Darmin.

Investor Daily | Jumat, 3 November 2017