Isu perdagangan sawit menyebabkan persaingan di pasar global semakin ketat

Pemerintah berjanji membangun citra positif minyak sawit dan produk turunannya untuk menghadapi kampanye negatif

NUSA DUA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) optimis produksi minyak sawit dan turunanya tahun 2017 ini bakal tembus 36,5 juta ton. Produksi tersebut naik sekitar 4 juta ton dibandingkan realisasi produksi CPO tahun 2016. Peningkatan produksi CPO dalam negeri ini diharapkan dapat menggenjot kenaikan ekspor CPO ke manca negara.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono optimistis ekspor CPO tahun ini bisa mencapai 30 juta ton atau naik 20% dibandingkan dengan realisasi ekspor CPO sepanjang tahun lalu. Penentuan target ekspor ini telah mempertimbangkan maraknya kampanye negatif terhadap produk CPO dan produk turunannya.

Optimisme ini juga sudah memperhitungkan reaksi sejumlah negara yang menerapkan bea masuk (BM) yang tinggi untuk produk CPO dan turunannya. “Kami menilai, isu perdagangan sawit menyebabkan persaingan di pasar global semakin ketat,” ujar Joko dalam acara lndonesia Palm Oil Conference (IPOC) di Bali Nusa Dua Conference Center, Bali, Kamis (2/11).

Agar produksi minyak sawit dan turunanya dapat meningkat, Gapki mendesak agar pemerintah memperluas pasar ekspor CPO dan turunnya. Pasalnya, hingga kini, pasar ekspor CPO masih terbatas di India, China, Uni Eropa, Amerika Serikat dan Pakistan.

Bangun citra positif

Gapki juga berharap pemerintah menciptakan iklim dan kemudahan berinvestasi dl industri kelapa sawit. Salah satunya melalui penyederhanaan regulasi.

Usulan lainnya adalah pemerintah memperkuat sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO). Joko menambahkan, pengusaha kelapa sawit tetap berkomitmen bekerjasama dengan petani sawit untuk meningkatkan produksi sawit.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah menyadari betul penolakan pasar dunia terhadap produk minyak kelapa sawit dan turunnya. Bahkan pasar dunia secara terang-terangan cenderung menghakimi secara sepihak produk kelapa sawit.

Ia menandaskan, para pengusaha sawit tidak berjalan sendiri. Pemerintah juga terus berupaya mengatasi persoalan ini dengan melakukan perbaikan citra produk CPO dan turunnya di pasar global. Darmin berjanji, pemerintah akan terus rnenjalin kerjasama yang baik dengan semua pihak untuk mengatasi masalah ini, baik pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat.

Bahkan pemerintah tengah mencanangkan tiga kebijakan untuk memperbaiki industri kelapa sawit. Pertama, peremajaan tanaman kelapa sawit. Kedua, percepatan pelaksanaan standar ISPO. Ketiga, menyelesaikan urusan pertanahan kebun kelapa sawit.

Menurutnya, tiga upaya tersebut dapat memperbaiki citra sawit. Dia optimistis Pemerintah bisa mengubah wajah perkebunan sawit Indonesia yang banyak mendapatkan tentangan dan kampanye negatif jika berhasil menjalankan tiga strategi itu. Selain tiga strategi itu, pemerintah telah memperpanjang moratorium ekspansi lahan sawit selama dua tahun ke depan. Tujuannya untuk mendorong perusahaan menerapkan kewajiban kerjasama dengan petani rakyat.

Sisi lain yang dibenahi adaIah transparansi, termasuk posisi stok di industri sawit. Keterbukaan stok akan mempengaruhi harga minyak sawit dan memperbaiki citra sawit Indonesia di mata dunia. Sekjen Kementerian Pertanian Hari Priyono menambahkan, sekarang lahan perkebunan sawit yang telah memperoleh sertifikasi ISPO sekitar 1,8 juta hektar. Lahan tersebut berasal dari 306 unit kebun kelapa sawit. “Kami menargetkan seluruh Perkebunan kelapa sawit dapat tersertifikasi,” katanya.

Kontan | Jumat, 3 November 2017